Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Titelfikasi dan Mimikri: Lahirnya Sarjana di Era AI

Titelfikasi dan Mimikri: Lahirnya Sarjana di Era AI

  • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
  • visibility 351
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Orang-orang hidup dengan meniru. Cara berpakaian dipelajari dari sekitar, cara menulis diserap dari yang sering dibaca, cara beretorika ditiru dari yang dianggap meyakinkan. Tanpa sadar, tumbuh, kembang manusia bergerak dalam pola pengulangan. Aristoteles menyebut manusia itu homo mimesis (makhluk peniru). Artinya, makhluk yang belajar dengan cara menyalin dunia di sekitarnya. Apa yang awalnya ditiru, lama-lama menjadi kebiasaan. Dan dari kebiasaan itulah cara berpikir terbentuk.

 Pikiran melahirkan tindakan, tindakan menghasilkan kebiasaan, kebiasaan membuahkan   karakter, dan karakter menciptakan nasib”.  Kutipan Aristoteles.

Dalam dunia pendidikan, terutama Ilmu Komunikasi, proses ini seharusnya menjadi pintu masuk untuk memahami, bukan sekadar mengulang. Tapi yang sering terjadi justru sebaliknya. Mahasiswa tampak “pintar” karena mampu meniru bentuk, struktur tulisan rapi, argumen terlihat logis, diksi terasa akademik, padahal di balik itu, pemahaman belum tentu tumbuh. Seperti konsep psikologi yang dikemukakan Albert Bandura (1977) melalui Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial) menjelaskan bahwa sesorang belajar dari observasi dan imitasi perilaku orang lain, bukan hanya dari pengalaman langsung. Namun Bandura tidak pernah berhenti pada imitasi. Ia menekankan adanya proses internalisasi, sesuatu yang justru sering hilang hari ini.

Tulisan, pada akhirnya, menjadi penanda paling jujur. Fenomena ini (terutama dengan AI) mahasiswa langsung ke tahap reproduksi tanpa benar-benar melalui proses pemahaman yang sistematis. Bagaimana memahami realitas ontologi (hakikat keberadaan), kebenaran epistemologi (metode pengetahuan), dan etika secara mendalam aksiologi (nilai atau kegunaan).  Dari sana, cara berpikir seseorang terbuka. Apakah ia benar-benar menyusun pengetahuan, atau hanya menyalin ulang apa yang sudah ada sekedar copast (copy paste). Persoalan ini kemudian diperkuat , di Indonesia, gelar akademik kerap berdiri sendiri, seolah cukup sebagai legitimasi sampai kedalaman berpikir tidak selalu ikut diperiksa. Justru lahirnya lulusan yang tampak siap di atas kertas, tetapi gagap ketika harus menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi disiplin ilmu pengetahuannya sendiri.

Dalam situasi seperti ini, kajian Ilmu Komunikasi lewat karya tersohor Kurt Lewin (1943) berjudul gatekeeping (penjaga gerbang) awalnya untuk menggambarkan bagaimana keputusan dalam rumah tangga memengaruhi pola konsumsi makanan.  Artinya, bagaimana makanan sampai ke meja makan tidak terjadi begitu saja. Ada proses memilih: bahan apa yang dibeli, apa yang dimasak, apa yang akhirnya disajikan. Di setiap titik itu, ada “gerbang”. Dan di setiap gerbang, ada keputusan.

Jika ditarik ke dunia pengetahuan, logikanya tidak jauh berbeda. Informasi yang sampai ke publik, atau bahkan ke tulisan mahasiswa, seharusnya melewati tahapan serupa. Tidak semua yang ditemukan langsung digunakan. Tidak semua yang terdengar “ilmiah” layak dikutip. Ada proses memilah, mempertimbangkan, bahkan menolak.

Gagasan Lewin kemudian diadaptasi oleh David Manning White (1950) untuk menjelaskan proses redaksi berita di media massa. Dalam studinya yang terkenal, White mengikuti kerja seorang editor yang ia sebut “Mr. Gates”. Setiap hari, puluhan bahkan ratusan berita masuk ke meja redaksi. Tapi tidak semuanya mendapat tempat. Hanya sebagian kecil yang akhirnya terbit. Menariknya, keputusan itu tidak pernah benar-benar dingin dan objektif. White menunjukkan bahwa pilihan seorang editor bisa dipengaruhi banyak hal: pengalaman, selera, bahkan suasana hati di hari itu.

Di situlah letak pentingnya gatekeeping. Bukan karena ia selalu benar, tapi karena ia memberi ruang untuk berpikir. Ada jeda sekecil apa pun antara menerima informasi dan menyebarkannya. Di jeda itulah pertimbangan bekerja: ini layak atau tidak, ini perlu atau tidak.

Masalahnya, dalam konteks hari ini, terutama di dunia akademik, jeda itu mulai hilang. Informasi datang begitu saja, dari buku, dari internet, dari AI, lalu langsung dipakai. Tanpa sempat benar-benar dipertanyakan, apalagi dipahami.

Tidak ada penyaringan yang cukup. Tidak ada “gerbang” yang benar-benar dijaga. Semua terasa bisa langsung dipakai, selama terlihat meyakinkan.

Padahal, dalam logika Kurt Lewin, setiap tahap itu seharusnya memiliki fungsi operasional: memilih sumber, mengecek relevansi, menimbang argumen, hingga memutuskan apakah layak ditulis atau tidak. Dan dalam kerangka David Manning White, keputusan itu tidak pernah netral ia selalu melibatkan kesadaran, tanggung jawab, dan keberanian untuk mengatakan “ini tidak cukup baik untuk dipublikasikan”.

