Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » DEKONSTRUKSI TAMANSISWA: TRANSFORMASI DARI “TAMAN SISWA” MENJADI “TAMAN ORANGTUA”

DEKONSTRUKSI TAMANSISWA: TRANSFORMASI DARI “TAMAN SISWA” MENJADI “TAMAN ORANGTUA”

  • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
  • visibility 740
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Realitas oligarkis ini secara langsung mengkhianati postulat ontologis dan epistemologis dari ajaran asas Ki Hadjar Dewantara itu sendiri. Dalam konsepsinya, Ki Hadjar dengan sangat tegas mewajibkan pendidikan untuk senantiasa tunduk dan beradaptasi pada “Kodrat Alam dan Kodrat Zaman”. Kodrat zaman meniscayakan adanya dialektika yang terus bergerak, di mana setiap generasi memiliki spektrum tantangan dan bentuk perlawanannya sendiri. Memaksakan kacamata generasi baby boomers untuk membaca peta jalan pendidikan di era kecerdasan buatan adalah sebuah kecacatan logika akademis yang fatal. Elite Majelis Luhur secara sadar atau tidak telah membatalkan prinsip kemerdekaan berpikir yang menjadi ruh paling esensial dari Sistem Among. Mereka gagal menyadari bahwa memegang kendali tanpa mau memberikan ruang bagi interpretasi baru adalah bentuk penjajahan gaya baru di dalam internal institusi. Ketidakmampuan merawat dialektika zaman ini membuat Tamansiswa lumpuh dalam melahirkan gagasan-gagasan pendidikan progresif seperti yang dicita-citakan pendirinya.

Kegagalan sistemik ini berakar pada salah kaprah struktural para elite dalam memaknai dan mengeksekusi semboyan sakti “Tut Wuri Handayani”. Secara filosofis, ungkapan ini menuntut para senior untuk berdiri di belakang (tut wuri) guna memberikan daya dorong dan moral (handayani) kepada generasi penerus di garis depan. Namun, fakta struktural hari ini menunjukkan para sesepuh justru memblokade barisan depan (ing ngarsa) dan enggan turun panggung secara terhormat. Mereka tidak lagi memberikan daya dorong, melainkan menjelma menjadi beban struktural yang memberatkan langkah kaum muda untuk berlari mengejar ketertinggalan zaman. Robert Michels melalui teori “Hukum Besi Oligarki” menyebutkan bahwa para pemimpin pada akhirnya akan lebih peduli pada mempertahankan posisi dan privilese mereka daripada tujuan awal organisasi. Hal inilah yang sedang menggerogoti Tamansiswa, di mana pelestarian kekuasaan elite menjadi lebih utama dibandingkan eksperimentasi pedagogi yang radikal. Semboyan luhur itu kini telah tereduksi menjadi jargon kosong yang hanya diucapkan di mimbar-mimbar seremonial tanpa pernah diwujudkan dalam demografi kepengurusan.

Dampak dari sumbatan regenerasi ini sangat destruktif terhadap kapasitas institusional Tamansiswa sebagai laboratorium ideologi pendidikan nasional. Jika kita mengkomparasikannya dengan entitas raksasa seperti Muhammadiyah atau NU, kedua organisasi tersebut mampu melakukan kaderisasi intelektual yang sangat sistematis dan berjenjang. Mereka memberikan karpet merah bagi intelektual muda berdiaspora, menyusun kurikulum mutakhir, dan memimpin amal usaha pendidikan dengan otonomi penuh yang terukur. Sebaliknya, sentralisasi absolut di tangan para elit sepuh Tamansiswa telah mematikan inisiatif dan keberanian para kader muda untuk melakukan interupsi kultural. Setiap upaya pembaruan dari akar rumput sering kali kandas karena harus membentur tembok birokrasi dan kekakuan mentalitas konservatif Majelis Luhur. Akibatnya, Tamansiswa kehilangan insting tajamnya untuk merumuskan ulang konsep kebangsaan dan pendidikan di tengah gempuran neoliberalisme pendidikan global. Organisasi ini kehilangan taring intelektualnya, berubah menjadi institusi pasif yang hanya mampu mengulang- ulang narasi kebesaran masa lampau tanpa memproduksi sejarah baru.

Lebih jauh lagi, pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang konsep “Kemerdekaan” secara esensial mensyaratkan adanya pembebasan dari segala bentuk ikatan tatanan yang mengekang proses tumbuh kembang. Kemerdekaan dalam konteks organisasi berarti terbebas dari feodalisme struktural yang mengkultuskan senioritas di atas rasionalitas, kapabilitas, dan meritokrasi. Sayangnya, relasi kuasa yang terbangun di dalam Tamansiswa hari ini sangat kental dengan nuansa feodalistik yang berlindung di balik kedok tata krama dan penghormatan buta. Rasa segan yang berlebihan (ewuh pakewuh) terhadap tokoh-tokoh sepuh ini telah membunuh secara perlahan iklim diskursus akademis yang seharusnya kritis dan egaliter. Ketiadaan ruang aman untuk berdebat dan mengkritik kebijakan pimpinan secara terbuka adalah lonceng kematian bagi denyut nadi sebuah lembaga pendidikan pembebas. Padahal, tanpa adanya benturan tesis dan antitesis antar generasi secara terbuka, sintesis pemikiran pendidikan yang segar tidak akan pernah lahir dari rahim Tamansiswa. Struktur yang terlampau hierarkis dan otoritarian ini perlahan-lahan mencekik napas kreativitas yang justru sangat diagungkan oleh Ki Hadjar di masa pergerakan.

