Sindrom Pahlawan Kesiangan: Ketika Kekuasaan Melahirkan Kebijakan Berbasis Selera
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 33
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi : Istimewa
Tahta mu, tidak harus membawa mu ke jurang penghancuran, duhai kau saudara pemimpin ku. Mohon maaf dengan segala hormat, aku mencintai mu, satu yang harus kau tahu, engkau, aku dan kita semua, harus sadar diri, siapa diri kita yang sebenarnya. Kita harus tahu itu. Kalau tidak, maka “jahil” akan tetap menjadi kita, untuk selamanya, Kawan. Tolong sekali lagi, jangan jadikan kursi mu, membuat engkau lupa diri. Tapi jadikanlah kursi mu, membawa mu pada Ilahi, agar engkau bisa melihat mana surga, mana neraka dan mana dunia akhirat kita.
Kebijakan jangan dilahirkan atas dasar selera. Jangan pula mengambil Keputusan hanya dari satu sudut pandang saja. Sebab, semua itu hanya akan menciptakan konflik dan selalu ada yang menjadi korban. Apakah engkau tidak dapat melihat? Sungguh cilaka, jika engkau ada di balik semua kisah kelam yang mencekam dan menelan banyak korban. Lantas dengan sombongnya engkau merasa diri mu sang pahlawan. Kau anggap si korban buta? Jangan Kawan, sekali lagi jangan. Karena kelak engkau akan tahu jawaban mutlaknya.
Sekarang masih kau rasakan nikmatnya kekuasaan. Hanya saja, semua itu jika tanpa engkau tahu, nikmatnya justru nikmat busuk yang sekedar dibalut dengan kado yang wangi. Esensinya, nanti kelak engkau akan tahu. Pengetahuan itu, hanya akan diperoleh dengan cara terus membaca sampai kita sadar diri. Kalau belum sampai, teruslah berusaha jangan berhenti sampai di situ. Sebab semua tidaklah instan. Butuh proses dan perjuangan.
Wahai penguasa ada saatnya nanti kenikmatan busuk yang engkau rasa hebat tersebut akan mati dan pergi meninggalkan mu untuk selamanya. Jika kau tak segera sadar dan kau termasuk kategori “gila jabatan”, maka di situlah engkau akan merasa kehilangan yang sangat berat. Kehilangan yang kalau engkau sadar, bukanlah sebuah persoalan. Namun, bila belum engkau menyadarinya, maka engkau bisa jadi seperti orang yang telah kehilangan arah dalam kehidupan. Ini yang perlu kita pertimbangkan Kawan. Jangan sampai kita termasuk kategori golongan yang ini. Maka marilah sama – sama kita belajar dan berproses Kawan.
Pada momentum idul adha kali ini, marilah kita beranjak untuk introspeksi diri agar terhindar dari sikap jahil. Dalam momentum ini, secara syariat kita akan menyaksikan prosesi penyembelihan qurban secara serentak di seluruh dunia. Orang – orang akan berbondong dan bahu membahu untuk menyaksikan dan membantu secara langsung agenda akbar tersebut.
Sebagai orang yang berakal, kita harus pintar membaca. Kenapa hewan yang harus disembelih? Ada apa di balik penyembelihan itu? Apa hikmahnya? Di sinilah orang – orang yang sadar diri akan terlihat beda dari yang lain. Perbedaan di sini tidak bermaksud mengkotak – kotak. Perbedan itu hanya untuk diketahui agar kita semua bisa bersama – sama untuk berproses menuju ke sana. Dalam Bahasa agama disebut dengan fastabiqul Khairat.
- Penulis: Oleh: Hamdy M. Zen Dosen PBA IAIN Ternate
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media
- Sumber: Fahrul Abd.Muid

Saat ini belum ada komentar