Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Dari Krisis Global Menuju Modernitas Cair: Membaca Zygmunt Bauman di Era Perang dan Algoritma

Dari Krisis Global Menuju Modernitas Cair: Membaca Zygmunt Bauman di Era Perang dan Algoritma

  • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
  • visibility 249
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Dari Krisis Global Menuju Modernitas Cair:

Membaca Zygmunt Bauman di Era Perang dan Algoritma

Subhan Samsudin

Dua dekade pertama abad ke-21 memperlihatkan dunia yang bergerak dalam ketidakpastian yang nyaris konstan. Perang tidak lagi menjadi peristiwa yang jarang terjadi, melainkan hadir sebagai latar belakang berita harian. 

Ketegangan geopolitik di Eropa Timur, konflik berkepanjangan di Timur Tengah, rivalitas ekonomi antara kekuatan besar dunia, hingga ancaman perang siber membentuk suasana global yang sarat kecemasan. Pada saat yang sama, dunia juga mengalami percepatan revolusi digital yang mengubah cara manusia bekerja, berinteraksi, dan memahami realitas.

Krisis kesehatan global akibat pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu mempertegas rasa rapuh tersebut. Sistem kesehatan kolaps di banyak negara, ekonomi terguncang, mobilitas dibatasi, dan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Tidak lama setelah pandemi mereda, dunia kembali dihadapkan pada krisis energi, inflasi, dan ketidakstabilan pasar global. Seolah-olah krisis datang silih berganti tanpa jeda yang jelas.

Fenomena serupa juga terasa di Indonesia. Perubahan pola kerja akibat digitalisasi memperluas ekonomi berbasis platform, tetapi sekaligus meningkatkan ketidakpastian kerja. Polarisasi politik dalam beberapa momentum pemilu menunjukkan bagaimana ruang publik terbelah tajam oleh narasi identitas dan opini yang diperkuat oleh media sosial. 

Generasi muda menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan kompetensi agar mampu bertahan dalam persaingan global yang tidak stabil. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat semakin bergantung pada algoritma untuk memperoleh informasi, membangun relasi, bahkan menentukan preferensi konsumsi.

Dari pengalaman konkret inilah muncul pertanyaan: mengapa dunia terasa semakin tidak stabil? Apakah konflik, polarisasi, dan kecemasan sosial ini hanya rangkaian peristiwa terpisah, ataukah bagian dari transformasi sosial yang lebih dalam? Untuk memahami pola tersebut, gagasan Zygmunt Bauman tentang modernitas cair menawarkan kerangka refleksi yang relevan.

Jika kita mengamati dinamika global hari ini, satu kata yang sering muncul adalah ketidakpastian. Masa depan ekonomi sulit diprediksi, pekerjaan tidak lagi menjanjikan stabilitas jangka panjang, dan hubungan antarnegara mudah berubah mengikuti kepentingan strategis.

Di tingkat individu, ketidakpastian itu terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Pekerjaan kontrak menggantikan posisi permanen. Karier tidak lagi bersifat linear, melainkan berpindah-pindah lintas sektor. Pendidikan tidak menjamin keamanan ekonomi. Bahkan relasi personal pun mengalami perubahan; pertemanan dan hubungan romantis sering kali terbentuk dan berakhir dengan cepat, dipengaruhi oleh dinamika media sosial.

Di Indonesia, fenomena ini terlihat dalam pertumbuhan gig economy, dimana banyak orang bekerja sebagai pengemudi daring, pekerja lepas digital, atau kreator konten. Model kerja semacam ini memberikan fleksibilitas, tetapi minim perlindungan jangka panjang. Sementara itu, tekanan untuk tampil sukses di ruang digital menciptakan standar sosial baru yang sering kali tidak realistis.

Secara global, masyarakat menghadapi ancaman perubahan iklim, krisis pangan, serta ketimpangan ekonomi yang semakin tajam. Ketidakpastian bukan lagi pengecualian, melainkan pengalaman kolektif yang hampir universal.

