Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Titelfikasi dan Mimikri: Lahirnya Sarjana di Era AI

Titelfikasi dan Mimikri: Lahirnya Sarjana di Era AI

  • calendar_month 14 jam yang lalu
  • visibility 66
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Orang-orang hidup dengan meniru. Cara berpakaian dipelajari dari sekitar, cara menulis diserap dari yang sering dibaca, cara beretorika ditiru dari yang dianggap meyakinkan. Tanpa sadar, tumbuh, kembang manusia bergerak dalam pola pengulangan. Aristoteles menyebut manusia itu homo mimesis (makhluk peniru). Artinya, makhluk yang belajar dengan cara menyalin dunia di sekitarnya. Apa yang awalnya ditiru, lama-lama menjadi kebiasaan. Dan dari kebiasaan itulah cara berpikir terbentuk.

 Pikiran melahirkan tindakan, tindakan menghasilkan kebiasaan, kebiasaan membuahkan   karakter, dan karakter menciptakan nasib”.  Kutipan Aristoteles.

Dalam dunia pendidikan, terutama Ilmu Komunikasi, proses ini seharusnya menjadi pintu masuk untuk memahami, bukan sekadar mengulang. Tapi yang sering terjadi justru sebaliknya. Mahasiswa tampak “pintar” karena mampu meniru bentuk, struktur tulisan rapi, argumen terlihat logis, diksi terasa akademik, padahal di balik itu, pemahaman belum tentu tumbuh. Seperti konsep psikologi yang dikemukakan Albert Bandura (1977) melalui Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial) menjelaskan bahwa sesorang belajar dari observasi dan imitasi perilaku orang lain, bukan hanya dari pengalaman langsung. Namun Bandura tidak pernah berhenti pada imitasi. Ia menekankan adanya proses internalisasi, sesuatu yang justru sering hilang hari ini.

Tulisan, pada akhirnya, menjadi penanda paling jujur. Fenomena ini (terutama dengan AI) mahasiswa langsung ke tahap reproduksi tanpa benar-benar melalui proses pemahaman yang sistematis. Bagaimana memahami realitas ontologi (hakikat keberadaan), kebenaran epistemologi (metode pengetahuan), dan etika secara mendalam aksiologi (nilai atau kegunaan).  Dari sana, cara berpikir seseorang terbuka. Apakah ia benar-benar menyusun pengetahuan, atau hanya menyalin ulang apa yang sudah ada sekedar copast (copy paste). Persoalan ini kemudian diperkuat , di Indonesia, gelar akademik kerap berdiri sendiri, seolah cukup sebagai legitimasi sampai kedalaman berpikir tidak selalu ikut diperiksa. Justru lahirnya lulusan yang tampak siap di atas kertas, tetapi gagap ketika harus menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi disiplin ilmu pengetahuannya sendiri.

Dalam situasi seperti ini, kajian Ilmu Komunikasi lewat karya tersohor Kurt Lewin (1943) berjudul gatekeeping (penjaga gerbang) awalnya untuk menggambarkan bagaimana keputusan dalam rumah tangga memengaruhi pola konsumsi makanan.  Artinya, bagaimana makanan sampai ke meja makan tidak terjadi begitu saja. Ada proses memilih: bahan apa yang dibeli, apa yang dimasak, apa yang akhirnya disajikan. Di setiap titik itu, ada “gerbang”. Dan di setiap gerbang, ada keputusan.

Jika ditarik ke dunia pengetahuan, logikanya tidak jauh berbeda. Informasi yang sampai ke publik, atau bahkan ke tulisan mahasiswa, seharusnya melewati tahapan serupa. Tidak semua yang ditemukan langsung digunakan. Tidak semua yang terdengar “ilmiah” layak dikutip. Ada proses memilah, mempertimbangkan, bahkan menolak.

Gagasan Lewin kemudian diadaptasi oleh David Manning White (1950) untuk menjelaskan proses redaksi berita di media massa. Dalam studinya yang terkenal, White mengikuti kerja seorang editor yang ia sebut “Mr. Gates”. Setiap hari, puluhan bahkan ratusan berita masuk ke meja redaksi. Tapi tidak semuanya mendapat tempat. Hanya sebagian kecil yang akhirnya terbit. Menariknya, keputusan itu tidak pernah benar-benar dingin dan objektif. White menunjukkan bahwa pilihan seorang editor bisa dipengaruhi banyak hal: pengalaman, selera, bahkan suasana hati di hari itu.

Di situlah letak pentingnya gatekeeping. Bukan karena ia selalu benar, tapi karena ia memberi ruang untuk berpikir. Ada jeda sekecil apa pun antara menerima informasi dan menyebarkannya. Di jeda itulah pertimbangan bekerja: ini layak atau tidak, ini perlu atau tidak.

Masalahnya, dalam konteks hari ini, terutama di dunia akademik, jeda itu mulai hilang. Informasi datang begitu saja, dari buku, dari internet, dari AI, lalu langsung dipakai. Tanpa sempat benar-benar dipertanyakan, apalagi dipahami.

Tidak ada penyaringan yang cukup. Tidak ada “gerbang” yang benar-benar dijaga. Semua terasa bisa langsung dipakai, selama terlihat meyakinkan.

Padahal, dalam logika Kurt Lewin, setiap tahap itu seharusnya memiliki fungsi operasional: memilih sumber, mengecek relevansi, menimbang argumen, hingga memutuskan apakah layak ditulis atau tidak. Dan dalam kerangka David Manning White, keputusan itu tidak pernah netral ia selalu melibatkan kesadaran, tanggung jawab, dan keberanian untuk mengatakan “ini tidak cukup baik untuk dipublikasikan”.

