Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » DEKONSTRUKSI TAMANSISWA: TRANSFORMASI DARI “TAMAN SISWA” MENJADI “TAMAN ORANGTUA”

DEKONSTRUKSI TAMANSISWA: TRANSFORMASI DARI “TAMAN SISWA” MENJADI “TAMAN ORANGTUA”

  • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
  • visibility 741
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Permasalahan mendasar dari semua fenomena kemunduran ini adalah tidak berjalannya fungsi kaderisasi ideologis yang transformatif, alih-alih sekadar kaderisasi administratif belaka. Para elit tua di Majelis Luhur gagal mendidik kader muda yang mampu melampaui capaian mereka, yang dalam filsafat pendidikan justru merupakan indikator utama kegagalan seorang pendidik sejati. Mereka tampaknya lebih nyaman mencetak pengikut yang patuh, bukan pemimpin pemikir yang berani membongkar tatanan mapan untuk menyelamatkan tujuan agung institusi. Ketakutan akan kehilangan kendali atas aset, arah, dan wibawa organisasi membuat proses regenerasi sengaja diperlambat dan dilakukan penuh kecurigaan. Pierre Bourdieu dalam teori reproduksi sosialnya secara tajam menjelaskan bagaimana kelompok dominan selalu berusaha memonopoli “modal kultural” untuk melanggengkan kekuasaan mereka tanpa batas. Di Tamansiswa, monopoli wacana kultural tersebut dieksploitasi untuk meminggirkan kelompok muda yang dicap belum “matang”, padahal dunia di luar sudah berlari dengan parameter yang sama sekali berbeda. Kegagalan merekonstruksi sistem kaderisasi inilah yang menjadi titik nadir, membuat organisasi terus menyusut secara kualitas maupun kuantitas pengaruhnya di ruang publik.

Secara pragmatis, kelumpuhan struktural ini mengakibatkan Tamansiswa kehilangan momentum emas untuk memosisikan diri sebagai mitra strategis sekaligus kritikus tajam kebijakan pendidikan pemerintah. Ketika negara meluncurkan berbagai kebijakan pendidikan kontemporer yang kontroversial, suara Tamansiswa nyaris tidak terdengar sumbangsih teoretisnya yang memberikan solusi alternatif. Kebisuan intelektual ini terjadi karena kapasitas energi Majelis Luhur telah terkuras habis hanya untuk mengurus dinamika internal struktural yang usang dan stagnan. Sangat menyedihkan menyadari bahwa ideologi pendidikan yang begitu kaya dan komprehensif harus terkunci rapat di dalam kepala para elit yang sudah kehabisan bensin operasional. Masyarakat kiwari tidak lagi memandang Tamansiswa sebagai rujukan utama inovasi pedagogi, melainkan sekadar sebagai peninggalan cagar budaya yang cukup dikenang sejarahnya. Jika Muhammadiyah mampu melesat jauh dengan gagasan “Islam Berkemajuan”, Tamansiswa seharusnya bisa memimpin orkestrasi peradaban dengan “Pendidikan Berkemerdekaan” yang dikontekstualisasikan ulang secara radikal. Kehilangan daya saing ini menjadi bukti sahih bahwa modal sejarah sehebat apa pun akan hangus tak bersisa jika tidak ditopang oleh struktur organisasi yang rasional, adaptif, dan bervisi masa depan.

Pada akhirnya, diskursus ini adalah sebuah gugatan intelektual tanpa tedeng aling-aling agar Majelis Luhur Tamansiswa segera melakukan dekonstruksi struktural secara total dan menyeluruh. Tokoh-tokoh sepuh harus menyadari bahwa legasi terakhir yang paling mulia bagi seorang pendidik adalah mundur dengan lapang dada dan menyerahkan estafet kemudi kepada generasi muda. Revolusi struktural ini adalah harga mati yang absolut dan tidak bisa ditawar lagi jika Tamansiswa menolak untuk sekadar menjadi catatan kaki dalam buku sejarah pendidikan nasional. Kita menuntut untuk mengembalikan institusi ini pada khittah-nya sebagai taman persemaian gagasan-gagasan radikal yang berani menantang zaman, bukan sebagai tempat purnatugas bernostalgia. Hanya dengan meruntuhkan tembok gerontokrasi ini, Tamansiswa akan kembali bernapas dan menemukan nyawa ideologisnya untuk bersaing secara sepadan dengan ormas-ormas raksasa pembangun peradaban lainnya. Mengutip kembali nyala api semangat Ki Hadjar, merdeka itu berarti berdiri sendiri dan tidak bergantung; dan hari ini, Tamansiswa harus berani merdeka dari belenggu struktur masa lalunya sendiri. Inilah saat historis untuk mengembalikan Tamansiswa menjadi benar-benar milik para “Siswa, Anak, ataupun Pemuda “, para pembelajar sejati yang siap merobek kebekuan zaman demi mencetak masa depan.

