Positive Thinking dan Kekuasaan: Cara Gubernur Membentuk Nasib Rakyat
- calendar_month Sel, 6 Jan 2026
- visibility 198
- comment 0 komentar

Fahrul Abd Muid, Dosen IAIN Ternate dan Direktur Bajo Institut Maluku Utara.(Sumber foto : Istimewa)
Ternyata pikiran kita bisa menciptakan realitas-kenyataan. Hal inilah yang selalu dilakukan oleh Gubernur dalam gaya kepemimpinannya. Bahwa pikiran bisa menentukan perilaku saya, anda dan kita semua. Gubernur tidak bisa berpikir siapa itu Gubernur, tetapi Gubernur bergantung pada apa yang Gubernur pikirkan tentang diri Gubernur. Gubernur itu ada, karena diadakan oleh Tuhan melalui rakyatnya. Maka dalam pikiran Gubernur hanyalah memikirkan tentang kepentingan rakyatnya, dan Gubernur pasti berbuat yang terbaik untuk rakyatnya. Gubernur ingin mengajarkan kepada saya, anda dan kita semua untuk berpikir yang positif dalam diri-husnunzhan-positive thinking. Karena Gubernur sudah selesai dengan dirinya sendiri yang selalu saja positive thinking. Gubernur bilang, jika anda berpikir bahwa anda bodoh, anda pasti bodoh. Kalau anda berpikir bahwa anda tidak disukai banyak orang, anda pasti akan dibenci orang banyak. Bila anda berpikir bahwa anda seorang pecundang, anda akan betul-betul menjadi pecundang. Teori ini sudah lama diketahui oleh para psikolog. Mereka menyebutnya dengan konsep diri. Konsep diri kita akan mempengaruhi siapa diri kita kawan!
Dengan demikian, kalau anda berpikir bahwa anda tidak disukai orang banyak dan yang anda lakukan selalu gagal, maka Insya Allah, semua itu akan terwujud dalam kenyataan. Anda tidak akan mampu, gagal, dan tidak disukai orang banyak. Dalam sebuah buku yang berjudul ‘Beyond Psychology’ yang ditulis oleh Osho seorang guru spritual dari India, menyatakan bahwa kita tidak saja bisa menentukan perilaku kita dengan pikiran kita, tetapi kita juga bisa menciptakan berbagai peristiwa di alam sekitar kita dengan pikiran kita sendiri. Hal ini merupakan sesuatu yang ‘Beyond Psychology’ bahwa kita mewujudkan setiap kejadian menurut kekuatan pikiran kita sendiri, bukan dengan pikiran orang lain. Ada hal yang menarik pada bagian ujung buku ini bersifat sangat sufistik. Menurut buku ini, ada beberapa prinsip. Pertama, kita adalah teman Sang Pencipta-We are co-creators. Kita menciptakan kejadian di alam semesta ini bersama Tuhan. Kedua, kita berkolaborasi dengan Tuhan untuk menciptakan berbagai peristiwa yang kita kehendaki. Kita tidak boleh berpikir bahwa Tuhan adalah Zat yang sangat jauh dari kita, tapi kita harus memikirkan diri kita sebagai manifestasi Tuhan-God as me, Tuhan sebagai aku.
- Penulis: Penulis adalah Dosen IAIN Ternate dan Direktur Bajo Institut Malut
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media
- Sumber: Fahrul Abd Muid

Saat ini belum ada komentar