Selain ketidakpastian ekonomi, gejala lain yang menonjol adalah polarisasi sosial. Di banyak negara, masyarakat terbelah dalam isu politik, agama, identitas, dan ideologi. Ruang dialog semakin menyempit, digantikan oleh perdebatan sengit di media sosial.

Algoritma digital memainkan peran penting dalam fenomena ini. Sistem rekomendasi konten dirancang untuk menyesuaikan preferensi pengguna, sehingga individu cenderung terpapar pada informasi yang sejalan dengan pandangannya. Akibatnya, terbentuklah ruang gema yang memperkuat keyakinan kelompok masing-masing dan memperlemah dialog lintas perspektif.

Indonesia pun tidak terlepas dari dinamika tersebut. Polarisasi politik dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bagaimana identitas dapat menjadi alat mobilisasi sekaligus sumber konflik. Penyebaran hoaks dan disinformasi memperumit situasi, menimbulkan ketidakpercayaan terhadap institusi publik.

Fragmentasi ini tidak hanya terjadi dalam politik, tetapi juga dalam relasi sosial sehari-hari. Komunitas yang dahulu menjadi ruang solidaritas kini tergeser oleh jaringan digital yang lebih luas namun kurang mendalam. Hubungan menjadi lebih cepat terbentuk, tetapi juga lebih mudah terputus.

Dari berbagai fenomena tersebut, kita dapat menarik sebuah pola umum: struktur sosial yang dulu relatif stabil kini berubah menjadi lebih fleksibel dan rapuh. Di sinilah konsep modernitas cair dari Zygmunt Bauman menjadi relevan.

Dalam karyanya Liquid Modernity (2000), Bauman menggambarkan perubahan dari modernisasi “padat” menuju modernitas “cair.” Pada fase modernitas sebelumnya, kehidupan sosial ditopang oleh institusi yang kuat dan relatif permanen: pekerjaan tetap, komunitas lokal, keluarga besar, serta identitas yang diwariskan secara turun-temurun. Struktur tersebut memberikan rasa arah dan stabilitas.

Namun dalam modernitas cair, struktur itu melemah. Segala sesuatu menjadi sementara, fleksibel, dan mudah berubah. Identitas tidak lagi diberikan, melainkan harus dibangun dan dipertahankan secara terus-menerus. Individu dituntut menjadi arsitek kehidupannya sendiri tanpa jaminan kolektif yang kuat.

Bauman melihat bahwa dalam kondisi ini, kebebasan meningkat tetapi keamanan menurun. Individu memiliki lebih banyak pilihan, namun juga memikul lebih banyak risiko. Ketidakpastian menjadi bagian inheren dari kehidupan modern.

Dalam konteks geopolitik, modernitas cair membantu menjelaskan mengapa konflik tampak semakin kompleks dan sulit diselesaikan. Hubungan antarnegara tidak lagi diatur oleh keseimbangan kekuatan yang stabil, melainkan oleh kepentingan yang cepat berubah. Aliansi dapat bergeser, sanksi ekonomi digunakan sebagai instrumen politik, dan perang informasi menjadi bagian dari strategi global.

Ketidakamanan global ini mencerminkan apa yang Bauman sebut sebagai “unsicherheit,” yaitu gabungan antara ketidakpastian, ketidakamanan, dan kerentanan. Masyarakat hidup dalam kondisi di mana masa depan sulit direncanakan, dan ancaman dapat muncul secara tiba-tiba.

Di Indonesia, meskipun tidak terlibat langsung dalam perang besar, dampak konflik global tetap terasa melalui fluktuasi harga energi, gangguan rantai pasok, dan tekanan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa dalam dunia yang saling terhubung, krisis di satu kawasan dapat dengan cepat memengaruhi kawasan lain.

Jika perang memperlihatkan ketidakstabilan di tingkat global, algoritma mempercepat kecairan di tingkat sosial dan kultural. Teknologi digital tidak hanya mengubah cara komunikasi, tetapi juga membentuk cara manusia memahami dirinya sendiri.

Identitas kini dibangun melalui citra digital: jumlah pengikut, tanda suka, dan representasi visual diri. Konsumsi bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan cara membangun makna sosial. Individu terus memperbaiki diri agar tetap relevan dalam arus informasi yang cepat.

