Suhu Tembus 40 Derajat Celsius, Paris Larang Konsumsi Alkohol akibat Gelombang Panas Ekstrem
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dampak gelombang panas ekstrem yang melanda benua Eropa memicu sejumlah otoritas negara memperketat aturan aktivitas luar ruangan demi mencegah jatuhnya korban jiwa (Ilustrasi : Pexels)
BALENGKO SPACE, PARIS – Pemerintah Kota Paris menerapkan kebijakan darurat dengan melarang total aktivitas konsumsi minuman beralkohol di seluruh area ruang publik mulai Jumat siang. Langkah intervensi ini diambil sebagai upaya proteksi masif demi membentengi warga dari risiko fatal gelombang panas ekstrem yang tengah memanggang Prancis dan sejumlah negara di kawasan Eropa Barat.
Kepala Kepolisian Paris, Patrice Faure, menegaskan bahwa dekret larangan ini diterbitkan atas pertimbangan medis. Mengonsumsi minuman beralkohol di bawah paparan cuaca yang sangat terik dinilai berpotensi kuat memicu komplikasi dan gangguan kesehatan yang serius.
“Saya akan menerbitkan dekret yang melarang konsumsi alkohol di tempat umum mulai tengah hari besok. Minum alkohol saat matahari sedang terik dapat berdampak buruk bagi kesehatan,” ujar Patrice Faure, sebagaimana dilansir dari Reuters.
Tidak hanya menyasar ruang publik, otoritas setempat juga membatasi sirkulasi penjualan alkohol pada malam hari. Kebijakan ini diberlakukan seiring dengan melonjaknya arus kedatangan pasien di sejumlah fasilitas kesehatan ibu kota akibat dehidrasi dan serangan panas (heatstroke).
Menteri Kesehatan Prancis, Stephanie Rist, membenarkan situasi darurat medis tersebut. “Kami mulai melihat peningkatan jumlah pasien yang datang ke unit gawat darurat,” ungkap Rist dikutip dari Kumparan.
Suhu Ekstrem Intai Kelompok Usia Produktif
Kota Paris sendiri sempat mencatatkan rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah bulan Juni dengan temperatur menyentuh angka 40,9 derajat Celsius. Kendati sempat fluktuatif, suhu harian di ibu kota Prancis tersebut dilaporkan terus bertahan mendekati angka 40 derajat Celsius.
Wakil Wali Kota Paris, Emmanuel Gregoire, memperingatkan warga agar tidak bersikap abai. Menurutnya, ancaman nyata justru mengintai kelompok usia produktif yang kerap merasa bugar sehingga tetap memaksakan diri beraktivitas normal di luar ruangan tanpa proteksi yang cukup.
“Orang berusia 50 hingga 70 tahun yang merasa sehat sering menganggap ini hanya cuaca panas biasa dan tetap beraktivitas seperti biasa. Padahal mereka juga harus melindungi diri,” jelas Gregoire mengingatkan.
Negara Tetangga Ikut Pecahkan Rekor
Anomali cuaca akibat gelombang panas ekstrem ini terpantau meluas ke berbagai negara tetangga. Di Inggris, temperatur meroket hingga 36,7 derajat Celsius, memecahkan rekor suhu terpanas bulan Juni sejak sistem pencatatan meteorologi modern pertama kali dilakukan.
Badan Meteorologi Inggris (Met Office) bahkan terpaksa memperpanjang status peringatan cuaca panas ekstrem tingkat tertinggi selama tiga hari berturut-turut untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.
Di tempat lain, Swiss turut melaporkan pecahnya rekor lokal setelah suhu di wilayah Basel menembus angka 38 derajat Celsius. Sementara itu, sejumlah negara lain seperti Jerman, Italia, Austria, Republik Ceko, dan Belanda diprediksi masih akan menghadapi cuaca ekstrem ini hingga beberapa hari ke depan.
(BS/Red)
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar