Menasehati Gubernur
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 72
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis Wakil Dekan II FUAD IAIN Ternate & Ketua Forum Keberagaman Nusantara Malut ilustrasi : Pexels
Menasehati Gubernur
Ali bin Abi Thalib berkata: “hai saudara Malik sang Gubernur Mesir” saya telah mengirimkan engkau ke satu daerah yang telah memiliki pemerintahan sebelumnya. Gubernur sebelumnya ada yang adil dan banyak juga yang zalim terhadap rakyatnya. Rakyat akan memperhatikan tindakanmu sebagaimana mereka telah memperhatikan tindakan para Gubernur sebelum kamu. Kritikan rakyat atas kamu tidak akan terbendung, seperti kamu juga melakukan kritikan balik kepada rakyatmu. Engkau terpilih dalam pemilihan Gubernur benar berdasarkan suara terbanyak—tidak ada manipulasi suara rakyatmu. Tapi, ingat bahwa banyak juga suara rakyatmu yang tidak memberikan pilihan politiknya kepadamu.
Wahai Gubernur, begitu engkau sudah terpilih menjadi seorang Gubernur, maka engkau adalah Gubernur rakyatmu—kamu bukanlah Gubernur keluargamu, kolegamu dan Gubernur timmu. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang baik itu dikenal dari keharuman namanya yang diedarkan lewat lidah rakyatmu sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika suatu saat nanti engkau tidak lagi menjadi Gubernur. Maka dari itu, perbendaharaan yang harus engkau kumpulkan sebagai Gubernur adalah amal shalehmu—bukan memperbanyak harta kekayaanmu. Karena itu, kendalikanlah hawa nafsumu dan tahanlah hatimu dari berbuat sesuatu yang tidak boleh kamu lakukan secara sembunyi-sembunyi sebagai Gubernur. Biasakanlah hatimu untuk terpaut menyanyagi rakyatmu. Janganlah engkau berdiri di atas rakyatmu seperti layaknya binatang buas-rakus yang ingin menerkam binatang lainnya.
Wahai Gubernur, ada dua jenis rakyatmu: satu saudaramu dalam agama dan satu lagi saudaramu sebagai sesama makhluk Tuhan. Jika sewaktu-waktu mereka dapat berbuat salah kepadamu, baik sengaja atau tidak sengaja. Ulurkanlah maafmu sebagaimana Tuhan selalu mengulurkan ampunan kepadamu. Mereka berada di bawah kamu dan kamu berada di bawah imam kamu, dan Tuhan berada di atas dia yang menghendaki kamu menjadi Gubernur. Apalagi jabatan Gubernur itu hanya lima tahun, dan jika kamu terpilih kembali pada pemilihan selanjutnya, maka kamu hanyalah berkuasa menjadi Gubernur selama sepuluh tahun—dua periode saja.
Wahai Gubernur, janganlah menempatkan dirimu melawan Tuhan Yang Maha Kuasa, karena pada hakikatnya kamu tidak mempunyai kekuasaan di hadapan kekuasaan-Nya. Kamu tidak dapat berbuat banyak dalam kebijakanmu tanpa kasih- sayang Tuhan. Jangan menyesal karena telah memaafkan kesalahan rakyatmu. Jangan menaruh iba ketika menghukum bawahanmu. Janganlah bertindak tergesa-gesa ketika kamu marah. Janganlah berkata: ‘saya telah diberikan kekuasaan, karena itu saya harus dipatuhi oleh kalian semua ketika saya memerintah,’ karena hal itu akan menimbulkan kebingungan dalam hatimu, melemahkan rasa beragamamu dan membawa rakyatmu kepada kehancuran.
Wahai Gubernur, jika kekuasaan menimbulkan rasa sombong pada dirimu, perhatikanlah kebesaran Tuhan di atas kamu. Berbuatlah adil karena Allah Swt—Tuhan Yang Maha Adil. Dengan berbuat adil kepada rakyatmu, walaupun itu bertentangan dengan kepentinganmu, kepentingan orang-orang yang dekat denganmu—atau kepentingan orang-orang yang kamu sukai. Jika kamu tidak sanggup berbuat adil kepada rakyatmu, maka kamu menjadi Gubernur penindas rakyatmu. Bila kamu menindas makhluk Tuhan—bukan saja makhluk-Nya, tetapi Tuhan pun akan menjadi musuh kamu. Bila kamu sudah bermusuhan dengan Tuhan, maka Tuhan akan menghancurkan kekuasaanmu secepat kilat bahkan lebih cepat dari itu. Kamu akan benar-benar berperang dengan Tuhan sampai kamu harus bertobat kepada Tuhan-Mu sebelum kamu wafat. Karena tidak ada yang lebih cepat dalam menghalangi karunia Tuhan dan mempercepat datangnya hukuman Tuhan—murka Tuhan selain kamu melakukan penindasan kemanusiaan. Karena Tuhan paling cepat mendengarkan do’anya orang-orang yang tertindas dan Tuhan senantiasa siap menghukum para Gubernur yang hobi dalam menindas rakyatnya. Wallahu ‘alam bishshawab.
- Penulis: Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis Wakil Dekan II FUAD IAIN Ternate & Ketua Forum Keberagaman Nusantara Malut
- Editor: Tim Redaksi Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar