JALUR ENERGI, DOLAR, DAN HEGEMONI: IRAN DAN AS MEMPENGARUHI EKONOMI ASIA PASIFIK
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 139
- comment 0 komentar

Ilustrasi Source : Istimewa
Jalur Energi dan Hegemoni: Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat strategis, berfungsi sebagai jembatan penghubung antara Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Jalur ini menjadi rute utama pengiriman minyak mentah, dengan volume mencapai lebih dari seperlima dari total minyak yang diperdagangkan secara global setiap tahunnya. Negara-negara konsumen utama yang mengandalkan jalur ini meliputi China, Jepang, dan India. Gangguan sedikit saja terhadap kelancaran pelayaran di selat ini akan memicu gejolak besar pada harga energi di seluruh dunia. Memangnya, ancaman keamanan atau ketegangan politik di kawasan tersebut mampu menggerakkan pasar minyak global secara signifikan, yang pada akhirnya memberatkan biaya energi bagi masyarakat Asia Pasifik.
Bagi negara-negara yang mengimpor energi dari kawasan Timur Tengah, situasi ini menempatkan mereka dalam posisi yang cukup rumit. Mereka dituntut untuk mengambil keputusan strategis, antara tetap menyelaraskan kebijakan dengan Amerika Serikat atau mencari sumber energi alternatif dari wilayah lain. Namun, mencari pengganti pasokan energi dari Timur Tengah bukanlah hal yang mudah, mengingat keterbatasan infrastruktur dan ketersediaan sumber energi lain yang memadai. Di sisi lain, Iran terus berupaya mempertahankan pengaruhnya atas jalur pelayaran strategis ini. Meskipun menghadapi berbagai tekanan ekonomi akibat sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya, Iran tetap bersikeras untuk menjaga kontrol atas selat yang menjadi urat nadi perdagangan energi global tersebut. Upaya mempertahankan posisi ini tidak terlepas dari kepentingan ekonomi maupun geopolitik Iran dalam dinamika pasar energi dunia.
Dolar dan Ketergantungan Ekonomi: Dampak terhadap Asia Pasifik
Keterbatasan yang sering luput dari perhatian dalam wacana ketegangan Iran-AS adalah ketergantungan kawasan Asia Pasifik pada mata uang dolar AS. Dalam perdagangan energi global khususnya transaksi minyak dan gas dolar masih mendominasi sebagai alat pembayaran utama. Kondisi ini menempatkan Amerika Serikat pada posisi strategi yang sangat kuat, karena negara-negara Asia Pasifik mewajibkan ketersediaan cadangan dolar untuk memenuhi kebutuhan impor energi.
Ketergantungan semacam ini menciptakan ketimpangan struktural yang signifikan. Ketika AS menetapkan kebijakan moneter seperti kenaikan suku bunga atau menjatuhkan sanksi kepada negara tertentu, dampak riilnya segera terasa di kawasan Asia Pasifik. Fluktuasi nilai dolar dan likuiditas dapat menggoyahkan stabilitas perekonomian daerah. Sanksi AS terhadap Iran menjadi bukti nyata posisi bagaimana adikuasa dapat memanfaatkan dolar sebagai instrumen politik. Ketika Iran dilindungi dari jaringan keuangan internasional, negara-negara yang melanjutkan hubungan dagang dengan Teheran terancam kehilangan akses ke sistem perbankan global. Situasi ini semakin memperdalam ketergantungan kawasan Asia Pasifik pada kebijakan ekonomi AS, sekaligus memperkuat dominasi Washington dalam dinamika pasar energi global.
- Penulis: Fahri Sibua Magister Akuntansi
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar