Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Polemik Larangan Film “Pesta Babi”: Menakar Hak Informasi dan Hikmah Teologis di Baliknya

Polemik Larangan Film “Pesta Babi”: Menakar Hak Informasi dan Hikmah Teologis di Baliknya

  • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
  • visibility 320
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Pada akhirnya, umat Islam perlu menyadari bahwa esensi pengharaman daging babi bukan semata-mata karena alasan medis—seperti keberadaan cacing pita yang berbahaya bagi kesehatan, melainkan merupakan bentuk ujian ketaatan mutlak (ta’abbudi) seorang hamba kepada Sang Pencipta. Ini adalah prinsip sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat).

Kebebasan Informasi dan “Pahala” Kebahasaan

Dalam ruang sosial, kita juga harus bijak memisahkan antara tindakan mengonsumsi dengan aktivitas memperoleh informasi. Menonton film atau dokumenter yang membahas mengenai “pesta babi” (misalnya tradisi adat atau budaya kuliner tertentu) tentu berbeda mutlak dengan memakan dagingnya. Di Indonesia, aktivitas menonton atau mendiskusikan fenomena tersebut sebagai bagian dari pengetahuan dilindungi oleh UUD 1945 terkait kebebasan memperoleh informasi. Secara hukum Islam pun, kedudukan menonton tayangan informatif tersebut adalah mubah, sepanjang terdapat pesan moral, hikmah, atau ilmu pengetahuan yang dapat dipetik di dalamnya.

Menariknya, jika kita berefleksi, nama kita sebagai manusia secara personal tidak tertulis di dalam Al-Qur’an, sedangkan kata al-khinzir diabadikan di dalamnya. Dari sudut pandang ibadah kebahasaan (tilawah), setiap kali seorang Muslim membaca ayat yang memuat kata al-khinzir, ia sedang melafalkan firman Allah.

Kata الخنزير (al-khinzir) terdiri dari 7 huruf, yaitu: alif, lam, kha, nun, zay, ya’, dan ra’. Berdasarkan hadis nabi bahwa setiap satu huruf Al-Qur’an yang dibaca bernilai satu kebaikan yang dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala, maka membaca kata al-khinzir dalam konteks mengaji satu kali saja sudah mendatangkan 70 kebaikan di sisi Allah SWT.

Dengan demikian, terbentuklah sebuah paradoks yang indah: umat Islam memang dilarang keras mengonsumsi dagingnya, namun di sisi lain, mereka meraih pahala spiritual yang melimpah saat membaca teks ayatnya dalam Al-Qur’an. Melalui perspektif ini, kita dapat melihat betapa luasnya hikmah Allah SWT dalam menciptakan segala sesuatu, di mana dari hal yang diharamkan pun, selalu ada jalan bagi manusia untuk mendulang kebaikan dan mempertebal keimanan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

  • Penulis: Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis Dosen FUAD IAIN Ternate & Ketua Forum Keberagaman Nusantara Maluku Utara
  • Editor: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Obat langka RSUD Jailolo

    Dasril Usman Dorong Pansus untuk Evaluasi Layanan dan Obat di RSUD Jailolo

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Jailolo (BALENGKO) – Persoalan ketersediaan obat di RSUD Jailolo kembali menuai sorotan tajam. Di tengah klaim peningkatan pendapatan rumah sakit, pelayanan justru dinilai belum menunjukkan perbaikan signifikan, terutama terkait kelangkaan obat. Anggota DPRD, Dasril Usman, mengkritik keras penjelasan Direktur RSUD Jailolo yang dinilai tidak transparan dan cenderung menutupi persoalan mendasar. Ia menyoroti adanya ketidaksesuaian dalam […]

  • Source : Istimewa

    Kemiskinan yang Tak Kunjung Usai di Lombok Timur: Pembangunan untuk Siapa?

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Azka Irfani
    • visibility 678
    • 0Komentar

    Masalah lain yang tak kalah serius adalah ketimpangan akses pendidikan. Kemiskinan di Lombok Timur bukan hanya diwariskan melalui kondisi ekonomi, tetapi juga melalui keterbatasan kesempatan belajar. Anak-anak dari keluarga miskin sering kali terpaksa mengubur mimpi untuk melanjutkan pendidikan tinggi karena alasan biaya dan akses. Akibatnya, lingkaran kemiskinan terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya. […]

  • Wakil Gubernur Maluku Utara KH. Sarbin Sehe memimpin upacara penurunan bendera HUT RI ke-80 di Sofifi

    Suasana Penuh Nasionalisme, Wagub Maluku Utara Pimpin Penurunan Bendera di Sofifi

    • calendar_month Minggu, 17 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 540
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE – SOFIFI, Minggu (17/8/2025) – Wakil Gubernur Maluku Utara KH. Sarbin Sehe memimpin langsung upacara penurunan bendera dalam rangka peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia. Prosesi berlangsung di halaman Kantor Gubernur Sofifi pukul 17.30 WIT dengan suasana khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Forkopimda dan Ketua DPRD Provinsi Maluku Utara hadir mendampingi jalannya upacara.  Kehadiran […]

  • DLH Morotai Belum Turun Lapangan, Alat Berat Sudah Rambah 2 Hektare Lahan di Desa Bido.

    DLH Morotai Belum Turun Lapangan, Alat Berat Sudah Rambah 2 Hektare Lahan di Desa Bido.

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 252
    • 0Komentar

    Aktivitas pembukaan lahan seluas 2 hektare di Desa Bido, Kecamatan Morotai Utara, menuai sorotan. Meski alat berat sudah beroperasi untuk penggalian, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pulau Morotai mengaku belum turun ke lapangan maupun memeriksa dokumen lingkungan kegiatan tersebut. Kepala DLH Pulau Morotai, Djasmin Taher, menyebut pihaknya baru menerima informasi bahwa lahan itu akan dipakai […]

  • Ketika Adzan Bersahut di Negeri Konflik: Makna Ramadhan Bagi Dunia Islam Yang Terbelah

    Ketika Adzan Bersahut di Negeri Konflik: Makna Ramadhan Bagi Dunia Islam Yang Terbelah

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Subhan Samsudin
    • visibility 238
    • 0Komentar

    Bayangkan sebuah kota yang setiap senjanya dipenuhi gema adzan, tetapi di saat yang sama langitnya diterangi bukan oleh cahaya magrib, melainkan kilatan ledakan. Analogi ini bukan sekadar retorika puitis, melainkan realitas yang masih terjadi di sejumlah wilayah dunia Islam. 

  • bendera-one-piece

    Tanggapan Nakama Ternate soal Bendera One Piece

    • calendar_month Minggu, 3 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.222
    • 0Komentar

    Ia menambahkan bahwa nasionalisme tidak melulu harus ditunjukkan lewat simbol formal, tetapi juga bisa melalui narasi budaya populer (pop culture) yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Terkait apakah pengibaran bendera tersebut menjadi bentuk kekecewaan terhadap negara, Ariyo mengakui hal itu mungkin terjadi. “Bisa jadi itu bentuk luapan emosi karena belum merasa didengar. Tapi bukan berarti […]

expand_less