Gurita ‘Bohir’ di Urat Nadi Demokrasi: Investasi Politik atau Perampokan APBN?
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 74
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN FUAD & Ketua Forum Keberagaman Nusantara Malut. Source : Istimewa
Di Indonesia, kita biasa mengenal istilah ini dengan ungkapan ‘Bohir’ yang berarti ‘pemilik modal’. Dalam bahasa aslinya—Belanda, bouwheer berarti “kontraktor”, berasal dari bouwen—membangun, dan heer—tuan. Dalam bahasa Indonesia, khususnya percakapan politik sehari-hari, istilah ‘Bohir’ ini merujuk pada pemberi modal politik. Umumnya istilah ini digunakan secara negatif. Maka yang dimaksud dengan ‘Bohir’ adalah rentenir politik yang “miminjamkan” uangnya ke calon-calon yang akan berkontestan—berlaga-laga dalam proses pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah di Indonesia.
Begitu vitalnya peran para ‘Bohir’, banyak orang yang percaya kepada kekuatan makhluk ‘Bohir’ ini adalah sebagai kunci penentu kememangan pasangan calon dalam pemilihan. Pasangan calon kepala daerah yang tak punya ‘Bohir’ yang mendanainya dipastikan akan mengalami kesulitan dan kesengsaraan—bahkan dapat mengalami kekalahan yang menyakitkan. Jika pasangan calon bisa memenangkan pertarungan politik dalam pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah—Gubernur—Bupati—Walikota tanpa didanai oleh para ‘Bohir’, maka itu adalah mukjizat, dan tidak mungkin mukjizat itu berlaku pada dirinya sebagai manusia biasa. Karena mukjizat itu hanya berlaku khusus pada diri para Nabi dan Rasul sebagai manusia pilihan Allah Swt—Tuhan Yang Maha Kuasa. Artinya, jika pasangan calon hendak menang dalam pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah dengan jalan harus didanai oleh para ‘Bohir’, maka pasangan calon itu harus didanai oleh para ‘Bohir’ itu. Kenapa? Karena calon-calon itu tidak kuat modal ekonominya—dia moco model gunung gamalama karena tidak sanggup untuk membiayai ongkos politiknya sendiri—tidak sanggup berdiri di atas kakinya sendiri, melainkan harus berdiri dengan memakai kaki para ‘Bohir’ itu. Wallahu ‘alam bishshawab.
- Penulis: Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN FUAD & Ketua Forum Keberagaman Nusantara Malut
- Editor: Redaksi

Saat ini belum ada komentar