Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Adagium “Dia Tidak Berpendidikan, Pantas Akhlaknya Buruk”

Adagium “Dia Tidak Berpendidikan, Pantas Akhlaknya Buruk”

  • calendar_month Kamis, 11 Des 2025
  • visibility 619
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Pendidikan sering kali dilekatkan pada perilaku baik dan terpuji. Karena itu, ketika seseorang memasuki dunia pendidikan formal baik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), maupun Sekolah Menengah Atas (SMA) ia kerap dicap sebagai pribadi baik. Terlebih lagi apabila seorang anak melanjutkan studi hingga perguruan tinggi, ia hampir pasti dianggap sebagai sosok paling bermoral dan berakhlak terpuji.

Sebaliknya, anak yang tidak pernah mengecap pendidikan formal, bahkan sekadar SMA, biasanya langsung diberi label sebagai anak kurang ajar atau berakhlak buruk. Apalagi jika ia tidak pernah bersekolah di SMP atau SD, ia sering dimarginalkan, dianggap tidak berguna, dan diposisikan selalu salah. Jika terjadi suatu masalah, dialah yang pertama disalahkan. Dan bila ia benar-benar berbuat salah, kita dapat membayangkan betapa berat stigma yang harus ia tanggung.

Cara pandang seperti ini telah menjadi kebenaran yang diyakini masyarakat. Mereka beranggapan bahwa untuk menjadi orang baik, seseorang harus berpendidikan, dan semua orang berpendidikan pasti baik tanpa mempertimbangkan jenis pendidikan, proses, maupun nilai apa yang sebenarnya membentuk pribadi manusia.

Padahal paradigma bahwa pendidikan adalah kunci mutlak bagi kebaikan seseorang adalah bentuk pembodohan yang nyata. Bila kita menilik sejarah bangsa Arab pra-Islam, banyak dari mereka yang cerdas dan berilmu pengetahuan. Namun masa itu tetap disebut sebagai Zaman Jahiliyah atau “Zaman Kebodohan.” Mengapa disebut demikian? Karena meski mereka berpengetahuan, mereka tidak memiliki akhlakul karimah akhlak yang mulia.

Oleh sebab itu, pendidikan tidak boleh dijadikan jaminan bahwa seseorang atau kelompok pasti mampu berperilaku manusiawi. Sikap menghargai dan menjaga sesama harus tumbuh dari dalam diri, dibangun melalui pembiasaan, dan menjadi pondasi utama dalam kehidupan.

Nilai humanis harus ditanamkan sejak dini, sebab pendidikan setinggi apa pun tanpa akhlak yang kokoh hanya menghasilkan kehampaan. Pendidikan bahkan dapat menjadi wadah lahirnya orang-orang jahil, atau justru dimanfaatkan orang jahil untuk memarginalkan kelompok lain, mengeksploitasi, bahkan mendiskriminasi.

“Jangan berteman dengan dia, dia itu tidak sekolah.”
Ungkapan semacam ini lazim diucapkan lintas generasi. Orang yang tidak sekolah dianggap berbahaya dan harus dijauhi. Padahal tanpa kita sadari, banyak pula orang jahil yang justru lahir dari dunia pendidikan sebut saja para koruptor. Mereka adalah orang-orang terdidik, lulusan perguruan tinggi, namun ilmu yang mereka miliki digunakan untuk menciptakan kerusakan. Mereka bukan hanya jahil terhadap sesama manusia, melainkan juga jahil terhadap seluruh alam.

Alam adalah paru-paru bumi, tempat seluruh makhluk bergantung. Maka menjadi kewajiban kita untuk menjaganya. Namun realitasnya justru berbalik, hutan dibabat habis, alam dieksploitasi tanpa batas. Padahal hutan adalah tempat perlindungan makhluk hidup. Ketika hutan musnah, manusia pun menanggung akibatnya banjir, kerusakan ekosistem, dan berbagai bencana lain yang mengancam keberlangsungan hidup.

Menurut Aristoteles, manusia adalah zoon politicon makhluk yang selalu hidup dan bekerja sama. Dalam kajian biologi, manusia terdiri dari organ-organ yang saling terhubung, sebagaimana dalam kehidupan sosial, manusia adalah bagian dari manusia lainnya. Artinya, manusia tidak dapat hidup sendiri. Seorang bayi saja membutuhkan ibu untuk hadir ke dunia.

Sutan Sjahrir bahkan mengatakan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bersifat sosialis atau setidaknya cenderung demikian.

Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa kecerdasan atau kepintaran yang diperoleh melalui pendidikan baik pendidikan keluarga, lingkungan, masyarakat, maupun sekolah bukanlah tolok ukur utama kebaikan seseorang.

