Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Ramadhan dan Luka Demokrasi: Ketika Suara Kritis Dianggap Ancaman

Ramadhan dan Luka Demokrasi: Ketika Suara Kritis Dianggap Ancaman

  • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
  • visibility 410
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Di bulan Ramadhan yang mulia ini, semoga segala dosa—yang kita sadari maupun yang luput dari kesadaran kita—mendapat ampunan dari kasih sayang Allah SWT. Dari suasana perenungan inilah saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan yang lahir dari kegelisahan atas ketertindasan umat dan manusia di bangsa Indonesia.

Pertanyaan ini menyentuh akar hingga pucuk dari bunga-bunga kebangsaan yang selama ini kita banggakan. Ia membawa kita pada persoalan yang lebih dalam: hubungan antara negara, kekuasaan, dan masyarakat sipil.

Lalu muncul satu pertanyaan yang tak bisa kita hindari: mengapa di pucuk kekuasaan bangsa Indonesia sering tampak kegelisahan ketika rakyatnya menjadi aktivis? Mengapa suara kritis yang lahir dari kepedulian terhadap bangsa justru kerap dipandang sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari kehidupan demokrasi?

Peristiwa seperti ini sesungguhnya bukan hal baru. Sejak zaman kolonial hingga ketika kolonialisme itu berganti wajah menjadi negara modern, media pers dan diskusi-diskusi kritis kerap diperlakukan sebagai ancaman. Padahal seharusnya di sanalah ruang bagi bangsa ini untuk menempuh kesadaran bersama—ruang untuk menguji kekuasaan, memperbaiki kesalahan, dan menjaga agar negara tidak menjauh dari rakyatnya.

Dalam tumpukan sejarah yang begitu luas, kita dapat melihat bagaimana kejahatan kekuasaan berulang dari zaman ke zaman. Polanya sering kali sama: aturan dibuat untuk mengendalikan, sementara suara kritis berusaha dibungkam. Misalnya dalam tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, khususnya novel Rumah Kaca. Di sana digambarkan seorang aparat kepolisian kolonial bernama Pangemanann, yang ditugaskan untuk mengawasi dan menekan gerakan serta tulisan-tulisan Minke. Tulisan dan gagasan dianggap lebih berbahaya daripada senjata, karena mampu membangunkan kesadaran rakyat.

Dan kini, peristiwa serupa seolah kembali terjadi. Saudaraku Andrie Yunus disiram air keras seusai melakukan perekaman siniar (podcast) bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia di Jakarta. Peristiwa ini mengingatkan kita pada kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan pada 11 April 2017, ketika ia masih menjabat sebagai penyidik senior di Komisi Pemberantasan Korupsi.

Dari dua peristiwa ini, kita kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama: mengapa suara yang berusaha membela keadilan justru sering kali berhadapan dengan kekerasan? Apakah kritik terhadap kekuasaan masih dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari usaha bersama untuk menjaga keadilan dan kemanusiaan di negeri ini?

Sungguh, dari kejadian-kejadian ini kita dapat menilai bahwa pucuk kekuasaan sering kali tumbuh kaku dalam menjalankan demokrasi. Di saat bangsa ini berada dalam bulan Ramadhan—bulan yang seharusnya dipenuhi keberkahan, kasih sayang, dan persaudaraan—arah kehidupan bernegara justru kadang bergerak menuju penindasan terhadap kemanusiaan.

Cobalah kita pikirkan kembali: barangkali akar itu sengaja dipotong, agar bunga demokrasi yang tumbuh dari tanah pengetahuan yang kritis tak sempat mekar di negeri ini. Pada titik inilah kita patut bertanya dengan jujur: jangan-jangan kekuasaan telah gagal merawat bunga demokrasi yang harum—bunga yang seharusnya tumbuh dari kesadaran rakyatnya sendiri.

