Sindrom Pahlawan Kesiangan: Ketika Kekuasaan Melahirkan Kebijakan Berbasis Selera
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 34
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi : Istimewa
Hewan yang disembelih di sini, maksudnya Adalah kita dituntut untuk “menyembelih” sifat – sifat kehewanan yang masih menguasi diri kita (iri, dengki, benci dan lain sejenisnya). Artinya bahwa kita harus menyembelih semua sifat buruk tersebut. Karena sifat buruk itulah yang membuat kita menjadi orang yang jahil. Orang yang selalu merasa diri paling benar dan tahu. Orang yang suka menyalahkan orang lain. Bahkan orang yang cenderung mencari kambing hitam dan suka membongkar aib orang lain, padahal aibnya sendiri banyak tapi ditutup rapat. Sehingga, berlagak seperti orang paling suci atas muka bumi ini.
Sementara itu, hewan yang disembelih, dibersihkan terlebih dahulu, pisau yang digunakan untuk menyembelih diasah sampai benar – benar tajam. Tujuannya agar hewan yang disembelih tidak merasa tersiksa. Apa maksud dari semua proses yang begitu? Maksudnya Adalah tanamkan sifat hormat ke dalam diri. Hewan saja diperlakukan seperti itu, bagaimana dengan sesama manusia? Kenapa sesama kita harus saling menjatuhkan? Seharusnya kita saling sayang – menyayangi dan hormat menghormati. Bukan malah sebaliknya.
Ayat al-qur’an yang paling pertama dibuka bukan persoalan kebesaran, tapi dibuka dengan kasih sayang, yakni Bismillahir rahmanir rahimi. Pesannya jelas, yaitu jadilah rahmatan lil’alamin bukan malah mudharatan lil’alamin. Alquran dibukan dengan kasih sayang, barulah ditutup dengan kesadaran bahwa di atas kita Adalah Tuhan sang Maha Penguasa manusia dan alam seisinya. Dari sinilah baru terbentuknya manusia sejati (annas). Wahai para penguasa, mohon maaf tidak bermaksud menggurui, jadilah orang yang berilmu, jangan jadi penguasa yang jahil. Sebab jahil arahnya nanti Adalah kehancuran. Sesungguhnya kehancuran Adalah tempat yang paling sia – sia di atas segalanya. Mari sama – sama kita bermohon kepada sang Maha Kuasa, agar memberi petunjuk jalan yang benar dan lurus kepada kita semua, agar kita terhindar dari sikap jahil. Karena jahil itu sendiri, merupakan sebuah sikap yang justru membawa kita pada kebodohan yang sejati. Kebodohan inilah yang membuat kita masuk dalam kategori seperti dalam surat yang kedua (Albaqarah/Sapi betina).
- Penulis: Oleh: Hamdy M. Zen Dosen PBA IAIN Ternate
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media
- Sumber: Fahrul Abd.Muid

Saat ini belum ada komentar