Kebaikan seseorang tampak dari sejauh mana ia berguna bagi orang lain, mampu menjaga ucapan, serta memperhatikan tindakannya. Allah Swt. Dalam Surah At-Tin (95): ayat 4:
(Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya).

Manusia paling baik di sisi Allah adalah yang paling bertakwa, yaitu mereka yang menjalankan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

“Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar pula potensi kezaliman yang dapat ia lakukan apabila tidak disertai akhlak al-karimah—akhlak yang terpuji”.

  • Penulis: Rabbiul Nguna Nguna
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Komitmen KH. Sarbin Sehe: Perkuat Kedaulatan Lewat Kolaborasi Pemerintah dan TNI

    Komitmen KH. Sarbin Sehe: Perkuat Kedaulatan Lewat Kolaborasi Pemerintah dan TNI

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 469
    • 0Komentar

    Ambon, 28 April 2025 – Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, menjadi pembicara utama dalam Apel Komandan Satuan di Rindam XV/Pattimura, Ambon. Acara yang mengusung tema “Sinergi Pemerintah Daerah dan TNI dalam Pembangunan Pulau Terluar untuk Perkuat Kedaulatan, Pertahanan, dan Ketahanan Nasional” ini berlangsung pada pukul 11.00 WIT. Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Sarbin Sehe […]

  • Santri Darul Falah Ternate Borong Juara 1 di STQH ke-VIII Pulau Morotai

    Santri Darul Falah Ternate Borong Juara 1 di STQH ke-VIII Pulau Morotai

    • calendar_month Kamis, 22 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 491
    • 0Komentar

    Balengko Space – Dua santri Pondok Pesantren Darul Falah Ternate meraih juara pertama dalam Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) ke-VIII tingkat Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara. Ajang ini berlangsung pada 19–21 Mei 2025 dan diikuti peserta dari berbagai daerah di Provinsi Maluku Utara. M. Maulana Zaelawat meraih Juara 1 pada cabang 500 Hadits. Sementara […]

  • HMPV Virus lama, ancaman baru?

    HMPV Virus lama, ancaman baru?

    • calendar_month Rabu, 8 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 403
    • 0Komentar

    Ilustrasi :Istimewa Pada akhir 2024, masyarakat dikejutkan oleh lonjakan kasus virus HMPV (Human Metapneumovirus) yang terus meningkat. Meski bukan virus baru, kemunculannya yang kembali meluas menimbulkan kekhawatiran di berbagai kalangan. Apa sebenarnya virus HMPV itu? Seberapa berbahayakah dampaknya? Menurut laporan dari Medical Review Virology, Human Metapneumovirus (HMPV) adalah anggota genus Metapneumovirus dalam famili Paramyxoviridae. Meski […]

  • Sumber foto : Istimewa

    BADKO HMI Maluku Utara: Diplomasi Prabowo di Davos dan Program 1.500 Kapal adalah Tonggak Kebangkitan Poros Maritim

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Agung Gumelar
    • visibility 119
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO) – Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Maluku Utara, M. Akbar M. Lakoda, memberikan apresiasi mendalam atas langkah strategis Presiden RI Prabowo Subianto dalam kunjungan kerjanya ke World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Langkah ini dinilai sebagai bukti nyata kembalinya taring diplomasi Indonesia di kancah internasional. Akbar menegaskan bahwa […]

  • AKU MENEMUKAN TUHAN LEWAT NDP

    AKU MENEMUKAN TUHAN LEWAT NDP

    • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Asmar Joma
    • visibility 1.243
    • 0Komentar

    Aku menemukan Tuhan bukan di mimbar yang gaduh, melainkan di simpul tajam antara iman, ilmu, dan amal. Di situlah Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) Himpunan Mahasiswa Islam menyalakan makna tauhid sebagai pusat gravitasi, kemanusiaan sebagai medan kerja, dan keadilan sosial sebagai faktor gerakan. Jika di baca dengan amat teliti NDP memiliki tiga poin penting yang perlu […]

  • Simon Tahamata: Darah Maluku yang Bersinar di Eropa, Kini Pimpin Pencarian Bakat Timnas Indonesia

    Simon Tahamata: Darah Maluku yang Bersinar di Eropa, Kini Pimpin Pencarian Bakat Timnas Indonesia

    • calendar_month Selasa, 27 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 258
    • 0Komentar

    Indonesia Timur telah lama dikenal sebagai lumbung talenta sepak bola. Bakat-bakat besar seperti Boaz Solossa, Yance dan Yakob Sayuri, hingga Ilham Udin Armayin mewarnai era 2000-an dan seterusnya. Namun, jauh sebelum itu bahkan sebelum sepak bola Indonesia diramaikan oleh nama-nama muda dari Timur telah lahir seorang legenda yang bersinar terang di panggung Eropa: Simon Melkianus […]

expand_less