  • Penulis: Gilang Moenawar
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Potret resmi Sherly Tjoanda Laos, Gubernur Maluku Utara, tersenyum

    Gubernur Sherly Tjoanda Laos Ulang Tahun ke-43: Menyingkap Karakter Leo

    • calendar_month Selasa, 12 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.370
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Hari ini, 12 Agustus, Sherly Tjoanda Laos, Gubernur Maluku Utara, merayakan ulang tahun ke-43. Sebagai pemimpin perempuan pertama di provinsi ini, Sherly Tjoanda Laos telah mencetak sejarah. Menariknya, tanggal kelahirannya, 12 Agustus, menempatkannya di bawah naungan zodiak Leo. Karakteristik khas zodiak ini ternyata sangat relevan dengan peran dan perjalanan kepemimpinannya. Sifat Kepemimpinan Alami […]

  • Wagub KH. Sarbin Sehe meninjau peserta kafilah Maluku Utara di STQ Nasional Sulawesi Tenggara 2025

    Tinjau Kafilah Malut di STQ Nasional, Wagub Sarbin Sehe Tekankan Dukungan dan Semangat Juara

    • calendar_month Sabtu, 11 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 570
    • 0Komentar

    Kendari (BALENGKO), 11 Oktober 2025 – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku Utara yang diwakili oleh Wakil Gubernur KH. Sarbin Sehe beserta jajaran, meninjau langsung kehadiran para peserta dari kontingen kafilah Maluku Utara pada ajang Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) Tingkat Nasional di Sulawesi Tenggara. Kunjungan tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan moril pemerintah daerah kepada para pembina dan […]

  • Pendampingan Hukum Dipersoalkan, LBH Ansor Sampaikan Keberatan ke Kejari Sanana

    Pendampingan Hukum Dipersoalkan, LBH Ansor Sampaikan Keberatan ke Kejari Sanana

    • calendar_month Sabtu, 19 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.354
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com, Sanana, 19 Juli 2025 — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Wilayah Maluku, Maluku Utara, Bali, dan Nusa Tenggara menyampaikan keberatan atas tindakan Kejaksaan Negeri Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, yang dinilai membatasi hak pendampingan hukum terhadap seorang warga dalam proses pemeriksaan. Koordinator Wilayah LBH Ansor, Dr. (cand) Al Walid Muhammad, S.H., M.H.Li, menyebutkan bahwa pihaknya […]

  • Seleksi Ketat Sejak Februari, Inilah Para Juara Duta Bahasa Maluku Utara 2025

    Seleksi Ketat Sejak Februari, Inilah Para Juara Duta Bahasa Maluku Utara 2025

    • calendar_month Sabtu, 21 Jun 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.124
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com, Ternate – Suasana meriah mewarnai malam puncak pemilihan Duta Bahasa Provinsi Maluku Utara tahun 2025 yang digelar di Ballroom Hotel Bela Ternate, Jumat malam (20/6/2025). Acara ini menjadi penutup dari rangkaian panjang seleksi yang dimulai sejak Februari lalu. Hadir dalam kegiatan ini sejumlah pejabat penting, antara lain Kepala Dinas Pariwisata Maluku Utara, Kepala Balai […]

  • Wakil Gubernur Maluku Utara KH. Sarbin Sehe memimpin upacara penurunan bendera HUT RI ke-80 di Sofifi

    Suasana Penuh Nasionalisme, Wagub Maluku Utara Pimpin Penurunan Bendera di Sofifi

    • calendar_month Minggu, 17 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 602
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE – SOFIFI, Minggu (17/8/2025) – Wakil Gubernur Maluku Utara KH. Sarbin Sehe memimpin langsung upacara penurunan bendera dalam rangka peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia. Prosesi berlangsung di halaman Kantor Gubernur Sofifi pukul 17.30 WIT dengan suasana khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Forkopimda dan Ketua DPRD Provinsi Maluku Utara hadir mendampingi jalannya upacara.  Kehadiran […]

  • Sumber foto : (instagram.com/Pandji.pragiwaksono) Play Button

    LBH Ansor Maluku Utara Nilai Pelaporan Materi Stand Up Comedy Pandji Berlebihan

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 666
    • 0Komentar

    Ternate (BALENGKO) — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Maluku Utara menilai pelaporan terhadap materi stand up comedy Pandji Pragiwaksono dalam acara Mens Rea sebagai bentuk reaksi yang berlebihan dan tidak proporsional. Menurut LBH Ansor, langkah tersebut berpotensi mengaburkan fungsi kritik sosial dalam ruang demokrasi. Ketua LBH Ansor Maluku Utara menyampaikan bahwa stand up comedy merupakan […]

expand_less