Di Indonesia, generasi muda tumbuh dalam lingkungan digital yang intens. Media sosial menjadi ruang utama untuk berekspresi, berjejaring, dan bahkan mencari nafkah. Namun, ruang ini juga menghadirkan tekanan psikologis, mulai dari perbandingan sosial, kecemasan performatif, dan kebutuhan akan validasi terus-menerus.

Dalam perspektif Bauman, algoritma memperkuat karakter cair masyarakat modern. Perubahan terjadi begitu cepat sehingga stabilitas menjadi sulit dipertahankan. Individu harus terus beradaptasi, belajar ulang, dan mengelola citra diri.

Jika ditarik secara induktif dari fenomena perang, polarisasi, ketidakpastian ekonomi, dan revolusi digital, dapat disimpulkan bahwa dunia tidak sekadar mengalami serangkaian krisis terpisah. Dunia sedang berada dalam kondisi struktural yang memproduksi krisis secara berulang.

Modernitas cair menjelaskan bahwa ketika institusi melemah dan solidaritas kolektif berkurang, masyarakat menjadi lebih rentan terhadap guncangan. Ketidakstabilan bukan lagi gangguan sementara, melainkan ciri bawaan sistem sosial.

Di Indonesia, tantangan ini menuntut refleksi mendalam. Nilai gotong royong dan solidaritas sosial yang menjadi ciri khas budaya lokal menghadapi tekanan dari individualisasi dan kompetisi global. Jika tidak dikelola dengan bijak, kecairan sosial dapat memperlemah kohesi masyarakat.

Pemikiran Bauman tidak hanya bersifat diagnostik, tetapi juga mengajak refleksi etis. Jika dunia memang cair, bagaimana manusia dapat membangun kembali makna dan solidaritas?

Pertama, diperlukan penguatan institusi sosial yang mampu memberikan perlindungan tanpa mengekang kebebasan. Kedua, literasi digital menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam polarisasi algoritmik. Ketiga, solidaritas komunitas perlu diperbarui dalam bentuk yang relevan dengan zaman.

Bagi Indonesia, tantangan ini sekaligus peluang. Dengan populasi muda yang besar dan budaya komunal yang kuat, Indonesia memiliki modal sosial untuk merespons kecairan global secara kreatif. Namun, hal tersebut memerlukan kebijakan publik yang inklusif serta kesadaran kolektif akan pentingnya keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab sosial.

Berangkat dari pengalaman konkret abad ke-21 – perang, krisis ekonomi, polarisasi digital, dan perubahan sosial di Indonesia – kita dapat melihat pola umum berupa meningkatnya ketidakpastian dan melemahnya struktur sosial yang stabil.

Konsep modernitas cair dari Zygmunt Bauman memberikan lensa teoritis untuk memahami kondisi tersebut. Dunia saat ini bukan hanya menghadapi krisis yang terpisah-pisah, melainkan hidup dalam sistem yang secara struktural cair dan fleksibel. Kebebasan individu meningkat, tetapi jaminan kolektif melemah.

Tantangan terbesar abad ini bukan sekadar mengelola teknologi atau menyelesaikan konflik geopolitik, melainkan menemukan kembali bentuk solidaritas dan stabilitas dalam dunia yang terus berubah. Dalam konteks global maupun Indonesia, refleksi atas modernitas cair menjadi langkah penting untuk memahami arah masa depan kemanusiaan.

  • Penulis: Subhan Samsudin
  • Editor: Redaktur Balengco

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Source : Istimewa

    UNIT STUDI HUKUM PERDATA MULAI AUDIENSI DENGAN KESBANGPOL DIY UNTUK KEGIATAN “LIVING LAW”

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Andika
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Yogyakarta (BALENGKO) – Unit Studi Hukum Perdata secara resmi memulai langkah awal pelaksanaan program Living Law melalui audiensi bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah Istimewa Yogyakarta (Kesbangpol DIY), yang berlangsung di Kantor Kesbangpol DIY. Audiensi ini menjadi momentum penting dalam membangun sinergi antara mahasiswa dan pemerintah daerah, khususnya dalam mendukung kegiatan akademik yang berbasis […]

