Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Revolusioner Religion for Justice: Agama sebagai Kesadaran Pembebasan Dari Syariati ke Eko Prasetyo

Revolusioner Religion for Justice: Agama sebagai Kesadaran Pembebasan Dari Syariati ke Eko Prasetyo

  • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
  • visibility 397
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Agama selalu berada pada persimpangan: menjadi kekuatan pembebasan atau menjadi alat domestikasi. Sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa ketika agama turun ke jalan kehidupan sosial, ia dapat mengguncang tatanan yang menindas.

Pandangan ini bukan baru. Ali Syariati, dalam salah satu esainya, mengingatkan: “Agama yang membebaskan adalah agama yang melahirkan manusia yang sadar, bukan manusia yang pasrah.”Bagi Syariati, agama bukan ruang pelarian; ia adalah arena perlawanan. Ketika agama dibajak oleh kekuasaan, ia menjelma menjadi “agama istana” agama yang sibuk mabuk menjaga stabilitas penguasa, bukan martabat rakyat. Itu sebabnya Syariati menyebut agama para nabi sebagai agama revolusi:
agama yang memecahkan belenggu, menolak tirani, dan mengangkat martabat kaum lemah.

Pandangan itu bertemu dengan kritik sosial Eko Prasetyo, terutama dalam Kitab Pembebasan. Eko menulis tegas: “Setiap ajaran yang tak berpihak pada orang kecil hanyalah slogan yang kehilangan nyawa.” Menurut Eko, agama yang tidak menoleh pada kaum miskin dan terpinggirkan hanyalah topeng moral belaka. Banyak institusi keagamaan justru bergerak menjauh dari rakyat menuju kenyamanan kekuasaan lebih sibuk menjaga hubungan politik ketimbang menjaga luka orang kecil.

Keduanya meski dari horizon berbeda bertemu pada satu titik:,agama adalah mandat pembebasan. Agama Tidak Netral: Ia Selalu Memihak Syariati menegaskan bahwa ketidaknetralan adalah inti iman: “Dalam masyarakat yang menindas, menjadi netral sama saja dengan membela penindas.”

Eko Prasetyo menggemakan hal serupa. Dalam analisisnya, diamnya umat ketika ketidakadilan berlangsung bukanlah kesalehan, tetapi pengkhianatan terhadap nilai agama itu sendiri.

Di dalam Imaji Tafsir Progresif Eko prasetyo,menekankan bahwa seluruh kisah kenabian pada dasarnya merupakan dokumentasi perlawanan sosial. Ia membacanya dengan terang:
• Kisah Musa adalah catatan melawan tirani dan penindasan rezim Fir’aun.

• Kisah Syu’aib adalah kritik terhadap mekanisme pasar yang curang, kecurangan timbangan, dan struktur ekonomi yang menipu rakyat kecil.

• Kisah Nabi Isa dibaca Eko sebagai penolakan keras terhadap akumulasi kekayaan dan kemewahan yang meminggirkan rakyat.

• Cerita Ashhabul Kahfi diposisikan sebagai simbol perlawanan kaum muda terhadap rezim lalim yang memburu kebebasan mereka.


Dalam kerangka itu, agama menurut Eko bukanlah dokumen suci yang statis, tetapi: “Kitab gerakan yang harus diamalkan.” Dengan demikian, agama dalam pandangan keduanya adalah energi moral untuk melawan struktur zalim, bukan bergumul dalam ketakutan atau ritual kosong.

Di Zaman Ini, Kita Tidak Butuh Agama yang Lelah,Dua pemikir itu mengajarkan satu hal yang tidak dapat ditawar: agama tidak boleh direduksi menjadi tradisi yang steril dari resistensi.

Agama yang kehilangan keberpihakan akan mudah dibajak oleh negara, dibeli elite, atau berubah menjadi simbol yang kosong. Syariati memperingatkan:
“Musuh terbesar agama bukanlah mereka yang menentangnya, tetapi mereka yang memalsukannya.”

Dan Eko mempertegas dalam konteks Indonesia: “Pembebasan adalah tugas terus-menerus sekali agama berhenti bergerak, ia berubah menjadi monumen yang mati.”

Akhirnya: Agama sebagai Bara Perlawanan Menyandingkan keduanya, sebuah simpulan berdiri kokoh: Agama yang benar adalah agama yang menyala. Agama yang: menolak tunduk pada kekuasaan yang sewenang-wenang,tidak diam ketika rakyat diremukkan, menolak menjadi instrumen legitimasi elite,berdiri dan berpihak pada mereka yang tak punya suara.

Syariati menyebutnya “kesadaran tauhid.” Eko menyebutnya “jalan panjang pembebasan.”Kita menyebutnya satu hal: keadilan. Dan keadilan hanya tumbuh dari agama yang berani,
agama yang bukan hanya bicara tentang surga, tetapi memerangi neraka sosial yang terjadi di bumi.

