Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Titelfikasi dan Mimikri: Lahirnya Sarjana di Era AI

Titelfikasi dan Mimikri: Lahirnya Sarjana di Era AI

  • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
  • visibility 398
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Orang-orang hidup dengan meniru. Cara berpakaian dipelajari dari sekitar, cara menulis diserap dari yang sering dibaca, cara beretorika ditiru dari yang dianggap meyakinkan. Tanpa sadar, tumbuh, kembang manusia bergerak dalam pola pengulangan. Aristoteles menyebut manusia itu homo mimesis (makhluk peniru). Artinya, makhluk yang belajar dengan cara menyalin dunia di sekitarnya. Apa yang awalnya ditiru, lama-lama menjadi kebiasaan. Dan dari kebiasaan itulah cara berpikir terbentuk.

 Pikiran melahirkan tindakan, tindakan menghasilkan kebiasaan, kebiasaan membuahkan   karakter, dan karakter menciptakan nasib”.  Kutipan Aristoteles.

Dalam dunia pendidikan, terutama Ilmu Komunikasi, proses ini seharusnya menjadi pintu masuk untuk memahami, bukan sekadar mengulang. Tapi yang sering terjadi justru sebaliknya. Mahasiswa tampak “pintar” karena mampu meniru bentuk, struktur tulisan rapi, argumen terlihat logis, diksi terasa akademik, padahal di balik itu, pemahaman belum tentu tumbuh. Seperti konsep psikologi yang dikemukakan Albert Bandura (1977) melalui Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial) menjelaskan bahwa sesorang belajar dari observasi dan imitasi perilaku orang lain, bukan hanya dari pengalaman langsung. Namun Bandura tidak pernah berhenti pada imitasi. Ia menekankan adanya proses internalisasi, sesuatu yang justru sering hilang hari ini.

Tulisan, pada akhirnya, menjadi penanda paling jujur. Fenomena ini (terutama dengan AI) mahasiswa langsung ke tahap reproduksi tanpa benar-benar melalui proses pemahaman yang sistematis. Bagaimana memahami realitas ontologi (hakikat keberadaan), kebenaran epistemologi (metode pengetahuan), dan etika secara mendalam aksiologi (nilai atau kegunaan).  Dari sana, cara berpikir seseorang terbuka. Apakah ia benar-benar menyusun pengetahuan, atau hanya menyalin ulang apa yang sudah ada sekedar copast (copy paste). Persoalan ini kemudian diperkuat , di Indonesia, gelar akademik kerap berdiri sendiri, seolah cukup sebagai legitimasi sampai kedalaman berpikir tidak selalu ikut diperiksa. Justru lahirnya lulusan yang tampak siap di atas kertas, tetapi gagap ketika harus menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi disiplin ilmu pengetahuannya sendiri.

Dalam situasi seperti ini, kajian Ilmu Komunikasi lewat karya tersohor Kurt Lewin (1943) berjudul gatekeeping (penjaga gerbang) awalnya untuk menggambarkan bagaimana keputusan dalam rumah tangga memengaruhi pola konsumsi makanan.  Artinya, bagaimana makanan sampai ke meja makan tidak terjadi begitu saja. Ada proses memilih: bahan apa yang dibeli, apa yang dimasak, apa yang akhirnya disajikan. Di setiap titik itu, ada “gerbang”. Dan di setiap gerbang, ada keputusan.

Jika ditarik ke dunia pengetahuan, logikanya tidak jauh berbeda. Informasi yang sampai ke publik, atau bahkan ke tulisan mahasiswa, seharusnya melewati tahapan serupa. Tidak semua yang ditemukan langsung digunakan. Tidak semua yang terdengar “ilmiah” layak dikutip. Ada proses memilah, mempertimbangkan, bahkan menolak.

Gagasan Lewin kemudian diadaptasi oleh David Manning White (1950) untuk menjelaskan proses redaksi berita di media massa. Dalam studinya yang terkenal, White mengikuti kerja seorang editor yang ia sebut “Mr. Gates”. Setiap hari, puluhan bahkan ratusan berita masuk ke meja redaksi. Tapi tidak semuanya mendapat tempat. Hanya sebagian kecil yang akhirnya terbit. Menariknya, keputusan itu tidak pernah benar-benar dingin dan objektif. White menunjukkan bahwa pilihan seorang editor bisa dipengaruhi banyak hal: pengalaman, selera, bahkan suasana hati di hari itu.

Di situlah letak pentingnya gatekeeping. Bukan karena ia selalu benar, tapi karena ia memberi ruang untuk berpikir. Ada jeda sekecil apa pun antara menerima informasi dan menyebarkannya. Di jeda itulah pertimbangan bekerja: ini layak atau tidak, ini perlu atau tidak.

Masalahnya, dalam konteks hari ini, terutama di dunia akademik, jeda itu mulai hilang. Informasi datang begitu saja, dari buku, dari internet, dari AI, lalu langsung dipakai. Tanpa sempat benar-benar dipertanyakan, apalagi dipahami.

Tidak ada penyaringan yang cukup. Tidak ada “gerbang” yang benar-benar dijaga. Semua terasa bisa langsung dipakai, selama terlihat meyakinkan.

Padahal, dalam logika Kurt Lewin, setiap tahap itu seharusnya memiliki fungsi operasional: memilih sumber, mengecek relevansi, menimbang argumen, hingga memutuskan apakah layak ditulis atau tidak. Dan dalam kerangka David Manning White, keputusan itu tidak pernah netral ia selalu melibatkan kesadaran, tanggung jawab, dan keberanian untuk mengatakan “ini tidak cukup baik untuk dipublikasikan”.

