Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Tanah Yang Dirampas, Kriminalisasi Rakyat

Tanah Yang Dirampas, Kriminalisasi Rakyat

  • calendar_month Senin, 30 Jun 2025
  • visibility 882
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Dalam konteks ini, Jeffrey Winters menceritakan dalam bukunya yang berjudul Oligarchy (2011) menyebut bahwa oligarki bukan hanya sekadar soal kepemilikan kekayaan tetapi tentang kekuasaan untuk melindungi kekayaan melalui kontrol atas negara. Pemilu menurut Winters, menjadi satu mekanisme penting bagi oligarki untuk memastikan bahwa negara tetap bekerja untuk melayani dan menjaga kepentingan mereka.

Indonesia telah bergeser jauh dari sekadar perdebatan ide dan program kerja dan kini telah menjadi konsolidasi modal dan kuasa, seperti yang kita ketahui saat ini dimana sektor-sektor ekonomi strategis, terutama pertambangan telah menjadi ajang rebutan utama elite politik dan oligarki. Seperti yang dikatakan oleh Richard Robison dan Vedi R. Hadiz dalam Reorganising Power in Indonesia (2004), pasca Orde Baru demokrasi di Indonesia bukan membubarkan oligarki lama, justru membuka jalan untuk konsolidasi antara elite politik dan elite bisnis menjadi simpul-simpul strategis bagi para kepentingan bisnis dan kekuasaan. Karena sektor tambang karakteristiknya yang padat modal, padat teknologi, berisiko tinggi, namun sangat menguntungkan sehingga menjadi simpul strategis di mana kepentingan bisnis dan kekuasaan menjalin hubungan dengan secara erat.

Semangat membakar api perlawanan harus dibangun dari bawah, dari kampung-ampung yang terampas, dari sungai-sungai yang tercemar. Kalau negara dan pasar telah berpihak pada tambang, maka suara rakyat dari kampung-kampunglah yang harus kita dengarkan dan bela. Sebab, kekuasaan oligarki bertahan bukan hanya semata-mata karena kekayaan tetapi karena kemampuan membentuk dan mengendalikan institusi politik. Seperti yang diingatkan oleh Jeffrey Winters bahwa negara tidak netral, melainkan menjadi alat yang efektif agar memastikan bahwa kekayaan alam terus-menerus di eksploitasi tanpa ada hambatan sosial maupun politik.

Maka, terus nyalakan api perlawanan karena di tengah ketiadaan keberpihakan elit, rakyat tak punya pilihan lain selain bertahan. Perlawanan terhadap ekstraktivisme adalah perlawanan untuk hidup, untuk air bersih, untuk ruang hidup yang adil dan lestari. Karena negara absen, maka sudah saatnya warga yang harus membentuk bentengnya sendiri. Perlawanan warga terhadap tambang bukan hanya sekadar soal konflik lokal, melainkan upaya untuk menyelamatkan masa depan ekologis bangsa serta anak, cucu di masa mendatang. Seperti yang dikatakan David Harvey, bentuk-bentuk baru akumulasi kapital selalu menciptakan “accumulation by dispossession” perampasan hak dan ruang hidup untuk keuntungan segelintir.

Sebagaimana juga yang dikatakan Naomi Klein dalam This Changes Everything (2014), perjuangan melawan ekstraktivisme adalah perjuangan untuk masa depan bersama, masa depan yang tidak bisa dibangun di atas kehancuran ekologi dan penderitaan manusia.

  • Penulis: Mursid Ruko
  • Editor: Tim Redaksi Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mahasiswa BEM Universitas Pasifik Unipas Morotai melakukan aksi penanaman mangrove di pesisir Pulau Dodola.

    Jaga Ekosistem Pesisir Pasifik, BEM Unipas Tanam Mangrove di Pulau Dodola

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 344
    • 0Komentar

    MOROTAI, BALENGKO SPACE – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Pasifik (BEM Unipas) Morotai menunjukkan kepedulian nyata terhadap kelestarian lingkungan pesisir. Pada Minggu (29/04/2026), gabungan mahasiswa yang tergabung dalam BEM se-Unipas melaksanakan gerakan penanaman mangrove di pesisir pantai Pulau Dodola, Kabupaten Pulau Morotai. Aksi lingkungan ini melibatkan kolaborasi lintas fakultas, mulai dari BEM FKIP, BEM Teknik, BEM […]

  • Source : Istimewa

    Kemiskinan yang Tak Kunjung Usai di Lombok Timur: Pembangunan untuk Siapa?

