Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Hari Guru Nasional: Pujian dan Derita yang Tak Pernah Selesai Diucapkan

Hari Guru Nasional: Pujian dan Derita yang Tak Pernah Selesai Diucapkan

  • calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
  • visibility 424
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Hari Guru Nasional selalu datang dengan suasana penuh penghormatan. Media sosial ramai, sekolah menggelar upacara, siswa membacakan puisi, dan berbagai instansi berlomba-lomba mengucapkan terima kasih kepada “pahlawan tanpa tanda jasa”.

Semua terlihat indah setidaknya di permukaan. Namun, di balik panggung pujian itu, ada cerita lain yang tak pernah muncul dalam seremoni, lelahnya guru, rendahnya kesejahteraan, dan tekanan kerja yang semakin menumpuk. Opini ini mencoba membacanya dengan pendekatan ilmiah, sederhana, dan dekat dengan kehidupan nyata.

Secara konsep, posisi guru memang ditempatkan pada strata yang terhormat. Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 secara eksplisit menyebut guru sebagai “pendidik profesional” yang memikul tugas kompleks: mengajar, membimbing, hingga mengevaluasi peserta didik.

Bahkan dalam falsafah Ki Hadjar Dewantara, guru digambarkan sebagai sosok yang menjiwai perkembangan murid. Prinsip terkenalnya, “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani,” hingga kini masih menjadi pondasi etik dalam dunia pendidikan.

Tetapi, posisi terhormat di dalam teks hukum dan filosofi tidak selalu berbanding lurus dengan realitas keseharian guru di lapangan. Inilah titik ketegangan utama antara narasi dan fakta. Perayaan Hari Guru sering seperti panggung yang terang benderang, sementara realita profesi guru justru berjalan di ruang yang remang.

Mari melihat data. Indonesia memiliki lebih dari 3 juta guru (Kemendikbudristek), namun distribusinya timpang. Kota besar dipenuhi tenaga pendidik, sementara daerah 3T terus kekurangan. Masalah ini bukan hanya soal jumlah, tetapi juga soal kompetensi dan pengakuan kerja.

Guru honorer misalnya, masih menghadapi persoalan kesejahteraan yang kronis. Banyak yang menerima gaji jauh di bawah upah layak. Beberapa laporan daerah menyebut angka Rp300.000–Rp700.000 per bulan. Itu pun kadang telat cair.

Kondisi seperti ini membuat ucapan “pahlawan tanpa tanda jasa” terdengar seperti penghormatan yang tanpa komitmen. Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pernah menyampaikan kritik tajam: “Kita terlalu sering memuja guru secara retoris, tetapi tidak cukup memperjuangkan hak-hak mereka.” Dan memang, kenyataannya masih begitu.

Selain soal gaji, beban administrasi menjadi momok baru bagi para guru. Alih-alih fokus mengajar, banyak dari mereka menghabiskan waktu menuntaskan laporan digital, mengisi platform pembelajaran yang terus berubah, dan mematuhi prosedur birokrasi yang rumit.

UNESCO dalam Global Education Monitoring Report menyoroti masalah serupa secara global, dengan menegaskan bahwa “teachers are overburdened with administrative tasks at the expense of teaching time.” Jika fenomena ini berlaku di negara-negara maju, bayangkan bagaimana dampaknya di wilayah dengan infrastruktur tidak merata seperti sebagian wilayah Indonesia.

Untuk guru yang mengajar di daerah terpencil, tantangannya berlipat tiga. Infrastruktur minim, akses teknologi terbatas, dan jarak tempuh ke sekolah sering menguras tenaga. Ada guru yang harus menyeberangi laut setiap hari, ada pula yang berjalan kaki melewati hutan atau bukit. Semua ini tidak masuk dalam panggung perayaan Hari Guru, tetapi menjadi bagian utama dalam “derita yang tak terucap”.

Namun, di tengah semua keterbatasan itu, kenyataan menarik justru muncul: guru-guru di lapangan menunjukkan kreativitas yang membuat kita layak menaruh hormat yang sesungguhnya. Banyak di antara mereka mengembangkan media pembelajaran lokal, mengajak murid belajar melalui permainan tradisional, atau menjadikan lingkungan alam sebagai ruang kelas alami.

Pola seperti ini mengingatkan kembali pada gagasan Paulo Freire yang menyatakan bahwa “Teaching is a human act.” Guru bekerja dengan hati, dengan relasi, dan dengan kreativitas yang lahir dari kedekatan dengan murid—bukan sekadar modul atau kurikulum.

Guru di daerah 3T bahkan sering menjadi penggerak komunitas. Ada yang menginisiasi rumah baca, membuka kursus gratis, atau mendampingi orang tua dalam pengasuhan. Media nasional pernah mengutip seorang guru dari NTT yang berkata, “Kami bekerja bukan karena gaji besar karena memang tidak besar tapi karena anak-anak di sini berhak punya masa depan.” Kalimat sederhana ini melampaui panggung seremoni; ia menjadi pengingat bahwa dedikasi guru bukan sekadar narasi yang dibacakan saat upacara.

Jika kita menarik semua realitas tersebut secara induktif, muncul gambaran bahwa Hari Guru Nasional masih lebih banyak menampilkan sisi seremonial ketimbang menjadi momentum refleksi. Pujian pada guru memang penting, tetapi penghormatan sejati tidak berhenti pada kata-kata. Ia harus terwujud dalam kebijakan, perlindungan profesi, kesejahteraan layak, distribusi guru yang adil, dan lingkungan kerja yang memungkinkan mereka mengajar tanpa tekanan yang berlebihan.