  • Penulis: Ketua LBH Ansor Maluku Utara Zulfikran Bailussy,SH.
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media
  • Sumber: Zulfikran Bailussy,SH.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mahasiswa Biologi Sains UNUTARA melakukan penelitian ekosistem laut Maluku Utara

    Program Studi Biologi Sains UNUTARA: Momentum Emas Pengembangan Riset dan Konservasi Maluku Utara

    • calendar_month Kamis, 21 Agt 2025
    • account_circle Rosita Tuhuteru (Ketua Himpunan Mahasiswa Sains Biologi)
    • visibility 1.244
    • 0Komentar

    Program Studi Sains di Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) patut disambut dengan antusias. Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, hadirnya program studi ini membuka jalan bagi pengembangan riset dan sumber daya manusia yang memahami keanekaragaman hayati, ekologi, dan potensi alam Maluku Utara yang begitu kaya. Maluku Utara adalah wilayah yang […]

  • Analisis Kemiskinan dalam Perspektif Islam dan Sosiologi

    Kritik Pandangan Islam tentang Kemiskinan: Solusi Nyata & Tanggung Jawab Sosial

    • calendar_month Sabtu, 6 Sep 2025
    • account_circle Fahrul Abd. Muid
    • visibility 1.009
    • 0Komentar

    Pernah terjadi pelaksanaan seminar bertajuk tentang kemiskinan yang ditinjau dari perspektif Islam, yang dihadiri oleh beberapa profesor Islam dalam seminar tersebut. Salah seorang profesor Islam di antara mereka mengemukakan pendapatnya begini: “Problem kemiskinan tidak dapat kita atasi, karena Allah Swt yang mengatur rezeki.” Profesor itu kemudian mengutip ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan sebagai basis argumennya secara […]

  • Sumber Foto: iluvislam.com

    Intelijen di Era Multipolar: Dari Hudzaifah bin al-Yaman hingga Krisis Nurani Global

    • calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
    • account_circle Muhammad
    • visibility 579
    • 0Komentar

    Ketika dunia kembali terbelah dalam persaingan multipolar antara Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan kekuatan regional lain, intelijen menjadi senjata utama yang menentukan arah geopolitik. Namun, di tengah kebisingan algoritma dan operasi rahasia lintas negara. Pada bagian ini ada satu hal yang saya ajukan setidaknya paling  mendasar yaitu moral. Figur Hudzaifah bin al-Yaman, Shahibu Sirri Rasulullah […]

  • HIMAIT Universitas Alma Ata Gelar Aksi Sosial di Panti Asuhan Bantul

    HIMAIT Universitas Alma Ata Gelar Aksi Sosial di Panti Asuhan Bantul

    • calendar_month Minggu, 18 Mei 2025
    • account_circle Arafik Ramli
    • visibility 919
    • 0Komentar

    Yogyakarta, 18 Mei 2025 (balengkospace.com) – Himpunan Mahasiswa Indonesia Timur (HIMAIT) Universitas Alma Ata kembali menunjukkan kepeduliannya lewat aksi sosial di Panti Asuhan Mustika Tama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 17 Mei 2025, pukul 15.30 hingga 20.00 WIB, mengusung tema “Satu Tindakan Kecil yang Melahirkan Cinta dan Merangkai Kebersamaan.” Kegiatan dimulai […]

  • Kadis Parpora Halbar klarifikasi anggaran FTJ dan tekankan dampak nyata Festival Teluk Jailolo bagi PAD serta ekonomi masyarakat Halmahera Barat

    Kadis Parpora Halbar Klarifikasi Isu Anggaran FTJ, Tekankan Dampak Nyata bagi Halmahera Barat

    • calendar_month Jumat, 19 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 572
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Halmahera Barat (19/9) – Kepala Dinas Pariwisata Halmahera Barat, Fenny Kiat, menegaskan isu yang menyebut Festival Teluk Jailolo (FTJ) menelan anggaran Rp5 miliar tidak benar. Ia menjelaskan anggaran untuk FTJ justru terbatas, sehingga pihaknya mengandalkan kolaborasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), komunitas, dan berbagai stakeholder. “FTJ selalu masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) […]

  • Source : Istimewa

    PERKADERAN HMI SEBAGAI LABORATORIUM INTELEKTUAL DANGAGASAN KEBANGSAAN

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Madarudin Lapandewa
    • visibility 633
    • 0Komentar

    Himpunan Mahasiswa Islam yang prakarsai oleh Ayah Handa Lafran Pane pada tanggal 5 Februari Tahun 1947 bertepatan di Sekolah Tinggi Islam (STI) di ruang mata kuliah ilmu Tafsir dengan tujuan pertama mempertahankan NKRI dan Mempertinggi derajat rakyat Indonesia, kedua Menegakkan serta mengembangkan ajaran Islam. Kedua tujuan ini sebagai dasar moral pijakan perkaderan yang harus di […]

expand_less