Masalahnya, hari ini, banyak tulisan lahir tanpa pernah melewati proses itu. Ia langsung jadi. Langsung rapi. Langsung dipublikasikan. Tanpa pernah benar-benar “ditahan” sejenak untuk diuji.

Dari situ, kita bisa melihat satu hal yang sering luput: krisis bukan hanya pada kualitas tulisan, tetapi pada hilangnya proses penyaringan itu sendiri. Gatekeeping tidak lagi dijalankan sebagai praktik, melainkan hanya tinggal konsep. Dan ketika gerbang itu dibiarkan terbuka tanpa penjaga, apa pun bisa lewat, termasuk pengetahuan yang belum sempat dipahami.

  • Penulis: Amril N Hi Ade, Mahasiswa Universitas Widya Mataram Yogyakarta
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akses Keadilan bagi Kaum Mustadh’afin: Antara Dakwah, Perlawanan, dan Kritik terhadap Hegemoni Hukum

    Akses Keadilan bagi Kaum Mustadh’afin: Antara Dakwah, Perlawanan, dan Kritik terhadap Hegemoni Hukum

    • calendar_month Selasa, 22 Jul 2025
    • account_circle Zulfikran A. Bailussy, SH
    • visibility 1.072
    • 0Komentar

    Di Maluku Utara hari ini, keadilan tidak hanya langka—ia kerap dipertontonkan sebagai kemewahan yang hanya bisa diakses oleh yang berkuasa dan berharta. Para petani di Halmahera yang digusur demi izin tambang, nelayan pesisir yang kehilangan ruang hidupnya karena reklamasi dan pencemaran, hingga warga miskin kota yang terjerat utang atau kriminalisasi—semuanya adalah potret kaum mustadh’afin yang […]

  • Lokasi proyek swering talud Desa Ploly Halmahera Selatan

    Tunggak Upah Warga Rp52 Juta, Proyek Swering Talud Desa Ploly Terancam Diseret ke Jalur Hukum

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 307
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, HALMAHERA SELATAN – Proyek pembangunan infrastruktur penahan ombak atau swering talud di Desa Ploly, Kabupaten Halmahera Selatan, menuai polemik serius. Proyek publik bernilai Rp600 juta dari APBD Provinsi Maluku Utara Tahun Anggaran 2023 tersebut diduga menunggak hak-hak dasar pekerja lokal dan pemilik material bangunan. Berdasarkan data sistem pengadaan, proyek ini tercatat dengan kode […]

  • Diduga Terjadi Pengrusakan dan Penyerobotan Tanah di Tanabara, Mamboro: Kasus Dilaporkan ke Polsek

    Diduga Terjadi Pengrusakan dan Penyerobotan Tanah di Tanabara, Mamboro: Kasus Dilaporkan ke Polsek

    • calendar_month Sabtu, 31 Mei 2025
    • account_circle Arafik Ramli
    • visibility 1.393
    • 0Komentar

    (balengkospace.com) Mamboro, 31 Mei 2025 — Lima warga Desa Susu Wendewa melaporkan sekelompok orang atas dugaan pengrusakan dan penyerobotan tanah adat di wilayah Tanabara, Kecamatan Mamboro. Mereka mendatangi Polsek Mamboro pada Sabtu (24/5) setelah menemukan pagar kebun milik mereka hancur dan sebuah pondok berdiri di atas lahan, yang sudah di tanami pohon mahoni, pohon Jati […]

  • Situasi kota di Eropa saat dilanda gelombang panas ekstrem

    Suhu Tembus 40 Derajat Celsius, Paris Larang Konsumsi Alkohol akibat Gelombang Panas Ekstrem

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 182
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, PARIS – Pemerintah Kota Paris menerapkan kebijakan darurat dengan melarang total aktivitas konsumsi minuman beralkohol di seluruh area ruang publik mulai Jumat siang (27/6). Langkah intervensi ini diambil sebagai upaya proteksi masif demi membentengi warga dari risiko fatal gelombang panas ekstrem yang tengah memanggang Prancis dan sejumlah negara di kawasan Eropa Barat. Kepala […]

  • Ketua LBH Ansor Kota Ternate, Zulfikran Bailussy, memberikan klarifikasi isu rangkap jabatan ASN Kemenag Maluku Utara.

    Klarifikasi Isu Rangkap Jabatan ASN Kemenag Maluku Utara, LBH Ansor: Klien Kami Punya Bukti Sah

    • calendar_month Selasa, 16 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 844
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Ternate – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Kota Ternate mengeluarkan klarifikasi hukum terkait isu rangkap jabatan ASN Kemenag Maluku Utara. Menurut LBH Ansor, pemberitaan yang beredar keliru dan dapat menyesatkan publik. Penjelasan LBH Ansor Ketua LBH Ansor Kota Ternate, Zulfikran Bailussy, SH, menjelaskan bahwa kliennya, Yusri N. Samsudin, memang pernah mengemban tugas sebagai […]

  • Pembukaan Musyawarah Cabang Muscab II PKB Pulau Morotai di Hotel Perdana.

    Muscab II PKB Pulau Morotai: Perkuat Struktur hingga Desa dan Targetkan Fraksi Penuh

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Muzijad Mandea
    • visibility 447
    • 0Komentar

    MOROTAI, BALENGKO SPACE – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Maluku Utara resmi membuka Musyawarah Cabang (Muscab) II DPC PKB Pulau Morotai pada Sabtu (18/4/2026). Bertempat di Hotel Perdana, momentum ini menjadi langkah krusial partai dalam memperkuat struktur dan solidaritas hingga ke tingkat desa menghadapi kontestasi politik mendatang. Dalam suasana khidmat, Muscab II […]

expand_less