Gurita ‘Bohir’ di Urat Nadi Demokrasi: Investasi Politik atau Perampokan APBN?
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 72
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN FUAD & Ketua Forum Keberagaman Nusantara Malut. Source : Istimewa
Hal ini sangat memungkinkan agar siapa saja pasangan calon yang menang dalam proses pemilihan itu, maka ‘Bohir’ itu pasti aman juga. Tapi, pertanyaannya, apakah para ‘Bohir’ itu memiliki kekuatan untuk mengendalikan kekuatan partai politik? Maka dapat dipahami bahwa tidak ada satu pun makhluk ‘Bohir’ itu yang bodoh untuk menanamkan investasi politiknya hanya ke satu partai politik saja atau hanya satu pasangan calon saja. Tapi, sesungguhnya para ‘Bohir’ itu pasti menanamkan investasi politiknya pada koalisi partai politik lainnya—mereka tersebar pada semua pasangan calon. Akibatnya, jika pasangan calon itu, telah menang dalam proses pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah, karena memang ‘bohir’-nya banyak yang berinvestasi maka tidak ada satu ‘Bohir’ pun yang merasa mendominasi pasangan calon yang ditetapkan oleh KPU sebagai pemenangnya.
Faktanya, para pasangan calon itu sangat membuka diri—open up kepada para ‘Bohir’ untuk meletakkan telurnya. Dan, memang jarang kita temukan adanya pasangan calon dalam proses pemilihan kepala daerah di Indonesia, hanya di dominasi oleh satu orang ‘Bohir’ yang menanamkan invetasi tunggal atasnya. Kecuali memang ada pasangan calon atau partai politik yang ‘nekat miskin’ hanya menggantungkan nasib politiknya pada satu ‘Bohir’ saja—tidak mau menerima invetasi politik yang banyak dari para ‘Bohir’, dan ini jarang sekali terjadi di Indonesia. Tapi, justru kebalikannya pasangan calon itu pasti didominasi oleh banyak ‘Bohir’ yang menanamkan investasi politiknya. Maka, secara otomatis setiap pasangan calon yang menang itu sudah tersandera oleh para ‘Bohir’—pemilik modal politik. Karena, yang namanya makhluk ‘Bohir’ itu dalam otaknya hanya mencari keuntungan saja dengan lahan bisnisnya. Dan, pastinya si ‘Bohir’ ini tidak mau mengalami kerugiaan—nekat miskin saat mengeluarkan dananya. Karena dalam politik si ‘Bohir’ jangan sampai salah dalam meletakkan investasinya hanya tertuju kepada satu pasangan calon yang pada akhirnya kalah. Inilah potret demokrasi kita di Indonesia yang sangat mahal pembiayaannya. Maka, solusinya adalah dengan memperjuangkan politik gagasan—jihad siyaasah al-afkaariyyah ditengah masyarakat pemilih.
- Penulis: Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN FUAD & Ketua Forum Keberagaman Nusantara Malut
- Editor: Redaksi

Saat ini belum ada komentar