Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Revolusioner Religion for Justice: Agama sebagai Kesadaran Pembebasan Dari Syariati ke Eko Prasetyo

Revolusioner Religion for Justice: Agama sebagai Kesadaran Pembebasan Dari Syariati ke Eko Prasetyo

  • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
  • visibility 359
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Agama selalu berada pada persimpangan: menjadi kekuatan pembebasan atau menjadi alat domestikasi. Sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa ketika agama turun ke jalan kehidupan sosial, ia dapat mengguncang tatanan yang menindas.

Pandangan ini bukan baru. Ali Syariati, dalam salah satu esainya, mengingatkan: “Agama yang membebaskan adalah agama yang melahirkan manusia yang sadar, bukan manusia yang pasrah.”Bagi Syariati, agama bukan ruang pelarian; ia adalah arena perlawanan. Ketika agama dibajak oleh kekuasaan, ia menjelma menjadi “agama istana” agama yang sibuk mabuk menjaga stabilitas penguasa, bukan martabat rakyat. Itu sebabnya Syariati menyebut agama para nabi sebagai agama revolusi:
agama yang memecahkan belenggu, menolak tirani, dan mengangkat martabat kaum lemah.

Pandangan itu bertemu dengan kritik sosial Eko Prasetyo, terutama dalam Kitab Pembebasan. Eko menulis tegas: “Setiap ajaran yang tak berpihak pada orang kecil hanyalah slogan yang kehilangan nyawa.” Menurut Eko, agama yang tidak menoleh pada kaum miskin dan terpinggirkan hanyalah topeng moral belaka. Banyak institusi keagamaan justru bergerak menjauh dari rakyat menuju kenyamanan kekuasaan lebih sibuk menjaga hubungan politik ketimbang menjaga luka orang kecil.

Keduanya meski dari horizon berbeda bertemu pada satu titik:,agama adalah mandat pembebasan. Agama Tidak Netral: Ia Selalu Memihak Syariati menegaskan bahwa ketidaknetralan adalah inti iman: “Dalam masyarakat yang menindas, menjadi netral sama saja dengan membela penindas.”

Eko Prasetyo menggemakan hal serupa. Dalam analisisnya, diamnya umat ketika ketidakadilan berlangsung bukanlah kesalehan, tetapi pengkhianatan terhadap nilai agama itu sendiri.

Di dalam Imaji Tafsir Progresif Eko prasetyo,menekankan bahwa seluruh kisah kenabian pada dasarnya merupakan dokumentasi perlawanan sosial. Ia membacanya dengan terang:
• Kisah Musa adalah catatan melawan tirani dan penindasan rezim Fir’aun.

• Kisah Syu’aib adalah kritik terhadap mekanisme pasar yang curang, kecurangan timbangan, dan struktur ekonomi yang menipu rakyat kecil.

• Kisah Nabi Isa dibaca Eko sebagai penolakan keras terhadap akumulasi kekayaan dan kemewahan yang meminggirkan rakyat.

• Cerita Ashhabul Kahfi diposisikan sebagai simbol perlawanan kaum muda terhadap rezim lalim yang memburu kebebasan mereka.

Dalam kerangka itu, agama menurut Eko bukanlah dokumen suci yang statis, tetapi: “Kitab gerakan yang harus diamalkan.” Dengan demikian, agama dalam pandangan keduanya adalah energi moral untuk melawan struktur zalim, bukan bergumul dalam ketakutan atau ritual kosong.

Di Zaman Ini, Kita Tidak Butuh Agama yang Lelah,Dua pemikir itu mengajarkan satu hal yang tidak dapat ditawar: agama tidak boleh direduksi menjadi tradisi yang steril dari resistensi.

Agama yang kehilangan keberpihakan akan mudah dibajak oleh negara, dibeli elite, atau berubah menjadi simbol yang kosong. Syariati memperingatkan:
“Musuh terbesar agama bukanlah mereka yang menentangnya, tetapi mereka yang memalsukannya.”

Dan Eko mempertegas dalam konteks Indonesia: “Pembebasan adalah tugas terus-menerus sekali agama berhenti bergerak, ia berubah menjadi monumen yang mati.”

Akhirnya: Agama sebagai Bara Perlawanan Menyandingkan keduanya, sebuah simpulan berdiri kokoh: Agama yang benar adalah agama yang menyala. Agama yang: menolak tunduk pada kekuasaan yang sewenang-wenang,tidak diam ketika rakyat diremukkan, menolak menjadi instrumen legitimasi elite,berdiri dan berpihak pada mereka yang tak punya suara.

Syariati menyebutnya “kesadaran tauhid.” Eko menyebutnya “jalan panjang pembebasan.”Kita menyebutnya satu hal: keadilan. Dan keadilan hanya tumbuh dari agama yang berani,
agama yang bukan hanya bicara tentang surga, tetapi memerangi neraka sosial yang terjadi di bumi.