  • Perwakilan Solidaritas IPM-HT se-Pulau Jawa menyerahkan surat rekomendasi berisi enam poin tuntutan pendidikan kepada pihak CSR PT ANTAM Tbk di Jakarta Selatan. Para mahasiswa mendesak perusahaan BUMN tersebut untuk lebih nyata dalam mendukung pengembangan SDM asal Halmahera Timur. FOTO: ISTIMEWA

    Mahasiswa Halmahera Timur se-Pulau Jawa Desak PT ANTAM Tbk Tingkatkan Kontribusi Pendidikan dan Kesejahteraan Mahasiswa

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 797
    • 0Komentar

    JAKARTA (BALENGKO) – Sejumlah organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Ikatan Pelajar Mahasiswa Halmahera Timur (IPM-HT) se-Pulau Jawa melakukan audiensi strategis dengan manajemen PT ANTAM Tbk di Kantor Pusat Antam, Jakarta Selatan pada 23 Januari 2025 . Pertemuan ini bertujuan menuntut kejelasan komitmen perusahaan plat merah tersebut terhadap sektor pendidikan bagi mahasiswa asal Halmahera Timur […]

  • Source : Istimewa

    Bisa Ganggu Proses Hukum, GP Ansor Morotai Soroti Tekanan Opini Kasus Tunjangan DPRD

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 225
    • 0Komentar

    MOROTAI (BALENGKO) – Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Pulau Morotai, Safrudin Boy, memberikan pernyataan tegas terkait perkembangan dugaan persoalan tunjangan di DPRD Provinsi Maluku Utara periode 2019–2024. Ia menekankan bahwa penanganan perkara yang kini tengah diproses oleh Kejaksaan Tinggi Maluku Utara harus tetap berada dalam koridor negara hukum yang murni. Dalam keterangannya di Pulau Morotai […]

  • Source : Istimewa

    Mahasiswa dan Krisis Kepedulian Sampah: Lingkungan Kampus Masih Penuh Dengan Sampah

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 515
    • 0Komentar

    Lingkungan yang alami, aman dan nyaman selalu menjadi keinginan bagi setiap manusia, terutama dilingkungan kampus supaya Mahasiswa/i dalam melaksanakan berbagai aktivitas pembelajaran terutama dalam menghadapi isu lingkungan yang semakin hari berdampak. Mahasiswa merupakan Agen Perubahan serta generasi penerus bangsa, selalu dituntut untuk mampu membawa perubahan dimanapun berada, termasuk dilingkungan kampus itu sendiri. Eksistensi kesadaran Mahasiswa […]

  • Aksi Bersih Serentak Maluku Utara

    Wakil Gubernur Maluku Utara Buka Aksi Bersih WCD 2025 Sofifi

    • calendar_month Sabtu, 20 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 422
    • 0Komentar

    Sofifi (BALENGKO SPACE) 20 September 2025 – Aksi Bersih Maluku Utara berlangsung di Pelabuhan Speed Sofifi dalam rangka World Clean Up Day (WCD) 2025. Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, S.Ag., M.Pd.I, membuka kegiatan ini dan mengajak masyarakat menumbuhkan budaya hidup bersih. Kegiatan dimulai pukul 07.36 WIT. Sejumlah pejabat hadir mendampingi, antara lain Staf […]

  • source : Istimewa

    POST POWER SYNDROME ‘RACUN GALAFEA’

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua GP. Ansor Malut
    • visibility 616
    • 0Komentar

    Seseorang yang memiliki mental lemah-dha’if dan belum siap menghadapi hilangnya jabatan-kekuasaan karena orang itu tidak terpilih lagi untuk periode selanjutnya dalam sebuah jabatan akan mengalami shock-pukulan batin yang menyiksa dirinya. Dari kondisi shock ini, muncul perasaan-perasaan sedih, takut, cemas, rasa inferior-rendah diri, tidak berguna, putus asa, bingung, dan rasanya mau gila saja. Semua gejala-gejala rohaniah […]

expand_less