Pendidikan tidak akan bergerak tanpa guru, tetapi guru tidak akan bertahan tanpa dukungan yang sistemik. Ki Hadjar Dewantara pernah menulis bahwa “pendidikan adalah usaha kebudayaan yang selaras dan terpadu.” Jika pendidikan kita ingin selaras, maka kondisi guru pun harus dibangun dengan harmonis.

Dengan kata lain, Hari Guru Nasional seharusnya menjadi panggung kritik, bukan hanya panggung pujian. Menjadi ruang refleksi, bukan sekadar seremoni tahunan. Dan lebih dari itu, menjadi pengingat bahwa kesejahteraan guru bukan hadiah, melainkan hak. Sebab jika derita guru terus terpendam, pendidikan tidak akan pernah mencapai kualitas yang kita impikan.

  • Penulis: Subhan Samsudin
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saremo Putera Bungkam HPPT JR 5-2 di Laga Perdana Turnamen U-16 Dowora

    Saremo Putera Bungkam HPPT JR 5-2 di Laga Perdana Turnamen U-16 Dowora

    • calendar_month Jumat, 27 Jun 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 417
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com, Tidore, 26 Juni 2025 — Saremo Putera tampil gemilang pada laga perdana Turnamen Usia-16 yang digelar oleh Himpunan Pemuda dan Pelajar Kelurahan Dowora. Bertanding di Lapangan Dowora, tim muda asal Saremo sukses menaklukkan HPPT JR dari Kelurahan Doyado dengan skor meyakinkan 5-2. Gol pembuka dicetak M. Firdan pada menit ke-27 setelah memanfaatkan kelengahan lini […]

  • Tumpukan sampah di Pelabuhan SpeedBoat Sofifi, bukti Kurangnya Kesadaran Lingkungan?

    Tumpukan sampah di Pelabuhan SpeedBoat Sofifi, bukti Kurangnya Kesadaran Lingkungan?

    • calendar_month Senin, 13 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 630
    • 0Komentar

    Sumber Dok : @Mimi.nabiu Sofifi kembali menjadi sorotan publik setelah video berdurasi 27 detik yang diunggah akun Instagram @mimi.nabiu pada Minggu (12/1/24) memicu keprihatinan masyarakat. Dalam video tersebut terlihat jelas tumpukan sampah mencemari pesisir pantai di sekitar pelabuhan speedboat Sofifi. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan terkait pengelolaan sampah dan kebersihan di kawasan tersebut. Mimi Nabiu, pengunggah […]

  • Wakil Gubernur Maluku Utara KH. Sarbin Sehe Sampaikan Ucapan Selamat Hari Jadi Tidore ke-917

    Wakil Gubernur Maluku Utara KH. Sarbin Sehe Sampaikan Ucapan Selamat Hari Jadi Tidore ke-917

    • calendar_month Jumat, 11 Apr 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 415
    • 0Komentar

    Ternate, 11 April 2025 — Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, menyampaikan ucapan selamat dan doa terbaik bagi seluruh masyarakat Kota Tidore Kepulauan dalam rangka memperingati Hari Jadi Tidore ke-917 yang jatuh pada tahun 2025 ini. Dalam pernyataannya, KH. Sarbin Sehe mengapresiasi semangat masyarakat Tidore yang terus menjaga nilai-nilai budaya, sejarah, dan persatuan yang […]

  • Sumber foto : Istimewa

    Dinilai Ciderai Marwah Organisasi, Bidang Keuangan KNPI Morotai Desak DPD I Pecat Ketua Terpilih

    • calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 324
    • 0Komentar

    MOROTAI (BALENGKO) – Krisis kepemimpinan melanda Dewan Pengurus Daerah (DPD) II Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Pulau Morotai. Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan DPD II KNPI Pulau Morotai, Fahri Sibua, secara resmi merilis pernyataan sikap yang mendesak DPD I KNPI Provinsi untuk segera mengambil langkah tegas berupa pemecatan terhadap Ketua KNPI Pulau Morotai. Langkah […]

  • Dies Natalis ke-14: SMK Kesehatan Safa Atthiyyah Mencetak Tenaga Medis Petarung Sejati Berintegritas

    Dies Natalis ke-14: SMK Kesehatan Safa Atthiyyah Mencetak Tenaga Medis Petarung Sejati Berintegritas

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 90
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – SMK Kesehatan Safa Atthiyyah menggelar perayaan Hari Ulang Tahun (Dies Natalis) ke-14 pada Sabtu, (19/9/2026). Kegiatan yang berlangsung khidmat di lingkungan sekolah ini dihadiri oleh jajaran Forkopimda Kabupaten Pulau Morotai, tokoh masyarakat, akademisi, serta seluruh civitas akademika sekolah. Perayaan tahun ini mengusung semangat refleksi perjalanan 14 tahun lembaga pendidikan kesehatan tersebut […]

  • Pembangunan Masjid Pas Ipa Belum Rampung, Warga Minta Penjelasan

    Pembangunan Masjid Pas Ipa Belum Rampung, Warga Minta Penjelasan

    • calendar_month Kamis, 26 Jun 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.158
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com, Mangoli Barat, Kepulauan Sula – Proyek pembangunan Masjid Desa Pas Ipa, Kecamatan Mangoli Barat, Kabupaten Kepulauan Sula, hingga kini terhenti tanpa kejelasan, meski telah dimulai sejak 8 Agustus 2024 lalu. Proyek ini dikerjakan oleh CV. Bintang Barat Perkasa dengan nilai kontrak sebesar Rp. 626.814.686,00 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bagian […]

expand_less