Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Menolak Lupa dalam Pusaran Janji yang Karut Marut

Menolak Lupa dalam Pusaran Janji yang Karut Marut

  • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
  • visibility 467
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

“Di tengah gemerlap kota yang bising, disudut ruang yang hampa. Terdengar suara tangisan rakyat jelata yang menunggu dan menagih janji pemerinta terhadap kesejatraan rakyatnya.”

Menolak Lupa dalam Pusaran Janji yang Karut-Marut memanifestasikan sebuah resistensi epistemologis terhadap dekadensi moral yang terbungkus dalam retorika banal. Dalam menggunakan kacamata fenomenologi Edmund Husserl, janji semestinya merupakan sebuah bentuk intensionalitas yang murni, yakni sebuah tindakan kesadaran yang mengarahkan subjek pada pemenuhan esensi kebenaran di masa depan, namun realitas yang kita huni saat ini menunjukkan adanya distorsi radikal dalam struktur Lebenswelt atau dunia-kehidupan kita.

Janji tidak lagi hadir sebagai komitmen eksistensial, melainkan telah mengalami komodifikasi menjadi sekadar instrumen performatif yang kehilangan basis ontologisnya. Fenomena karut-marut ini mencerminkan apa yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagai simulakrum, di mana representasi janji mendahului dan akhirnya membunuh realitas itu sendiri, menciptakan sebuah kondisi hiperrealitas di mana masyarakat lebih terobsesi pada kemasan naratif daripada substansi implementatif.

Dalam pusaran sosiopolitik yang penuh dengan ambiguitas, terjadi pengikisan memori kolektif yang sistematis melalui teknik social amnesia yang terorganisir. Jika kita membedah fenomena ini melalui teori tindakan komunikatif Jürgen Habermas, tampak jelas terjadinya kolonisasi dunia-kehidupan oleh sistem yang manipulatif, di mana bahasa tidak lagi berfungsi untuk mencapai kesepahaman (Verständigung), melainkan sebagai alat dominasi strategis untuk mematangkan konsensus palsu.

Ketidakteraturan atau kekarut-marutan ini bukanlah sebuah ketidaksengajaan mekanis, melainkan hasil dari fragmentasi kesadaran publik yang dibombardir oleh diskontinuitas informasi secara masif. Menolak lupa dalam konteks ini adalah sebuah tindakan praksis untuk memulihkan kedaulatan subjek dari keterasingan struktural dan alienasi sosial.

Secara fenomenologis, setiap janji yang terucap di ruang publik membawa beban etis yang dalam perspektif Emmanuel Levinas disebut sebagai tanggung jawab tak terhingga terhadap “Wajah” orang lain, sebuah imperatif moral yang menuntut pertanggungjawaban mutlak. Ketika janji-janji tersebut terperosok ke dalam pusaran kekacauan tanpa akuntabilitas, maka yang terjadi adalah pengkhianatan terhadap kontrak sosial sekaligus degradasi terhadap martabat kemanusiaan itu sendiri.

Mempertahankan ingatan merupakan upaya intelektual untuk mendekonstruksi narasi-narasi hegemonik yang berusaha menormalisasi inkonsistensi sebagai kewajaran zaman, sekaligus melawan kecenderungan banality of evil dalam birokrasi yang menganggap pengingkaran janji sebagai prosedur teknis belaka.

Kekacauan ini diperparah oleh fenomena nekropolitik, di mana kebijakan yang lahir dari janji-janji yang karut-marut justru mengeksklusi kelompok rentan dari narasi kesejahteraan. Dalam perspektif fenomenologi eksistensial Maurice Merleau-Ponty, persepsi publik terhadap janji sering kali terdistorsi oleh ruang dan waktu yang dikonstruksi secara artifisial melalui media, sehingga tubuh sosial kehilangan koneksi dengan realitas material yang ada di hadapan mereka. Janji-janji tersebut bertransformasi menjadi mitos modern yang berfungsi sebagai candu bagi kesadaran kritis, mengarahkan massa ke dalam kondisi false consciousness atau kesadaran palsu yang akut.

