ARGUMEN TITIK TEMU AGAMA-AGAMA
- calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
- visibility 258
- comment 0 komentar
- print Cetak

[Kajin Tafsir Maudhu’i] Oleh: Fahrul Abd Muid Adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua PW. GP. Ansor Maluku Utara Gambar Ilustrasi : Indonesiana.id
Ternyata, Nabi Muhammad Saw ingin mengajarkan kepada saya, anda, dan kita semua tentang keharusan mengedepankan etika dalam berdiskusi-berdialog-berdialektika yang harus kita saling menghargai pendapat orang lain-penganut agama lain. Karena boleh jadi pendapat yang anda kemukakan itu dalam berdiskusi-berdialog-berdialektika dapat mengandung kebenaran, tapi boleh jadi juga berkemungkinan mengandung kesalahan. Sedangkan pendapat orang lain itu salah, tapi berkemungkinan mengandung kebenaran. Jangan kemudian anda cepat-cepat menyalahkan pendapat orang lain dalam berdiskusi-berdialog-berdialektika pada forum dialog lintas iman-interfaith dialogue di Indonesia. Sama halnya dengan ungkapan dalam ayat Al-Qur’an ‘innaddiiina ‘inda Allah al-islami’-sesungguhnya agama Allah hanyalah Islam-apakah agama Islam yang paling benar ataukah agama Islam satu-satunya yang benar. Kalau dikatakan bahwa agama Islam yang paling benar berarti berkemungkinan agama yang lain juga benar-Kristen dan Yahudi. Tapi kalau dikatakan bahwa agama Islam hanya satu-satunya yang benar berarti agama yang lain pasti salah. Pemahaman keagamaan model inilah yang melahirkan kelompok agama-agama yang ekstremis-fundamentalis, radikalis dan teroris.
Atas dasar kesamaan esensial ini pada agama Islam, Kristen, dan Yahudi. Sehingga tidaklah mengherankan bila agama-agama tersebut kerap digolongkan sebagai tiga agama yang bersumber pada Ibrahim-Abrahamic. Frithjof Schuon menjelaskan bahwa agama monoteistis yang pada awalnya merupakan cabang kelompok agama semit, yang berasal dari Abraham, kemudian berkembang menjadi dua cabang keturunan, keturunan Nabi Ishaq dan keturunan Nabi Isma’il. Schoun melanjutkan bahwa pada zaman Nabi Musa, monoteisme ini mengambil bentuk agama Yahudi. Di saat mulai lunturnya agama Abraham-agama Nasrani di kalangan keturunan Nabi Isma’il, Musa-lah yang terus mengembangkan monoteisme tersebut. Nabi Musa menghubungkan monoteisme dengan bangsa Israel, dan karena itu menjadi pelindungnya, karena memang Nabi Musa adalah orang Yahudi.
Dari sisi persaudaraan-ukhuwwah basyariyyah, kekerabatan, dan persahabatan yang menurut pendapatnya Said Aqil Siradj, bahwa hubungan mesra agama Islam dan Kristen sebenarnya masih berada pada satu kesatuan trah dari seorang bapak yang sama yakni Nabi Ibrahim. Siradj melanjutkan, bahwa Kristen lahir sebagai agama samawi melalui Nabi ‘Isa, sedangkan agama Islam dikembangkan melalui jalur Nabi Muhammad Saw. Dua tokoh induk ini akan bertemu pada sosok Ibrahim, apabila ditelusuri silsilahnya, yaitu Nabi ‘Isa adalah keturunan Nabi Ishaq, salah seorang putra Nabi Ibrahim, yang kemudian menurunkan bani Israel-bangsa Yahudi putra-putri Nabi Ya’qub-asal-muasal agama Yahudi. Sementara Nabi Muhammad Saw adalah keturunan dari Nabi ‘Isma’il, saudara seayah dengan Nabi Ishaq, yang kemudian menurunkan bangsa Arab. Maka Islam adalah kelanjutan serta pelengkap dari episode sejarah agama-agama terdahulu. Kehadiran Islam tidak berarti menghapuskan ajaran agama-agama sebelumnya. Bahkan Al-Qur’an memberikan bukti nyata atas adanya penghargaan terhadap keselamatan pemeluk agama-agama pra-Islam. Justru kehadiran agama Islam untuk menguatkan pada aspek nilai-nilai kemanusiaan-al-insaniyyah dalam perjumpaan lintas iman-titik temu agama-agama di atas bumi. Mengedapankan nilai-nilai kemanusiaan oleh agama-agama sangatlah dicintai oleh Tuhan-Allah Swt karena semua agama adalah family-keluarga Tuhan.
- Penulis: Oleh: Fahrul Abd Muid Adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua PW. GP. Ansor Maluku Utara
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar