Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Menolak Lupa dalam Pusaran Janji yang Karut Marut

Menolak Lupa dalam Pusaran Janji yang Karut Marut

  • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
  • visibility 539
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

“Di tengah gemerlap kota yang bising, disudut ruang yang hampa. Terdengar suara tangisan rakyat jelata yang menunggu dan menagih janji pemerinta terhadap kesejatraan rakyatnya.”

Menolak Lupa dalam Pusaran Janji yang Karut-Marut memanifestasikan sebuah resistensi epistemologis terhadap dekadensi moral yang terbungkus dalam retorika banal. Dalam menggunakan kacamata fenomenologi Edmund Husserl, janji semestinya merupakan sebuah bentuk intensionalitas yang murni, yakni sebuah tindakan kesadaran yang mengarahkan subjek pada pemenuhan esensi kebenaran di masa depan, namun realitas yang kita huni saat ini menunjukkan adanya distorsi radikal dalam struktur Lebenswelt atau dunia-kehidupan kita.

Janji tidak lagi hadir sebagai komitmen eksistensial, melainkan telah mengalami komodifikasi menjadi sekadar instrumen performatif yang kehilangan basis ontologisnya. Fenomena karut-marut ini mencerminkan apa yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagai simulakrum, di mana representasi janji mendahului dan akhirnya membunuh realitas itu sendiri, menciptakan sebuah kondisi hiperrealitas di mana masyarakat lebih terobsesi pada kemasan naratif daripada substansi implementatif.

Dalam pusaran sosiopolitik yang penuh dengan ambiguitas, terjadi pengikisan memori kolektif yang sistematis melalui teknik social amnesia yang terorganisir. Jika kita membedah fenomena ini melalui teori tindakan komunikatif Jürgen Habermas, tampak jelas terjadinya kolonisasi dunia-kehidupan oleh sistem yang manipulatif, di mana bahasa tidak lagi berfungsi untuk mencapai kesepahaman (Verständigung), melainkan sebagai alat dominasi strategis untuk mematangkan konsensus palsu.

Ketidakteraturan atau kekarut-marutan ini bukanlah sebuah ketidaksengajaan mekanis, melainkan hasil dari fragmentasi kesadaran publik yang dibombardir oleh diskontinuitas informasi secara masif. Menolak lupa dalam konteks ini adalah sebuah tindakan praksis untuk memulihkan kedaulatan subjek dari keterasingan struktural dan alienasi sosial.

Secara fenomenologis, setiap janji yang terucap di ruang publik membawa beban etis yang dalam perspektif Emmanuel Levinas disebut sebagai tanggung jawab tak terhingga terhadap “Wajah” orang lain, sebuah imperatif moral yang menuntut pertanggungjawaban mutlak. Ketika janji-janji tersebut terperosok ke dalam pusaran kekacauan tanpa akuntabilitas, maka yang terjadi adalah pengkhianatan terhadap kontrak sosial sekaligus degradasi terhadap martabat kemanusiaan itu sendiri.

Mempertahankan ingatan merupakan upaya intelektual untuk mendekonstruksi narasi-narasi hegemonik yang berusaha menormalisasi inkonsistensi sebagai kewajaran zaman, sekaligus melawan kecenderungan banality of evil dalam birokrasi yang menganggap pengingkaran janji sebagai prosedur teknis belaka.

Kekacauan ini diperparah oleh fenomena nekropolitik, di mana kebijakan yang lahir dari janji-janji yang karut-marut justru mengeksklusi kelompok rentan dari narasi kesejahteraan. Dalam perspektif fenomenologi eksistensial Maurice Merleau-Ponty, persepsi publik terhadap janji sering kali terdistorsi oleh ruang dan waktu yang dikonstruksi secara artifisial melalui media, sehingga tubuh sosial kehilangan koneksi dengan realitas material yang ada di hadapan mereka. Janji-janji tersebut bertransformasi menjadi mitos modern yang berfungsi sebagai candu bagi kesadaran kritis, mengarahkan massa ke dalam kondisi false consciousness atau kesadaran palsu yang akut.

Maka, menolak lupa adalah sebuah bentuk subversi terhadap rezim kebenaran yang opresif, sebuah upaya untuk mengartikulasikan kembali hakikat kejujuran di tengah banalitas kebohongan yang sistemik. Dengan mengintegrasikan teori strukturasi Anthony Giddens, kita melihat bahwa dualitas struktur dalam masyarakat seharusnya mampu membatasi kesewenang-wenangan pemberi janji, namun yang terjadi justru adalah penguatan struktur yang melegitimasi pengingkaran melalui celah-celah legalitas formal.