  • Penulis: Ain Dadong/ Ketua BEM UST Yogyakarta
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media
  • Sumber: Iras

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hipma-Galut Desak Polres dan Kejari Halut Segera Proses Istri Eks Kades Dodowo Atas Dugaan Jual Tanah Wakaf Masjid

    Hipma-Galut Desak Polres dan Kejari Halut Segera Proses Istri Eks Kades Dodowo Atas Dugaan Jual Tanah Wakaf Masjid

    • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
    • account_circle Jainudin Naba
    • visibility 333
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, HALMAHERA UTARA – Himpunan Pelajar Mahasiswa Galela Utara (Hipma-Galut) mendesak Kepolisian Resor (Polres) dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Halmahera Utara (Halut) untuk segera memproses hukum kasus dugaan penjualan tanah wakaf milik masjid. Kasus ini melibatkan istri mantan Kepala Desa (Kades) Dodowo, Kecamatan Galela Utara, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Desakan tersebut disampaikan lantaran […]

  • Oleh: Ariyo Dermawan, S.Kep Koordinator TurunTangan Maluku Utara | Pemerhati Pelayanan Kesehatan Masyarakat

    Perjuangan Tenaga Kesehatan: Melayani di Tengah Sistem yang Tertinggal dan Akses yang Sulit

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Oleh: Ariyo Dermawan, S.Kep Koordinator TurunTangan Maluku Utara | Pemerhati Pelayanan Kesehatan Masyarakat
    • visibility 361
    • 0Komentar

    Ada rasa miris ketika melihat keluarga pasien di wilayah kerja Puskesmas Yaba, Halmahera Selatan, harus memikul anggota keluarganya menyeberangi sungai dan melewati jalan rusak demi mencapai fasilitas rujukan. Ini bukan adegan dari situasi bencana, melainkan bagian dari keseharian pelayanan kesehatan di wilayah dengan akses yang terbatas. Di tengah kondisi itu, yang patut dicatat adalah perjuangan […]

  • Kadis Parpora Halbar klarifikasi anggaran FTJ dan tekankan dampak nyata Festival Teluk Jailolo bagi PAD serta ekonomi masyarakat Halmahera Barat

    Kadis Parpora Halbar Klarifikasi Isu Anggaran FTJ, Tekankan Dampak Nyata bagi Halmahera Barat

    • calendar_month Jumat, 19 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 552
    • 0Komentar

    Infrastruktur Pariwisata Didukung Pusat “Konsistensi penyelenggaraan FTJ dan peningkatan PAD menjadi dasar Kementerian untuk terus mendukung infrastruktur pariwisata melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun APBN lainnya. Sejak 2017 hingga 2020, Halbar mendapat alokasi DAK untuk membangun fasilitas di lokasi FTJ, Bobanehena, dan Gamtala. Tahun depan, melalui Balai BPBPK Kementerian PUPR, Halbar diproyeksikan menerima Rp28 miliar […]

  • Source : Istimewa

    Warga Sagea-Kiya Melawan Kriminalisasi: “Tanah Kami Bukan Barang Dagangan, Cabut Laporan 14 Warga!

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 402
    • 0Komentar

    Menolak Kesepakatan Sepihak Koalisi juga mengklarifikasi terkait pertemuan di Kantor Camat Weda Utara pada 11 Februari 2026. Meskipun sempat beredar kabar adanya kesepakatan antara perusahaan dan pemerintah setempat, Koalisi Save Sagea menyatakan secara tegas keluar dari ruangan (walk out) dan menolak menandatangani dokumen tersebut. “Salah satu poin kesepakatan mengeklaim masyarakat mendukung tambang dan menjamin tidak […]

  • Gebyar Pasar Murah Ternate: Gubernur Maluku Utara Berikan 10.000 Paket Sembako Murah

    Gebyar Pasar Murah Ternate: Gubernur Maluku Utara Berikan 10.000 Paket Sembako Murah

    • calendar_month Minggu, 23 Mar 2025
    • account_circle Fairy Sinta
    • visibility 423
    • 0Komentar

    Ternate, (22/3/25) – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe menggelar Gebyar Pasar Murah di Ternate untuk menyambut Ramadan 1446 H. Program ini merupakan bagian dari Safari Ramadan yang sebelumnya juga telah dilaksanakan di beberapa kabupaten di Maluku Utara. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Maluku Utara menginisiasi kegiatan ini dengan menyediakan […]

  • Spiritual Anak Rantau; Menjemput Ramadhan

    Spiritual Anak Rantau; Menjemput Ramadhan

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Kasman j. Momole
    • visibility 345
    • 0Komentar

    Ramadhan adalah rangkaian aktivitas yang penuh dengan berbagai bentuk ibadah, baik pada ranah teologis, psikologis, maupun sosial. Secara teologis, Ramadhan menegaskan ketaatan manusia dalam menjalankan perintah agama. Secara psikologis, Ramadhan melatih jiwa agar lebih tertib dan tenang. Secara sosial, Ramadhan menguatkan silaturahmi dan menumbuhkan kepekaan terhadap sesama. Secara teologis, puasa telah ditegaskan dalam firman Allah […]

expand_less