Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Ketika Adzan Bersahut di Negeri Konflik: Makna Ramadhan Bagi Dunia Islam Yang Terbelah

Ketika Adzan Bersahut di Negeri Konflik: Makna Ramadhan Bagi Dunia Islam Yang Terbelah

  • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
  • visibility 283
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Bayangkan sebuah kota yang setiap senjanya dipenuhi gema adzan, tetapi di saat yang sama langitnya diterangi bukan oleh cahaya magrib, melainkan kilatan ledakan. Analogi ini bukan sekadar retorika puitis, melainkan realitas yang masih terjadi di sejumlah wilayah dunia Islam. 

Ketika suara adzan berkumandang memanggil umat menuju ketenangan spiritual, sebagian saudara seiman justru menyambutnya dengan kecemasan, kehilangan, dan ketidakpastian. Di titik inilah makna Ramadhan diuji: apakah ia sekadar ritual tahunan, atau energi moral yang mampu menjawab krisis kemanusiaan dan perpecahan global umat?

Secara teologis, Ramadhan adalah bulan tazkiyatun nafs – proses penyucian diri. Namun dalam konteks sosial-politik abad ke-21, Ramadan juga menjadi cermin retak wajah dunia Islam. Data dari berbagai laporan kemanusiaan internasional menunjukkan bahwa sebagian konflik bersenjata global dalam dua dekade terakhir terjadi di kawasan mayoritas Muslim. 

Konflik berkepanjangan di Timur Tengah, Afrika Utara, hingga sebagian Asia Selatan bukan hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga fragmentasi sosial dan krisis identitas kolektif.

Menurut laporan UNHCR (2023), lebih dari 40% populasi pengungsi dunia berasal dari negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah potret luka struktural.

Dalam perspektif sosiologi agama, Ramadan memiliki dimensi kolektif yang kuat. Émile Durkheim menyebut ritual keagamaan sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial. Dalam Islam, puasa tidak hanya membangun relasi vertikal (hablum minallah), tetapi juga relasi horizontal (hablum minannas). 

Ironisnya, di saat umat menahan lapar dan haus sebagai simbol empati terhadap kaum miskin, ketimpangan ekonomi di banyak negara Muslim justru semakin melebar. World Inequality Report (2022) mencatat bahwa kesenjangan pendapatan di sejumlah negara Timur Tengah termasuk yang tertinggi secara global. Ini menimbulkan pertanyaan kritis: apakah spirit Ramadhan telah tereduksi menjadi simbol individual, tanpa transformasi struktural?

Pemikir Iran, Ali Shariati, pernah menegaskan bahwa Islam bukan agama pelarian spiritual, melainkan ideologi pembebasan. 

Dalam karyanya Religion versus Religion, ia mengkritik bentuk keberagamaan yang pasif dan tidak berpihak pada kaum tertindas. Jika merujuk pada Shariati, maka Ramadan seharusnya menjadi momentum revolusi kesadaran—bukan revolusi bersenjata, melainkan revolusi moral dan sosial. 

Puasa melatih kontrol diri, tetapi juga menuntut keberpihakan pada keadilan. Dalam konteks negeri konflik, pesan ini menjadi sangat relevan: ibadah tanpa advokasi kemanusiaan berisiko menjadi formalitas kosong.

Senada dengan itu, Hasan Hanafi melalui proyek Kiri Islam (al-Yasar al-Islami) mendorong reinterpretasi teks agama agar berpihak pada realitas sosial. Ia menekankan pentingnya pembacaan kontekstual terhadap wahyu, sehingga agama tidak terjebak pada romantisme masa lalu. 

Ramadan, dalam kacamata Hanafi, bukan sekadar peringatan turunnya Al-Qur’an, tetapi ajakan untuk membaca ulang realitas dengan semangat keadilan. Ketika dunia Islam terbelah oleh konflik politik dan sektarian, tafsir progresif terhadap nilai persaudaraan (ukhuwah) menjadi mendesak.

Sementara itu, Murtadha Mutahhari menekankan dimensi rasionalitas dalam Islam. Dalam berbagai ceramahnya, ia menjelaskan bahwa ibadah harus melahirkan kesadaran etis dan intelektual. 