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Azka Irfani
    • visibility 744
    • 0Komentar

    Masalah lain yang tak kalah serius adalah ketimpangan akses pendidikan. Kemiskinan di Lombok Timur bukan hanya diwariskan melalui kondisi ekonomi, tetapi juga melalui keterbatasan kesempatan belajar. Anak-anak dari keluarga miskin sering kali terpaksa mengubur mimpi untuk melanjutkan pendidikan tinggi karena alasan biaya dan akses. Akibatnya, lingkaran kemiskinan terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya. […]

  • GEMPUR Yogyakarta Desak Kapolri Copot Kapolda Malut Aksi di Polda DIY

    GEMPUR Yogyakarta Desak Kapolri Copot Kapolda Malut dan Kapolres Halteng

    • calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 80
    • 0Komentar

    BALENGKOSPACE.COM, YOGYAKARTA – Gelombang perlawanan atas lambannya penegakan hukum dan dugaan represivitas aparat di Maluku Utara menggema hingga ke Kota Pelajar. Aliansi Generasi Muda Kepulauan Rempah (GEMPUR) D.I. Yogyakarta menggelar aksi unjuk rasa di depan Mapolda DIY, Selasa (29/09/2026). Massa yang terdiri dari mahasiswa, pemuda asal Maluku Utara, unsur Ikatan Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPM), serta […]

  • Irfandi R. Hi Mustafa Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara Wakil Sekretaris GP Ansor Maluku Utara

    FALSAFAH KIE RAHA DAN KARAKTER MERDEKA

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Irfandi R. Hi Mustafa Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara Wakil Sekretaris GP Ansor Maluku Utara
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Pendidikan sering kali terjebak dalam jebakan mekanistik, mereduksi manusia menjadi sekadar angka-angka statistik, rapor kuantitatif, dan pencetak tenaga kerja siap pakai demi roda industri global. Padahal, jauh sebelum istilah “Merdeka Belajar” bergema di ruang-ruang birokrasi modern, nusantara kita telah memiliki ekosistem nilai yang mandiri dan berdaulat. Di bumi Maluku Utara, warisan luhur Kie Raha (Empat […]

  • Massa aksi BATOMA Jabodetabek membawa poster dan spanduk penolakan rasisme saat menggelar aksi di depan Komnas HAM RI, Jakarta.

    BATOMA Datangi KemenHAM dan Komnas HAM, Tuntut Negara Hentikan Rasisme terhadap Yakob dan Yance Sayuri

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 517
    • 0Komentar

    TUNTUTAN : 1. Mendesak Komnas HAM RI untuk segera menyelidiki secara independen dan terbuka rangkaian tindakan rasisme terhadap Yakob Sayuri dan Yance Sayuri, termasuk ujaran rasis seperti “monyet”, “hitam”, “keriting”, dan “penghuni hutan” yang berulang kali muncul di ruang publik dan media sosial. 2. Menuntut negara melalui Kemenham RI untuk memberikan perlindungan HAM yang nyata […]

  • DOB Kabupaten Kepulauan Obi: Masyarakat Joronga Desak Integrasi Demi Pembangunan

    DOB Kabupaten Kepulauan Obi: Masyarakat Joronga Desak Integrasi Demi Pembangunan

    • calendar_month Minggu, 27 Apr 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 559
    • 0Komentar

    Ternate, 27 April 2025 – Fahrul Abd Muid (Direktur Bajo Institut Maluku Utara) dan Rahim Yasim (Mantan Staf Khusus Bupati Halmahera Selatan) mendesak pemerintah memasukkan Kecamatan Kepulauan Joronga ke dalam Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Kepulauan Obi. Mereka menilai, integrasi ini akan mempercepat pembangunan dan mempermudah pelayanan publik bagi warga Joronga. Fahrul menegaskan, jarak geografis Joronga lebih dekat ke Obi daripada ke pusat […]

expand_less