Maka, menolak lupa adalah sebuah bentuk subversi terhadap rezim kebenaran yang opresif, sebuah upaya untuk mengartikulasikan kembali hakikat kejujuran di tengah banalitas kebohongan yang sistemik. Dengan mengintegrasikan teori strukturasi Anthony Giddens, kita melihat bahwa dualitas struktur dalam masyarakat seharusnya mampu membatasi kesewenang-wenangan pemberi janji, namun yang terjadi justru adalah penguatan struktur yang melegitimasi pengingkaran melalui celah-celah legalitas formal.

Lebih lanjut, dalam analisis Michel Foucault mengenai biopolitik dan diskursus kekuasaan, janji yang karut-marut berfungsi sebagai teknik pendisiplinan massa agar tetap berada dalam penantian yang tidak berujung. Kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai rezim penangguhan, di mana pemenuhan hak-hak dasar rakyat secara konstan digeser ke masa depan yang abstrak sementara eksploitasi di masa kini terus berjalan tanpa interupsi.

Secara fenomenologis, waktu tidak lagi dipahami sebagai durasi yang bermakna, melainkan sebagai fragmentasi janji-janji jangka pendek yang mengaburkan visi jangka panjang. Kekacauan informasi ini menciptakan disorientasi kognitif, di mana subjek kolektif kehilangan kemampuan untuk melakukan sintesis historis terhadap kegagalan-kegagalan masa lalu. Fenomena ini juga bersinggungan dengan teori agensi, di mana kapasitas individu untuk bertindak secara otonom dilumpuhkan oleh ketergantungan pada narasi-narasi penyelamatan yang ditawarkan oleh para elit.

Dalam kebisingan komunikasi digital yang hiper-akseleratif, janji-janji politik dan sosial mengalami devaluasi makna hingga mencapai titik nadir. Martin Heidegger dalam diskursus mengenai Dasein mungkin akan melihat fenomena ini sebagai bentuk “kejatuhan” ke dalam kemapanan yang tidak otentik, di mana manusia terjebak dalam desas-desus (Gerede) tanpa pernah benar-benar memahami esensi dari komitmen yang dipertaruhkan.

Pusaran karut-marut ini akhirnya menciptakan sebuah anomi sosial, di mana norma-norma kejujuran kehilangan daya ikatnya dan digantikan oleh pragmatisme sempit yang menghalalkan segala cara demi pencapaian target-target elektoral maupun akumulasi modal. Secara fenomenologis, kita sedang mengalami pengikisan kehadiran yang otentik, di mana sosok pemberi janji hanya hadir sebagai citra digital yang kehilangan substansi kemanusiaan dan empati. Penolakan untuk lupa menjadi benteng terakhir bagi integritas akal budi manusia untuk tetap konsisten menagih hak-hak dasar yang telah dijanjikan namun dipasung oleh labirin birokrasi yang korup.

Melalui diskursus ini, kita diajak untuk melihat bahwa dibalik karut-marutnya fenomena tersebut, terdapat kebutuhan mendesak untuk melakukan re-evaluasi terhadap seluruh tatanan nilai yang kita anut, agar masa depan tidak lagi dibangun di atas fondasi ilusi yang rapuh, melainkan di atas komitmen etis yang berakar pada keadilan yang sesungguhnya dan pengakuan terhadap realitas yang tak terbantahkan.

Kekalutan ini juga memicu lahirnya skeptisime radikal yang merusak kohesi sosial, di mana setiap bentuk otoritas dianggap sebagai produsen dusta. Secara sosiologis, ini adalah bentuk erosi modal sosial yang sangat berbahaya bagi keberlangsungan demokrasi. Janji yang dikhianati berulang kali menciptakan luka ontologis pada kesadaran publik, yang kemudian beresonansi menjadi amarah kolektif yang destruktif atau apati politik yang akut.

Menolak lupa adalah sebuah metodologi untuk menyembuhkan luka tersebut dengan cara membawa kembali kebenaran ke ruang publik melalui dialektika yang jujur. Tanpa adanya keberanian untuk mengingat dan menagih, pusaran janji yang karut-marut akan terus berputar sebagai siklus kebohongan yang melembaga, menghisap seluruh potensi kemajuan bangsa ke dalam lubang hitam ketidakpastian yang permanen. Kita dituntut untuk menjadi saksi atas waktu, memastikan bahwa setiap kata yang terucap memiliki berat tanggung jawab, dan setiap harapan yang diberikan memiliki peta realisasi yang konkret di atas tanah realitas.

Tags
  • Penulis: Asmaul Jinudin (Mahasiswa Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia)
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media
  • Sumber: Muhammad Muzijad Mandea

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sarif Robo: Dari Inspirasi Kampung Hingga Menjadi Dosen dan Kandidat Doktor

    Sarif Robo: Dari Inspirasi Kampung Hingga Menjadi Dosen dan Kandidat Doktor

    • calendar_month Senin, 27 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 551
    • 0Komentar

    Sarif Robo, putra sulung dari pasangan alm. Lukman Robo dan Nurain Hadad, tumbuh sebagai sosok yang menginspirasi di kampung halamannya Kulaba. Lahir sebagai anak pertama dari lima bersaudara, Sarif tidak hanya menjadi panutan bagi adik-adiknya, tetapi juga bagi banyak anak muda di sekitarnya. Dengan perjalanan pendidikan yang penuh tekad, ia kini menjadi seorang dosen sekaligus […]

  • Sarbin Sehe Ikuti Retret di Akmil Magelang untuk Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah

    Sarbin Sehe Ikuti Retret di Akmil Magelang untuk Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah

    • calendar_month Kamis, 27 Feb 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 602
    • 0Komentar

    Sumber Foto : Istimewa Magelang, (27/2/25) – Setelah menjalani serangkaian kegiatan pasca-pelantikan sebagai Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe bertolak ke Magelang untuk mengikuti kegiatan retret selama dua hari, mulai hari ini, Kamis (27/2/25), hingga besok, Jumat (28/2/25). Kegiatan ini digelar di Akademi Militer (Akmil) Magelang dan dihadiri oleh sejumlah pejabat pemerintah pusat dan daerah. […]

  • Percakapan dalam Bahasa Ternate, yang harus kalian ketahui.

    Percakapan dalam Bahasa Ternate, yang harus kalian ketahui.

    • calendar_month Minggu, 5 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 2.068
    • 0Komentar
  • Kondisi jalan penghubung Ibu–Loloda Ibu, Halmahera Barat, Maluku Utara, mengalami kerusakan parah akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama dua hari, Senin (5/1/2026), sehingga menghambat aktivitas dan mobilitas warga. (Sumber foto: Istimewa)

    Hujan Deras Dua Hari Putus Akses Jalan Ibu–Loloda Ibu, Pemudik Terpaksa Transit

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 422
    • 0Komentar

    Halmahera Barat, Maluku Utara (BALENGKO)— Hujan deras yang mengguyur wilayah Halmahera Barat selama dua hari terakhir menyebabkan akses jalan utama penghubung Ibu–Loloda Ibu rusak parah dan tidak dapat dilalui kendaraan. Akibatnya, para pemudik mengalami kesulitan untuk melanjutkan perjalanan dan terpaksa menggunakan sistem transit untuk mencapai tujuan masing-masing. Peristiwa ini terjadi pada Senin, 5 Januari 2026, […]

  • Simon Tahamata: Darah Maluku yang Bersinar di Eropa, Kini Pimpin Pencarian Bakat Timnas Indonesia

    Simon Tahamata: Darah Maluku yang Bersinar di Eropa, Kini Pimpin Pencarian Bakat Timnas Indonesia

    • calendar_month Selasa, 27 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 400
    • 0Komentar

    Indonesia Timur telah lama dikenal sebagai lumbung talenta sepak bola. Bakat-bakat besar seperti Boaz Solossa, Yance dan Yakob Sayuri, hingga Ilham Udin Armayin mewarnai era 2000-an dan seterusnya. Namun, jauh sebelum itu bahkan sebelum sepak bola Indonesia diramaikan oleh nama-nama muda dari Timur telah lahir seorang legenda yang bersinar terang di panggung Eropa: Simon Melkianus […]

  • Ilustrasi risiko psikologis penggunaan chatbot terapi AI

    Riset Terbaru Stanford: Chatbot Terapi AI Berpotensi Picu Stigma dan Respons Berbahaya

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 177
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, CALIFORNIA – Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam ranah kesehatan mental kini tengah menjadi sorotan tajam. Sebuah studi terbaru yang dirilis oleh Universitas Stanford mengungkapkan bahwa platform chatbot terapi AI berisiko memberikan respons yang merugikan serta memperkuat stigma negatif terhadap gangguan jiwa tertentu, menjadikannya jauh kurang efektif dan kurang aman jika dibandingkan dengan konseling bersama […]

expand_less