Lebih lanjut, dalam analisis Michel Foucault mengenai biopolitik dan diskursus kekuasaan, janji yang karut-marut berfungsi sebagai teknik pendisiplinan massa agar tetap berada dalam penantian yang tidak berujung. Kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai rezim penangguhan, di mana pemenuhan hak-hak dasar rakyat secara konstan digeser ke masa depan yang abstrak sementara eksploitasi di masa kini terus berjalan tanpa interupsi.

Secara fenomenologis, waktu tidak lagi dipahami sebagai durasi yang bermakna, melainkan sebagai fragmentasi janji-janji jangka pendek yang mengaburkan visi jangka panjang. Kekacauan informasi ini menciptakan disorientasi kognitif, di mana subjek kolektif kehilangan kemampuan untuk melakukan sintesis historis terhadap kegagalan-kegagalan masa lalu. Fenomena ini juga bersinggungan dengan teori agensi, di mana kapasitas individu untuk bertindak secara otonom dilumpuhkan oleh ketergantungan pada narasi-narasi penyelamatan yang ditawarkan oleh para elit.

Dalam kebisingan komunikasi digital yang hiper-akseleratif, janji-janji politik dan sosial mengalami devaluasi makna hingga mencapai titik nadir. Martin Heidegger dalam diskursus mengenai Dasein mungkin akan melihat fenomena ini sebagai bentuk “kejatuhan” ke dalam kemapanan yang tidak otentik, di mana manusia terjebak dalam desas-desus (Gerede) tanpa pernah benar-benar memahami esensi dari komitmen yang dipertaruhkan.

Pusaran karut-marut ini akhirnya menciptakan sebuah anomi sosial, di mana norma-norma kejujuran kehilangan daya ikatnya dan digantikan oleh pragmatisme sempit yang menghalalkan segala cara demi pencapaian target-target elektoral maupun akumulasi modal. Secara fenomenologis, kita sedang mengalami pengikisan kehadiran yang otentik, di mana sosok pemberi janji hanya hadir sebagai citra digital yang kehilangan substansi kemanusiaan dan empati. Penolakan untuk lupa menjadi benteng terakhir bagi integritas akal budi manusia untuk tetap konsisten menagih hak-hak dasar yang telah dijanjikan namun dipasung oleh labirin birokrasi yang korup.

Melalui diskursus ini, kita diajak untuk melihat bahwa dibalik karut-marutnya fenomena tersebut, terdapat kebutuhan mendesak untuk melakukan re-evaluasi terhadap seluruh tatanan nilai yang kita anut, agar masa depan tidak lagi dibangun di atas fondasi ilusi yang rapuh, melainkan di atas komitmen etis yang berakar pada keadilan yang sesungguhnya dan pengakuan terhadap realitas yang tak terbantahkan.

Kekalutan ini juga memicu lahirnya skeptisime radikal yang merusak kohesi sosial, di mana setiap bentuk otoritas dianggap sebagai produsen dusta. Secara sosiologis, ini adalah bentuk erosi modal sosial yang sangat berbahaya bagi keberlangsungan demokrasi. Janji yang dikhianati berulang kali menciptakan luka ontologis pada kesadaran publik, yang kemudian beresonansi menjadi amarah kolektif yang destruktif atau apati politik yang akut.

Menolak lupa adalah sebuah metodologi untuk menyembuhkan luka tersebut dengan cara membawa kembali kebenaran ke ruang publik melalui dialektika yang jujur. Tanpa adanya keberanian untuk mengingat dan menagih, pusaran janji yang karut-marut akan terus berputar sebagai siklus kebohongan yang melembaga, menghisap seluruh potensi kemajuan bangsa ke dalam lubang hitam ketidakpastian yang permanen. Kita dituntut untuk menjadi saksi atas waktu, memastikan bahwa setiap kata yang terucap memiliki berat tanggung jawab, dan setiap harapan yang diberikan memiliki peta realisasi yang konkret di atas tanah realitas.