Puasa bukan hanya menahan diri secara fisik, tetapi juga mendidik akal untuk membedakan antara kepentingan egoistik dan maslahat kolektif. Dalam masyarakat yang terfragmentasi oleh konflik ideologi dan politik, pendekatan rasional dan etis Mutahhari menawarkan jembatan dialog.

Namun realitas menunjukkan bahwa perpecahan umat sering kali dipicu oleh politik identitas, perebutan kekuasaan, dan intervensi geopolitik global. Studi dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah menjadi salah satu wilayah dengan belanja militer tertinggi per kapita di dunia. Ketika anggaran pertahanan meningkat, anggaran pendidikan dan kesejahteraan di beberapa negara justru stagnan. Kontras ini memperlihatkan paradoks: Ramadan mengajarkan kesederhanaan, tetapi sistem global sering mendorong kompetisi kekuatan.

Dalam konteks globalisasi digital, Ramadan juga mengalami transformasi. Media sosial memperlihatkan dua wajah: solidaritas dan polarisasi. Di satu sisi, kampanye donasi daring selama Ramadan meningkat signifikan. 

Platform crowdfunding melaporkan lonjakan donasi hingga 30-50% selama bulan suci. Di sisi lain, algoritma media sosial sering memperkuat narasi kebencian dan sektarianisme. Ini menjadi tantangan baru: bagaimana menjadikan ruang digital sebagai sarana memperkuat ukhuwah, bukan memperdalam jurang perpecahan?

Secara demografis, Pew Research Center (2017) memproyeksikan bahwa populasi Muslim dunia akan mencapai hampir 30% populasi global pada 2050. Potensi demografis ini seharusnya menjadi kekuatan moral dan intelektual. Namun tanpa persatuan visi dan tata kelola yang baik, potensi tersebut dapat berubah menjadi beban konflik internal. Ramadan seharusnya menjadi titik temu—bulan ketika perbedaan mazhab, etnis, dan nasionalitas melebur dalam satu pengalaman spiritual kolektif.

Dalam bahasa yang lebih santai, bisa dikatakan bahwa Ramadhan adalah “charging station” spiritual umat. Tetapi baterai yang terisi penuh tidak ada gunanya jika tidak digunakan untuk menerangi ruang gelap ketidakadilan. Ketika adzan bersahut di negeri konflik, ia bukan hanya panggilan salat, melainkan alarm moral. Ia mengingatkan bahwa iman tanpa aksi sosial adalah setengah jalan.

Dari perspektif ekonomi-politik, penguatan solidaritas intra-umat dapat dimulai dari optimalisasi zakat dan wakaf produktif. Laporan Islamic Development Bank menunjukkan bahwa potensi zakat global mencapai ratusan miliar dolar per tahun, namun realisasi dan distribusinya masih jauh dari optimal. Jika dikelola secara transparan dan profesional, instrumen ini dapat menjadi solusi konkret mengurangi kemiskinan dan dampak konflik.

Akhirnya, makna Ramadhan bagi dunia Islam yang terbelah terletak pada kemampuannya mentransformasi kesalehan individu menjadi kesadaran kolektif. Mengutip Shariati, “Setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala,” yang secara simbolik berarti bahwa perjuangan melawan ketidakadilan selalu relevan. 

Dalam konteks Ramadan, setiap adzan di negeri konflik adalah pengingat bahwa spiritualitas sejati menuntut keberanian moral.

Dengan demikian, Ramadan bukan sekadar bulan ritual, tetapi momentum refleksi geopolitik dan etika global. Dunia Islam mungkin terbelah oleh batas negara, ideologi, dan kepentingan politik, tetapi ia tetap disatukan oleh satu kalender lunar yang sama. 

Ketika adzan bersahut, ia melampaui batas geografis. Ia menghubungkan umat dalam satu irama waktu. Pertanyaannya bukan lagi apakah Ramadan relevan, tetapi apakah umat siap menjadikannya fondasi rekonsiliasi, keadilan, dan kebangkitan peradaban.

  • Penulis: Subhan Samsudin
  • Editor: Redaktur Balengco

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua Panitia Konfercab NU ke II Kota Tidore Kepulauan, Jafar Noh Idrus (tengah), bersama Ketua Wilayah NU Kiai Amar Manaf (kanan) saat pembukaan Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (NU) ke II di Aula SMK Negeri 1 Kota Tidore Kepulauan, Sabtu (20/12/2025).

