Generasi Digital di Persimpangan: Menyelamatkan Anak dari Kecanduan Layar
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh: Nasir M. Ali (Pegawai Kementerian Haji Kota Ternate) . Ilustrasi : Pexels
Di rumah, aturan akan kehilangan wibawa apabila orang tua meminta anak meletakkan gawai sambil terus memeriksa teleponnya sendiri. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, melainkan dari apa yang dilakukan orang dewasa. Meja makan tanpa gawai, kamar tidur bebas perangkat, aktivitas keluarga, olahraga, membaca bersama, dan percakapan harian merupakan bentuk pendidikan digital yang paling konkret.
Mengembalikan Dunia Anak
Mengurangi penggunaan gawai tidak cukup dilakukan dengan larangan. Anak membutuhkan sesuatu yang lebih menarik untuk menggantikan layar: halaman yang aman, ruang bermain, taman, perpustakaan, kegiatan olahraga, komunitas seni, permainan tradisional, dan kehadiran orang dewasa yang bersedia mendengarkan.
Larangan tanpa alternatif hanya akan memindahkan konflik dari layar ke ruang keluarga.
Keberhasilan kebijakan pembatasan gawai jangan hanya diukur dari jumlah telepon yang disimpan di lemari sekolah. Ukurlah dari bertambahnya waktu tidur anak, membaiknya konsentrasi, hidupnya halaman sekolah, kembalinya percakapan di meja makan, serta tumbuhnya persahabatan yang tidak bergantung pada tanda suka dan jumlah pengikut. Anak-anak tidak boleh kehilangan teknologi. Namun, mereka juga tidak boleh kehilangan masa kecil karena teknologi. Di tengah dunia yang semakin digital, tugas kita bukan menjauhkan anak sepenuhnya dari layar. Tugas kita adalah memastikan layar tetap menjadi alat di tangan anak—bukan anak yang perlahan-lahan menjadi tawanan layar.
- Penulis: Nasir M. Ali (Pegawai Kementerian Haji Kota Ternate)
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar