Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Ramadhan dan Luka Demokrasi: Ketika Suara Kritis Dianggap Ancaman

Ramadhan dan Luka Demokrasi: Ketika Suara Kritis Dianggap Ancaman

  • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
  • visibility 339
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Di bulan Ramadhan yang mulia ini, semoga segala dosa—yang kita sadari maupun yang luput dari kesadaran kita—mendapat ampunan dari kasih sayang Allah SWT. Dari suasana perenungan inilah saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan yang lahir dari kegelisahan atas ketertindasan umat dan manusia di bangsa Indonesia.

Pertanyaan ini menyentuh akar hingga pucuk dari bunga-bunga kebangsaan yang selama ini kita banggakan. Ia membawa kita pada persoalan yang lebih dalam: hubungan antara negara, kekuasaan, dan masyarakat sipil.

Lalu muncul satu pertanyaan yang tak bisa kita hindari: mengapa di pucuk kekuasaan bangsa Indonesia sering tampak kegelisahan ketika rakyatnya menjadi aktivis? Mengapa suara kritis yang lahir dari kepedulian terhadap bangsa justru kerap dipandang sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari kehidupan demokrasi?

Peristiwa seperti ini sesungguhnya bukan hal baru. Sejak zaman kolonial hingga ketika kolonialisme itu berganti wajah menjadi negara modern, media pers dan diskusi-diskusi kritis kerap diperlakukan sebagai ancaman. Padahal seharusnya di sanalah ruang bagi bangsa ini untuk menempuh kesadaran bersama—ruang untuk menguji kekuasaan, memperbaiki kesalahan, dan menjaga agar negara tidak menjauh dari rakyatnya.

Dalam tumpukan sejarah yang begitu luas, kita dapat melihat bagaimana kejahatan kekuasaan berulang dari zaman ke zaman. Polanya sering kali sama: aturan dibuat untuk mengendalikan, sementara suara kritis berusaha dibungkam. Misalnya dalam tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, khususnya novel Rumah Kaca. Di sana digambarkan seorang aparat kepolisian kolonial bernama Pangemanann, yang ditugaskan untuk mengawasi dan menekan gerakan serta tulisan-tulisan Minke. Tulisan dan gagasan dianggap lebih berbahaya daripada senjata, karena mampu membangunkan kesadaran rakyat.

Dan kini, peristiwa serupa seolah kembali terjadi. Saudaraku Andrie Yunus disiram air keras seusai melakukan perekaman siniar (podcast) bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia di Jakarta. Peristiwa ini mengingatkan kita pada kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan pada 11 April 2017, ketika ia masih menjabat sebagai penyidik senior di Komisi Pemberantasan Korupsi.

Dari dua peristiwa ini, kita kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama: mengapa suara yang berusaha membela keadilan justru sering kali berhadapan dengan kekerasan? Apakah kritik terhadap kekuasaan masih dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari usaha bersama untuk menjaga keadilan dan kemanusiaan di negeri ini?

Sungguh, dari kejadian-kejadian ini kita dapat menilai bahwa pucuk kekuasaan sering kali tumbuh kaku dalam menjalankan demokrasi. Di saat bangsa ini berada dalam bulan Ramadhan—bulan yang seharusnya dipenuhi keberkahan, kasih sayang, dan persaudaraan—arah kehidupan bernegara justru kadang bergerak menuju penindasan terhadap kemanusiaan.

Cobalah kita pikirkan kembali: barangkali akar itu sengaja dipotong, agar bunga demokrasi yang tumbuh dari tanah pengetahuan yang kritis tak sempat mekar di negeri ini. Pada titik inilah kita patut bertanya dengan jujur: jangan-jangan kekuasaan telah gagal merawat bunga demokrasi yang harum—bunga yang seharusnya tumbuh dari kesadaran rakyatnya sendiri.

  • Penulis: Gilang Moenawar
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda bersama Wakil Gubernur KH. Sarbin Sehe menyerahkan secara simbolis hibah satu unit bus dari Kementerian Perhubungan RI kepada Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara, Dr. M. Nasir Tamalene, di Sofifi, Rabu (24/12/2025). foto : Istimewa

    Gubernur Maluku Utara Serahkan Hibah Bus Kemenhub ke UNUTARA Maluku Utara

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.260
    • 0Komentar

    Sofifi (BALENGKO) – Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) resmi menerima bantuan hibah satu unit bus dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Penyerahan bantuan berlangsung pada Rabu (24/12/2025) pukul 16.00 Waktu Galala–Sofifi, Ibu Kota Provinsi Maluku Utara. Hibah bus tersebut diserahkan secara langsung oleh Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, bersama Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin […]

  • Ilustrasi forum rapat evaluasi kebijakan publik.

    Soroti Kritikan Fraksi PDIP Sulteng terhadap Program ‘Berani Cerdas’, Mahasiswa Hukum UGM: DPRD Bukan Tempat Asal Bicara

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 211
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA, BALENGKO SPACE – Pernyataan anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sulawesi Tengah, Suryanto, dalam forum Pansus LKPJ APBD 2025 memicu reaksi dari kalangan akademisi. M. Reza Nanga, mahasiswa Magister Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) asal Sulawesi Tengah (Sulteng), menilai kritik yang meminta Gubernur menunda program “Berani Cerdas” tersebut harus didasari pada evaluasi yang terukur, bukan […]

  • Mahasiswa baru UNJAYA mengikuti Sapa Achmad Yani Muda 2025.

    BEM UNJAYA 2025 Gelar Sapa Achmad Yani Muda dan UKM Fair Sambut Mahasiswa Baru

    • calendar_month Senin, 15 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 712
    • 0Komentar

    BEM UNJAYA 2025 menggelar Sapa Achmad Yani Muda dan UKM Fair 2025 di Yogyakarta, Senin (8/9). Agenda ini menyambut mahasiswa baru dan memperkenalkan semangat perjuangan Jenderal Achmad Yani. Presiden Mahasiswa UNJAYA 2025, Faturahman Djaguna, menyampaikan orasi di depan mahasiswa baru. Ia menegaskan bahwa mahasiswa UNJAYA harus memegang teguh spirit perjuangan Jenderal Achmad Yani. “Musuh kita […]

  • Pendiri HIMAIT Universitas Alma Ata sekaligus Pengurus Pusat HIPNU, Muh. Rizki Mohtar, S.Kep (kanan), berfoto bersama Ketua LKNU PBNU masa khidmah 2022-2027, Dr. dr. M. Zulfikar As’ad, MMR (kiri), dalam rangkaian pelantikan pengurus Himpunan Perawat Nahdlatul Ulama (HIPNU) di Semarang pada tahun 2023. LKNU merupakan lembaga yang fokus pada penanganan kesehatan dan perlindungan sosial bagi warga Nahdliyin serta lingkungan pesantren. Sumber: Istimewa

    Keperawatan Universitas Alma Ata Raih Akreditasi Unggul, HIMAIT: Harapan Baru bagi Indonesia Timur

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 247
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA (BALENGKO) – Pencapaian akreditasi Unggul yang diraih Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners Universitas Alma Ata mendapat respons positif dari berbagai pihak, salah satunya dari Muh. Rizki Mohtar, S.Kep, Pencapaian ini disambut positif sebagai momentum emas bagi pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan, khususnya bagi mahasiswa asal wilayah Indonesia Timur. Angin […]

  • “Seorang pria berdiri sambil memegang buku di depan rak buku, dengan pencahayaan hangat yang menyoroti suasana ruang belajar.

    Revolusioner Religion for Justice: Agama sebagai Kesadaran Pembebasan Dari Syariati ke Eko Prasetyo

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle Ketua LBH Ansor Maluku Utara Zulfikran Bailussy,SH.
    • visibility 336
    • 0Komentar

    Agama selalu berada pada persimpangan: menjadi kekuatan pembebasan atau menjadi alat domestikasi. Sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa ketika agama turun ke jalan kehidupan sosial, ia dapat mengguncang tatanan yang menindas. Pandangan ini bukan baru. Ali Syariati, dalam salah satu esainya, mengingatkan: “Agama yang membebaskan adalah agama yang melahirkan manusia yang sadar, bukan manusia yang pasrah.”Bagi Syariati, […]

  • Tali bukan Solusi: Balengko Space Ajak Generasi Muda Pahami Isu Bunuh Diri

    Tali bukan Solusi: Balengko Space Ajak Generasi Muda Pahami Isu Bunuh Diri

    • calendar_month Sabtu, 8 Feb 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 652
    • 0Komentar

    Sumber Foto : Istimewa Ternate, Sabtu, (8/2/25) – Balengko Space sukses mengadakan workshop bertajuk “Tali Bukan Solusi dari Permasalahan yang Kamu Hadapi” yang membahas fenomena bunuh diri di Kota Ternate dari perspektif Psikologi dan Agama. Acara ini berlangsung di Only Six Coffee pada Sabtu, (8/2/25), pukul 16.00 WIT – 17.30 WIT, dengan sasaran utama mahasiswa […]

expand_less