Masalahnya, hari ini, banyak tulisan lahir tanpa pernah melewati proses itu. Ia langsung jadi. Langsung rapi. Langsung dipublikasikan. Tanpa pernah benar-benar “ditahan” sejenak untuk diuji.

Dari situ, kita bisa melihat satu hal yang sering luput: krisis bukan hanya pada kualitas tulisan, tetapi pada hilangnya proses penyaringan itu sendiri. Gatekeeping tidak lagi dijalankan sebagai praktik, melainkan hanya tinggal konsep. Dan ketika gerbang itu dibiarkan terbuka tanpa penjaga, apa pun bisa lewat, termasuk pengetahuan yang belum sempat dipahami.

  • Penulis: Amril N Hi Ade, Mahasiswa Universitas Widya Mataram Yogyakarta
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Arus balik Lebaran 2026 di Pelabuhan Bakauheni terpantau padat, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo turun langsung meninjau dan menyapa para pemudik demi memastikan keamanan dan kenyamanan perjalanan. Sumber: Agung Gumelar

    Kapolri Turun Langsung! Arus Balik Lebaran 2026 di Pelabuhan Bakauheni Dipadati Pemudik

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle Agung Gumelar
    • visibility 135
    • 0Komentar

    LAMPUNG (BALENGKO) – Pemudik mulai memadati Pelabuhan Bakauheni dalam arus balik lebaran tahun 2026. Dimana terpantau di lapangan, banyak kendaraan roda empat maupun roda dua untuk menyeberang di pintu dermaga pada Sabtu (28/3). Diketahui juga, pengamanan untuk arus balik dibantu oleh TNI-Polri. Selain itu juga Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jend. Listyo Sigit Prabowo lakukan pemantauan […]

  • Keluarga pasien melaporkan dugaan kelalaian pelayanan medis RSUD Sanana Kabupaten Kepulauan Sula.

    Keluarga Laporkan Dugaan Kelalaian RSUD Sanana yang Sebabkan Pasien Meninggal Dunia

    • calendar_month Selasa, 16 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 355
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Sanana, 16 September 2025 – Seorang warga Kabupaten Kepulauan Sula, Manaf Umaternate, resmi melaporkan dugaan kelalaian pelayanan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanana. Laporan tersebut menyebut bahwa kelalaian petugas medis berujung pada meninggalnya putri kandungnya, Raina Umaternate, pada Sabtu (13/9/2025) dini hari. Kronologi Kejadian Berdasarkan pengaduan tertulis, pasien Raina Umaternate dibawa […]

  • Penasehat sekaligus Pendiri Himpunan Mahasiswa Indonesia Timur (HIMAIT) Universitas Alma Ata Yogyakarta, Bang Muzsta

    Penasehat Himpunan Mahasiswa Timur Alma Ata Yogyakarta Sesalkan Insiden di Tual, Desak Evaluasi Mendalam Internal Polri

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 264
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA (BALENGKO), 21 Februari 2026 – Penasehat sekaligus Pendiri Himpunan Mahasiswa Indonesia Timur (HIMAIT) Universitas Alma Ata Yogyakarta, Bang Musta, menyatakan keprihatinan mendalam atas wafatnya Arianto Tawakal (14), pelajar MTs di Kota Tual, Maluku, yang diduga melibatkan oknum anggota Polri berinisial Bripda MS. Pernyataan ini muncul menyusul penetapan Bripda MS sebagai tersangka oleh Polres Tual […]

  • Source : Istimewa

    Banjir Halmahera Barat: HMI Maluku Utara Desak Komisi VIII DPR RI Turun Tangan

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 253
    • 0Komentar

    HALMAHERA BARAT (BALENGKO) — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badan Koordinasi (BADKO) Maluku Utara mendesak Komisi VIII DPR RI untuk meninjau langsung lokasi banjir di Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat. Desakan ini muncul menyusul banjir besar akibat curah hujan tinggi sejak awal Januari 2026 yang merendam rumah warga hingga setinggi atap dan melumpuhkan aktivitas ekonomi. Kegagalan […]

  • Status Ibu Kota Sofifi Masih Tanda Tanya, Bacarita Otonomi Ungkap Ketimpangan Administratif

    Status Ibu Kota Sofifi Masih Tanda Tanya, Bacarita Otonomi Ungkap Ketimpangan Administratif

    • calendar_month Selasa, 24 Jun 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 789
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com, Yogyakarta 24 Juni 2024 – Dua puluh lima tahun sejak resmi dimekarkan dari Provinsi Maluku, Provinsi Maluku Utara masih menyimpan ironi panjang terkait status ibu kotanya. Sofifi, yang secara hukum telah ditetapkan sebagai ibu kota provinsi, hingga kini masih berada dalam status “antara ada dan tiada” secara administratif dan kelembagaan. Isu inilah yang menjadi […]

  • Negara dalam Cengkeraman Kapitalisme: Membaca Krisis Ekologis Indonesia

    Negara dalam Cengkeraman Kapitalisme: Membaca Krisis Ekologis Indonesia

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Zidni Ilman Warnangan
    • visibility 1.138
    • 0Komentar

    Krisis ekologis Indonesia hari-hari ini tidak dapat dipahami sebagai persoalan teknis dalam tata kelola lingkungan.

expand_less