Masalahnya, hari ini, banyak tulisan lahir tanpa pernah melewati proses itu. Ia langsung jadi. Langsung rapi. Langsung dipublikasikan. Tanpa pernah benar-benar “ditahan” sejenak untuk diuji.

Dari situ, kita bisa melihat satu hal yang sering luput: krisis bukan hanya pada kualitas tulisan, tetapi pada hilangnya proses penyaringan itu sendiri. Gatekeeping tidak lagi dijalankan sebagai praktik, melainkan hanya tinggal konsep. Dan ketika gerbang itu dibiarkan terbuka tanpa penjaga, apa pun bisa lewat, termasuk pengetahuan yang belum sempat dipahami.

  • Penulis: Amril N Hi Ade, Mahasiswa Universitas Widya Mataram Yogyakarta
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gunung Gamkonora

    Keunikan Gunung Gamkonora dan Rute Pendakian yang harus kalian ketahui

    • calendar_month Rabu, 8 Jan 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 2.711
    • 1Komentar

    Gunung Gamkonora adalah gunung berapi aktif yang terletak di Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Dengan ketinggian sekitar 1.635 meter di atas permukaan laut (Mdpl), gunung ini menawarkan pemandangan alam yang luar biasa indah. Keindahannya berhasil menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin menjelajahi pesonanya. Berikut adalah beberapa keunikan Gunung Gamkonora yang […]

  • Oleh: Ariyo Dermawan, S.Kep Koordinator TurunTangan Maluku Utara | Pemerhati Pelayanan Kesehatan Masyarakat

    Perjuangan Tenaga Kesehatan: Melayani di Tengah Sistem yang Tertinggal dan Akses yang Sulit

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Oleh: Ariyo Dermawan, S.Kep Koordinator TurunTangan Maluku Utara | Pemerhati Pelayanan Kesehatan Masyarakat
    • visibility 227
    • 0Komentar

    Ada rasa miris ketika melihat keluarga pasien di wilayah kerja Puskesmas Yaba, Halmahera Selatan, harus memikul anggota keluarganya menyeberangi sungai dan melewati jalan rusak demi mencapai fasilitas rujukan. Ini bukan adegan dari situasi bencana, melainkan bagian dari keseharian pelayanan kesehatan di wilayah dengan akses yang terbatas. Di tengah kondisi itu, yang patut dicatat adalah perjuangan […]

  • Wagub Maluku Utara Sarbin Sehe melepas kontingen Pramuka Maluku Utara menuju Kemah Pramuka Berkebutuhan Khusus Nasional 2025 di Cibubur

    Wagub Maluku Utara Lepas Kontingen Pramuka Berkebutuhan Khusus ke Kemah Nasional 2025

    • calendar_month Selasa, 12 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 424
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, melepas secara resmi 19 kontingen Pramuka Maluku Utara untuk mengikuti Kemah Pramuka Berkebutuhan Khusus (KPBK) Nasional 2025 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka, Cibubur, Jakarta Timur, pada 13–19 Agustus 2025. Acara pelepasan berlangsung di Syamatira Caffe, Selasa (12/8/25) Dalam sambutannya, Sarbin menegaskan bahwa gerakan pramuka […]

  • Road to Toadore Fest Vol. II: Gema Budaya Tidore Mengalun di Yogyakarta

    Road to Toadore Fest Vol. II: Gema Budaya Tidore Mengalun di Yogyakarta

    • calendar_month Selasa, 22 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 422
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com, Yogyakarta | 22 Juli 2025, Semangat pelestarian budaya lokal kembali menggema di Yogyakarta melalui gelaran Road To Toadore Fest Vol. II yang mengusung tema “Budaya Tidore di Bumi Mataram: Jejak, Rasa, dan Nada.” Acara yang digelar pada Senin, 21 Juli 2025 di Ketok Studio, SaRanG Building Block 1, Kalipakis, Bantul, ini menjadi bagian dari […]

  • Ketua PC PMII D.I. Yogyakarta

    Muh Faisal Terpilih sebagai Ketua PC PMII D.I. Yogyakarta dalam Konfercab XLVI

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle Muzsta
    • visibility 367
    • 0Komentar

    Yogyakarta (BALENGKO) – Konferensi Cabang (Konfercab) PMII D.I. Yogyakarta ke-46 resmi menetapkan Muh Faisal sebagai Ketua PC PMII DIY terpilih. Proses pemilihan berlangsung pada Senin pagi, 8 Desember 2025, bertempat di Pondok Pesantren Al Kodir, Kaliurang. Pemilihan berlangsung demokratis dengan menghadirkan dua pasangan calon: Setelah melalui proses pemungutan suara, Muh Faisal unggul dan dinyatakan sebagai […]

  • BELA RUANG HIDUP: Warga Desa Sagea saat melakukan aksi protes terhadap aktivitas pertambangan yang mengancam lingkungan mereka. WALHI Maluku Utara mendesak kepolisian menghentikan pemanggilan terhadap 14 warga yang dinilai sebagai bentuk kriminalisasi pejuang lingkungan. (Foto: Istimewa)

    WALHI Malut Desak Polda Hentikan Pemanggilan 14 Warga Desa Sagea

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Ternate, (BALENGKO) – WALHI Maluku Utara memandang serius pemanggilan 14 warga Desa Sagea oleh Polda Maluku Utara pasca aksi penolakan aktivitas pertambangan PT Mining Abadi Indonesia (MAI). Aksi yang dilakukan warga bersama Koalisi Save Sagea tersebut merupakan bentuk penyampaian pendapat di muka umum yang dijamin konstitusi. Hak itu diatur dalam Pasal 28E UUD 1945 serta […]

expand_less