    Konfercab NU Ke II Tidore Kepulauan Resmi Digelar, Teguhkan Peran NU Bangun Peradaban Dunia

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 591
    • 0Komentar

    Tidore Kepulauan (BALENGKO) – Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) ke II Kota Tidore Kepulauan resmi digelar di Aula SMK Negeri 1 Kota Tidore Kepulauan, Sabtu (20/12/2025). Kegiatan ini mengusung tema “Meneguhkan Eksistensi NU Dalam Membangun Peradaban Dunia”. Konfercab menjadi momentum penting bagi Nahdlatul Ulama dalam memilih kepemimpinan baru sekaligus membentuk kepengurusan yang solid untuk […]

  • Penyebaran virus flu burung H5N1 pada satwa liar di Australia

    Flu Burung H5N1 Infeksi Burung Laut Lokal Pertama di Australia

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 198
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, SYDNEY – Pemerintah Australia secara resmi mengonfirmasi temuan kasus pertama virus flu burung H5N1 yang mematikan pada spesies burung laut lokal. Di saat yang sama, otoritas kesehatan hewan setempat juga tengah melakukan pengujian laboratorium terhadap seekor anjing laut yang mati, memicu kekhawatiran bahwa patogen ini mulai menyebar lebih luas ke satwa endemik sejak […]

  • Keluarga pasien melaporkan dugaan kelalaian pelayanan medis RSUD Sanana Kabupaten Kepulauan Sula.

    Keluarga Laporkan Dugaan Kelalaian RSUD Sanana yang Sebabkan Pasien Meninggal Dunia

    • calendar_month Selasa, 16 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 384
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Sanana, 16 September 2025 – Seorang warga Kabupaten Kepulauan Sula, Manaf Umaternate, resmi melaporkan dugaan kelalaian pelayanan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanana. Laporan tersebut menyebut bahwa kelalaian petugas medis berujung pada meninggalnya putri kandungnya, Raina Umaternate, pada Sabtu (13/9/2025) dini hari. Kronologi Kejadian Berdasarkan pengaduan tertulis, pasien Raina Umaternate dibawa […]

  • Resmi Dilantik di Daruba: DPC GAMKI Morotai 2026-2029 Fokus Topang Program Gereja dan Pemerintah Daerah

    Resmi Dilantik di Daruba: DPC GAMKI Morotai 2026-2029 Fokus Topang Program Gereja dan Pemerintah Daerah

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 94
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Pulau Morotai masa bakti 2026–2029 resmi dilantik dalam sebuah acara yang berlangsung khidmat di Gereja GMIH Getsemani Daruba, pada Selasa, 15 September 2026. Acara ini juga dirangkaikan dengan Rapat Kerja (Raker) untuk menyusun program strategis organisasi ke depan. Dalam sambutannya, […]

  • Homestay Murah dan Nyaman di Kota Ternate, Dekat Bandara Sultan Babullah dan Pelabuhan

    Homestay Murah dan Nyaman di Kota Ternate, Dekat Bandara Sultan Babullah dan Pelabuhan

    • calendar_month Rabu, 15 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 920
    • 0Komentar

    Foto : Shutterstock/Nuralam/Istimewa Maluku Utara adalah surga tersembunyi dengan kekayaan alam yang memukau. Dari sektor pertanian, pertambangan, hingga pariwisata, provinsi ini menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Tidak hanya menawarkan pemandangan menakjubkan, Maluku Utara juga menjadi destinasi favorit bagi mereka yang mencari pengalaman baru dan unik. Kota Ternate, sebagai salah satu pintu gerbang menuju Pulau […]

  • Direktur RS Pratama Bisui Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Bupati dan Wakil Bupati Halmahera Selatan

    Direktur RS Pratama Bisui Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Bupati dan Wakil Bupati Halmahera Selatan

    • calendar_month Kamis, 6 Feb 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 989
    • 0Komentar

    Sumber Foto : Istimewa Bisui,(6/2/25) – Direktur Rumah Sakit Pratama Bisui, dr. Elisabeth Bernadete, beserta seluruh staf dan tenaga medis mengucapkan selamat kepada Bapak Hasan Ali Bassam Kasuba dan Bapak Helmi Umar Muchsin atas terpilihnya sebagai Bupati dan Wakil Bupati Halmahera Selatan. “Kami mengucapkan selamat atas terpilihnya Bapak Hasan Ali Bassam Kasuba dan Bapak Helmi […]

expand_less