Filosofi Idul Fithri: Mengembalikan Jati Diri Manusia
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 48
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh: Dr. Fahrul Abd. Muid, S.Th.I., MA Penulis adalah Dosen IAIN Ternate dan Wakil Ketua PW. GP. Ansor Malut . Source : Istimewa
Setiap kali kita merayakan hari raya ‘Idul Fitri, kita selalu dituntut untuk merenungkan dan menghayati pesan-pesan moral—al-mawaa’izh al-akhlaaqiyyah yang terkandung dalam Idul Fitri itu. Pesan-pesan itu sesungguhnya dapat ditelusuri lewat kata ‘Idul Fitri itu sendiri. ‘Idul Fitri adalah kata majemuk—tarkib al-idhafi yang terdiri dari kata ‘id dan al-fitr. Kata ‘id semula berasal dari kata ‘aud, yang berarti kembali. Hari raya disebut ‘id karena ia kembali dalam setiap tahun menemui kita. Sementara kata ‘al-fithr’ atau ‘al-fithra’h adalah sifat dasar asal kejadian bagi setiap makhluk. Maka apabila disebutkan fithrah manusia, hal itu berarti sifat-sifat dasar manusia ketika ia pertama kali diciptakan, sebelum ia tercemar oleh sifat-sifat lain setelah ia hidup di dunia ini. Maka ‘Idul Fitri dapat berarti kembalinya manusia kepada sifat-sifat aslinya ketika ia diciptakan pertama kali oleh Allah Swt—setiap anak manusia yang baru dilahirkan pasti dirinya dalam keadaan suci—fithrah yang membuat dirinya sebagai penganut agama tertentu adalah kedua orang tuanya. Dan itulah kehendak Allah Swt—Tuhan Yang Maha Kuasa.
Kini, apakah sifat-sifat asli manusia ketika ia diciptakan pertama kali itu masih bertahan dalam dirinya? Berikut ini akan dicoba diketengahkan sifat-sifat tersebut sebelum hal itu dicemari oleh sifat-sifat lain setelah manusia itu bergumul dengan kehidupan dunia. Dengan demikian, sejatinya manusia dapat mendeteksi dirinya, sejauh mana ia mampu mengembalikan dirinya kepada karakteristik dasar itu sehingga ia kembali menjadi manusia yang memiliki karakter manusia seperti pertama kali ia diciptakan oleh Allah Swt. Maka ada beberapa sifat dasar manusia, yang pertama adalah manusia diciptakan semata-mata sebagai pengabdi Allah Swt, dalam Surah al-Dzaariyaat ayat 56, Allah Swt berifrman, “dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali hanyalah agar mereka mengabdi kepada-Ku”. Mengabdi kepada Allah Swt adalah taat kepada-Nya dan tidak taat kepada selain-Nya. Taat kepada Allah Swt ini merupakan perwujudan dari-pada iman manusia kepada-Nya, karena pada dasarnya makhluk yang bernama manusia itu sejak semula telah beriman kepada Allah Swt. Allah pernah menanyakan kepada ruh-ruh manusia, “bukankah Aku ini Tuhanmu semua? Mereka menjawab, “betul, Engkau Tuhan kami, dan kami menjadi saksi”. (rujuk QS. al-‘araf, 172). Tidak ada satu manusia pun di atas dunia ini yang tidak mengakui bahwa pencipta dunia ini adalah Allah Swt—manusia bukan makhluk atheis—ketidakpercayaan pada keberadaan Tuhan. Bahkan orang-orang musyrik pun apabila ditanyakan kepada mereka, siapa yang menciptakan langit dan dunia ini semuanya, mereka akan menjawab bahwa yang mencipatakan seluruhnya itu adalah Allah Swt. (rujuk QS. Luqman, 25). Ini artinya bahwa watak dasar manusia itu adalah beriman dan ia diciptakan sebagai makhluk yang beribadah kepada Allah Swt. Namun kenapa ada manusia-manusia yang tidak loyal kepada Allah Swt, padahal ia telah memiliki potensi atau benih sebagai makhluk yang beriman?
- Penulis: Dr. Fahrul Abd. Muid, S.Th.I., MA
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media
- Sumber: Penulis adalah Dosen IAIN Ternate dan Wakil Ketua PW. GP. Ansor Malut

Saat ini belum ada komentar