  • Penulis: Ain Dadong/ Ketua BEM UST Yogyakarta
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media
  • Sumber: Iras

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • HMPV Virus lama, ancaman baru?

    HMPV Virus lama, ancaman baru?

    • calendar_month Rabu, 8 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 565
    • 0Komentar

    Ilustrasi :Istimewa Pada akhir 2024, masyarakat dikejutkan oleh lonjakan kasus virus HMPV (Human Metapneumovirus) yang terus meningkat. Meski bukan virus baru, kemunculannya yang kembali meluas menimbulkan kekhawatiran di berbagai kalangan. Apa sebenarnya virus HMPV itu? Seberapa berbahayakah dampaknya? Menurut laporan dari Medical Review Virology, Human Metapneumovirus (HMPV) adalah anggota genus Metapneumovirus dalam famili Paramyxoviridae. Meski […]

  • Gambar Ilustrasi : Indonesiana.id

    ARGUMEN TITIK TEMU AGAMA-AGAMA

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Oleh: Fahrul Abd Muid Adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua PW. GP. Ansor Maluku Utara
    • visibility 563
    • 0Komentar

    Pada QS. Alu-‘Imran [3] ayat 64 memiliki sabab al-nuzul-background yang telah melatar belakangi diturunkan ayat tersebut kepada Nabi Muhamma Saw. Maka paling tidak ada dua kasus tertentu, pertama ayat ini turun menceritakan kasuistik orang-orang Nasrani Najran-Kristen yang berasal dari Yaman terkait dengan sikap mereka kepada Nabi Muhammad Saw dan, kedua, ayat ini turun sehubungan dengan […]

  • Source : Istimewa

    Usung Semangat Integritas dan Budaya, Rasti Kristanti Daramean Resmi Nahkodai IKEMAP Halteng–Yogyakarta 2026–2027

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 370
    • 0Komentar

    Estafet Perjuangan dan Pesan Intelektual Demisioner Presiden IKEMAP periode sebelumnya, Ishak Abidin, menyampaikan apresiasi atas dedikasi pengurus lama dan menaruh harapan besar pada regenerasi kali ini. Ia menekankan bahwa keberanian menyuarakan kebenaran harus tetap menjadi ruh organisasi. Senada dengan hal tersebut, perwakilan sesepuh IKEMAP Halteng–Yogyakarta, Masri Anwar, memberikan catatan krusial mengenai pentingnya menjaga marwah intelektual. […]

  • Fahri Sibua: Tawarkan Konsep Integrated Coconut-Based Industry untuk Kelapa Bido Morotai Dari SAF hingga Ekonomi Sirkular

    Fahri Sibua: Tawarkan Konsep Integrated Coconut-Based Industry untuk Kelapa Bido Morotai Dari SAF hingga Ekonomi Sirkular

    • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
    • account_circle Muhammad Muzijad Mandea
    • visibility 201
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Kelapa Bido (Cocos nucifera var. bido), tanaman endemik khas Pulau Morotai, Maluku Utara, kian menarik perhatian dunia karena potensinya sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF). Pengembangan Kelapa Bido memiliki peluang untuk membentuk ekosistem industri berbasis bioekonomi yang tidak hanya menghasilkan pendapatan dari satu produk, tetapi menciptakan berbagai sumber nilai ekonomi […]

  • Tumpukan sampah di Pelabuhan SpeedBoat Sofifi, bukti Kurangnya Kesadaran Lingkungan?

    Tumpukan sampah di Pelabuhan SpeedBoat Sofifi, bukti Kurangnya Kesadaran Lingkungan?

    • calendar_month Senin, 13 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 641
    • 0Komentar

    Sumber Dok : @Mimi.nabiu Sofifi kembali menjadi sorotan publik setelah video berdurasi 27 detik yang diunggah akun Instagram @mimi.nabiu pada Minggu (12/1/24) memicu keprihatinan masyarakat. Dalam video tersebut terlihat jelas tumpukan sampah mencemari pesisir pantai di sekitar pelabuhan speedboat Sofifi. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan terkait pengelolaan sampah dan kebersihan di kawasan tersebut. Mimi Nabiu, pengunggah […]

  • Organda Morotai Tolak Kenaikan Dexlite

    Tolak Kenaikan Dexlite, Organda Morotai Gelar Hearing di DPRD: Ancam Mogok Massal 7 Hari

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 376
    • 0Komentar

    PULAU MOROTAI, BALENGKO SPACE – Gelombang protes akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai menyasar sektor transportasi di daerah. Puluhan sopir truk yang tergabung dalam Dewan Pimpinan Cabang Organisasi Angkutan Darat (DPC Organda) Kabupaten Pulau Morotai menggelar aksi konvoi dan hearing di Kantor DPRD Pulau Morotai, Senin (11/5/2026). Aksi ini dipicu oleh kenaikan harga […]

expand_less