Ketika Reformasi Telah Menjadi Reformati, Revolusi Total Adalah Panggilan Hidup
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 96
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ain Dadong_Bidang PTKP HMI Cabang Yogyakarta | Source : Istimewa
Elite menggunakan media, lembaga pendidikan, agama, dan bahkan institusi penegak hukum untuk membenarkan ketimpangan tersebut seolah olah itu adalah takdir atau hasil kerja keras semata. Rakyat dibuai dengan janji janji populis, bantuan sosial menjelang pemilu, dan narasi narasi pembangunan infrastruktur yang megah, sementara hak hak dasar mereka perlahan dilucuti. Fakta berbicara dengan sangat telanjang. Ketimpangan ekonomi di Indonesia adalah salah satu yang terburuk. Berdasarkan berbagai laporan lembaga ekonomi internasional dan data Credit Suisse beberapa waktu silam, 1% populasi terkaya di Indonesia menguasai lebih dari 40% kekayaan nasional. Empat orang terkaya di Indonesia memiliki kekayaan setara dengan harta 100 juta penduduk termiskin. Sementara itu, Indeks Demokrasi Indonesia terus merosot. Kebebasan berekspresi ditekan, kritik dibungkam dengan undang undang transaksi elektronik, dan represi aparatur negara terhadap aksi protes terkait konflik agraria masih terus terjadi. Pemikir Yudi Latif berulang kali mengingatkan bahwa kita telah gagal membumikan Sila Kelima Pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Di saat yang sama, Franz Magnis Suseno menyoroti terjadinya kebangkrutan etika dalam politik kita. Etika publik telah dikesampingkan demi pragmatisme kekuasaan. Hal ini paling nyata terlihat pada munculnya dinasti dinasti politik di berbagai tingkatan, sebuah fenomena yang mengingatkan kita pada teguran keras Pramoedya Ananta Toer tentang perlunya membunuh mentalitas feodalisme agar bangsa ini bisa benar benar modern dan merdeka. Namun sayangnya, feodalisme itu kini dihidupkan kembali dengan jubah demokrasi.
- Penulis: Ain Dadong_Bidang PTKP HMI Cabang Yogyakarta

Saat ini belum ada komentar