Tags
  • Penulis: Asmaul Jinudin (Mahasiswa Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia)
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media
  • Sumber: Muhammad Muzijad Mandea

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Atasi Malas Belajar di Era Digital, Panduan Simpel untuk Generasi Muda

    Atasi Malas Belajar di Era Digital, Panduan Simpel untuk Generasi Muda

    • calendar_month Jumat, 3 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 527
    • 0Komentar

    Di tengah kemudahan teknologi, semangat belajar sering kali justru tergerus oleh distraksi digital. Jika kamu merasa ponsel dan media sosial mulai mendominasi waktumu, ini saatnya beraksi! Berikut beberapa tips anti-malas yang dirancang untuk membuatmu kembali produktif dengan cara yang seru dan relevan: 1. Temukan “alasan” kamu belajar Apa alasanmu belajar? Apakah untuk meraih mimpi besar, […]

  • JUDI ONLINE: ANCAMAN SENYAP BAGI EKONOMI DAN MASA DEPAN GENERASI

    JUDI ONLINE: ANCAMAN SENYAP BAGI EKONOMI DAN MASA DEPAN GENERASI

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle Muhammad Muzijad Mandea Guru MTs Negeri 1 Pulau Morotai
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Berbicara tentang judi online tentu bukan lagi sesuatu yang asing di tengah masyarakat. Perkembangannya di ruang digital telah menjadikan perjudian semakin mudah ditemukan dan diakses. Persoalannya bukan sekadar seseorang kehilangan sejumlah uang, melainkan bagaimana aktivitas tersebut dapat berkembang menjadi persoalan ekonomi, keluarga, sosial, bahkan menyentuh masa depan generasi muda. Pertanyaan sederhananya: jika judi online memiliki […]

  • Lokasi proyek swering talud Desa Ploly Halmahera Selatan

    Tunggak Upah Warga Rp52 Juta, Proyek Swering Talud Desa Ploly Terancam Diseret ke Jalur Hukum

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 307
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, HALMAHERA SELATAN – Proyek pembangunan infrastruktur penahan ombak atau swering talud di Desa Ploly, Kabupaten Halmahera Selatan, menuai polemik serius. Proyek publik bernilai Rp600 juta dari APBD Provinsi Maluku Utara Tahun Anggaran 2023 tersebut diduga menunggak hak-hak dasar pekerja lokal dan pemilik material bangunan. Berdasarkan data sistem pengadaan, proyek ini tercatat dengan kode […]

  • Plt Rektor Unutara Sunaidin Ode Mulae saat penandatanganan Kontrak Hibah Penelitian Unutara di LLDikti Wilayah XII.

    Kontrak Hibah Penelitian Unutara Resmi Ditandatangani, Dorong Riset Berdampak bagi Masyarakat

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 946
    • 0Komentar

    AMBON, BALENGKO SPACE – Kontrak Hibah Penelitian UNUTARA (Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara) dan pengabdian dosen resmi ditandatangani bersama Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XII. Prosesi ini berlangsung khidmat di Gedung Flamboyan, Kantor LLDikti Wilayah XII, Ambon, pada Rabu (29/4/2026). Penandatanganan ini dilakukan secara serentak oleh seluruh pimpinan perguruan tinggi se-Maluku dan Maluku Utara. […]

  • Strategi Konektivitas dan Jebakan Tata Ruang di Maluku Utara

    Strategi Konektivitas dan Jebakan Tata Ruang di Maluku Utara

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle Abdul Kharis Musa Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
    • visibility 408
    • 0Komentar

    Maluku Utara menghadapi persoalan fragmentasi spasial. Dengan luas wilayah sekitar 3,15 juta hektare, yang terdiri dari sekitar 1,12 juta hektare daratan dan 2,02 juta hektare laut, Maluku Utara memiliki karakter geografis kepulauan yang strategis, kaya sumber daya alam, serta memiliki sejarah rempah yang mendunia. Namun, karakteristik geografis tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan dalam paradigma pembangunan. Laut masih sering diperlakukan sebagai batas, bukan […]

  • Pernyataan sikap tertulis Forum BEM DIY terkait isu nasional

    Suarakan Delapan Tuntutan Rakyat, Forum BEM DIY Tegaskan Perlawanan Terhadap Kebijakan Otoriter

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 219
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, YOGYAKARTA – Forum Badan Eksekutif Mahasiswa Daerah Istimewa Yogyakarta (Forum BEM DIY) dan beberapa aliansi mahasiswa merilis pernyataan sikap bersama terkait arah kebijakan nasional yang dinilai kian menjauh dari prinsip keadilan sosial. Mengusung jargon gerakan “Bangun Persatuan Rakyat, Rebut Daulat Rakyat Dan Lawan Republik Otoriter”, aliansi mahasiswa ini menyoroti jajaran regulasi dan program […]

expand_less