  • Penulis: Ketua LBH Ansor Maluku Utara Zulfikran Bailussy,SH.
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media
  • Sumber: Zulfikran Bailussy,SH.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tarian soya-soya Maluku Utara ditampilkan di event JKPI Yogyakarta oleh mahasiswa dan pelajar

    Tarian Soya-Soya Maluku Utara Tampil di Event JKPI Yogyakarta 2025

    • calendar_month Kamis, 7 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.530
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Yogyakarta, 7 Agustus 2025 — Kota Yogyakarta menjadi pusat perayaan budaya dalam ajang Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang digelar sejak 5 hingga 9 Agustus 2025. Bertempat di kawasan titik nol kilometer, acara ini menyedot perhatian masyarakat lokal, wisatawan domestik, hingga mancanegara. JKPI 2025 menampilkan parade budaya dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk […]

  • Menghidupkan Suara yang Diam: Perjalanan Tantri Atmodjo Menulis Buku Ruang Gelap di Dalam Diri

    Menghidupkan Suara yang Diam: Perjalanan Tantri Atmodjo Menulis Buku Ruang Gelap di Dalam Diri

    • calendar_month Sabtu, 24 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 539
    • 0Komentar

    Di balik rutinitas sebagai mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Tantri Atmodjo menyimpan sebuah misi sunyi namun bermakna: menulis buku yang bisa menyentuh hati banyak orang, terutama perempuan. Besar di Ternate, Maluku Utara, Tantri kini tengah menulis buku self-improvement berjudul Ruang Gelap di Dalam Diri. Sebuah karya yang bukan hanya menawarkan kisah, tetapi juga keberanian untuk […]

  • Anak-anak panti mengikuti lomba menghias tumpeng HUT RI ke-80 di Ternate

    Lomba Menghias Tumpeng Meriahkan HUT RI ke-80 di Panti Sosial Ternate

    • calendar_month Sabtu, 16 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 583
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE – Ternate, Dinas Sosial Provinsi Maluku Utara bersama Panti Sosial Anak Asuh (PSAA) Budi Sentosa dan Rumah Sejahtera Ternate menggelar Lomba Menghias Tumpeng dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-80. Kegiatan ini berlangsung di halaman panti pada Rabu (13/8/2025) sebagai bagian dari Pekan Kreasi dan Seni Anak Gembira (PAKESANG) 2025. Ketua TP PKK […]

  • Debat Hukum USHP Janabadra 2026 sukses digelar. UMY raih juara 1 dalam kompetisi bertema kedaulatan masyarakat adat vs korporasi. Simak selengkapnya!

    Debat Hukum USHP Janabadra 2026: Mengupas Kedaulatan Masyarakat Adat di Tengah Arus Investasi

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Takdir (Hakim Ketua Unit Study Hukum Perdata FH JANABDRA)
    • visibility 265
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA, BALENGKO SPACE – Unit Studi Hukum Perdata (USHP) Universitas Janabadra (UJB) sukses menyelenggarakan Civil Law Debate Competition (CLDC) atau Debat Hukum USHP Janabadra 2026. Kegiatan bergengsi ini mengusung tema kritis: “Negara, Korporasi, dan Kedaulatan Masyarakat Adat dalam Pusaran Kepentingan.” Bertempat di Yogyakarta pada Rabu (29/4/2026), kompetisi ini diikuti oleh berbagai universitas ternama di wilayah […]

  • Toko Jayms Bersama Mahasiswa Ternate Wujudkan Kebaikan Ramadhan Lewat Pembagian Sendal Gratis

    Toko Jayms Bersama Mahasiswa Ternate Wujudkan Kebaikan Ramadhan Lewat Pembagian Sendal Gratis

    • calendar_month Minggu, 30 Mar 2025
    • account_circle Muzsta
    • visibility 528
    • 0Komentar

    Ternate, Sabtu, (29/3/25), Sebagai bagian dari kepedulian sosial dan semangat berbagi di bulan suci Ramadhan, mahasiswa asal Kota Ternate yang sedang melanjutkan studi di berbagai daerah di Pulau Jawa dan Sulawesi menggelar kegiatan sosial bertajuk “Berbagi Kebaikan” berupa pembagian sendal gratis kepada masyarakat Ternate. Kegiatan ini dilakukan melalui kolaborasi dengan Toko Jayms, sebuah toko yang […]

  • Penampakan fisik bangunan LabKesmas Pulau Morotai yang sedang dalam masa adendum. Kepala Dinas Kesehatan memastikan tetap mengedepankan profesionalitas dan standarisasi material meskipun pekerjaan mengalami keterlambatan dari jadwal semula. (Sumber Foto: Istimewa)

    Dinkes Morotai Buka Suara Soal Keterlambatan Proyek LabKesmas, Sebut Kendala Cuaca hingga Mutu Material

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Muzijad Mandea
    • visibility 1.076
    • 0Komentar

    DARUBA (BALENGKO) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pulau Morotai memberikan klarifikasi resmi terkait sorotan publik mengenai lambannya progres pembangunan proyek Laboratorium Kesehatan Masyarakat (LabKesmas). Pihak dinas menegaskan bahwa sejumlah kendala teknis dan alam menjadi faktor utama terhambatnya pekerjaan di lapangan. Kepala Dinas Kesehatan Pulau Morotai, dr. Diana Pinangkaa, menyatakan bahwa pihaknya terus berupaya maksimal agar […]

expand_less